Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru University of Oslo menunjukkan, satu sisi Bumi, tepatnya bagian bawah benua Afrika mendingin lebih cepat dibandingkan sisi lain. Fenomena ini terjadi jauh di bawah permukaan, pada lapisan yang memisahkan mantel dan inti Bumi.
Pendinginan tidak merata ini dapat memengaruhi dinamika internal planet. Hal itu juga berdampak secara jangka panjang pada aktivitas geologi.
Lapisan yang disebut core mantle boundary memiliki struktur mineral yang berbeda di berbagai lokasi. Di bawah Afrika, komposisi mineral membuat panas dari inti lebih mudah keluar, sehingga area ini kehilangan panas lebih cepat. Sementara itu, wilayah di bawah Samudra Pasifik cenderung menahan panas lebih lama.
Perbedaan aliran panas dapat memengaruhi konveksi mantel, yakni gerakan naik-turunnya material panas di dalam Bumi. Konveksi inilah yang menggerakkan lempeng tektonik. Pendinginan lebih cepat di satu sisi memicu ketidakseimbangan yang dapat mengubah pola pergerakan lempeng dalam jangka panjang.
Laju pendinginan yang berbeda berpotensi mengubah jalur naiknya magma dari kedalaman mantel. Jika area tertentu kehilangan panas lebih cepat, kolom magma dapat muncul di lokasi baru atau justru melemah di wilayah yang sebelumnya aktif.
Ketidakseimbangan ini juga dapat memengaruhi distribusi tekanan tektonik yang berhubungan dengan gempa bumi.
Inti luar Bumi yang cair menghasilkan medan magnet yang melindungi planet dari radiasi matahari. Pendinginan yang lebih cepat dapat mempercepat pembekuan inti dalam.
Jika ini terjadi lebih cepat dari perkiraan, kekuatan medan magnet bisa ikut berubah. Penurunan atau fluktuasi intensitas magnetik dapat memengaruhi sistem navigasi, komunikasi satelit, hingga paparan radiasi di atmosfer.
Pendinginan inti tidak terjadi dalam hitungan tahun, tetapi jutaan tahun. Namun pola perbedaan pendinginan ini memberi petunjuk penting tentang evolusi jangka panjang planet kita.
Informasi ini membantu ilmuwan memahami masa depan aktivitas tektonik, kestabilan medan magnet, dan bagaimana Bumi terus berubah dari waktu ke waktu.
Meskipun dampaknya tidak langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari, penelitian ini menjadi pengingat bahwa planet kita bukanlah benda statis. Bumi terus bergerak, berubah, dan berevolusi, sering kali dengan cara yang tidak terlihat, namun menentukan keberlanjutan kehidupan di permukaannya.
Sumber: iflscience.com, popularmachines.com
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena astronomi langka akan menyapa langit Bumi pada akhir Februari 2026 lewat peristiwa yang dikenal sebagai parade enam planet.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved