Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH penelitian terbaru menantang anggapan lama bahwa dinosaurus sudah mengalami kemunduran jauh sebelum punah akibat hantaman asteroid raksasa 66 juta tahun lalu. Temuan ini menunjukkan bahwa hewan purba tersebut justru masih berkembang dengan baik hingga sesaat sebelum bencana besar itu terjadi.
Sekitar 66 juta tahun silam, di penghujung periode Kapur (Cretaceous), sebuah batuan luar angkasa berukuran besar menabrak Bumi dan memicu kepunahan massal yang menghapus seluruh dinosaurus non-unggas. Selama bertahun-tahun, sejumlah ahli meyakini bahwa populasi dinosaurus memang telah menurun sebelum peristiwa tersebut. Namun penelitian baru dari tim ilmuwan di New Mexico State University memberikan bukti sebaliknya.
“Berdasarkan penelitian baru kami, setidaknya di Amerika Utara, dinosaurus tidak menunjukkan tanda-tanda menuju kepunahan,” ujar Dr. Andrew Flynn, penulis utama studi tersebut.
Dalam laporan yang diterbitkan di jurnal Science, Flynn dan rekan-rekannya menjelaskan bagaimana mereka meneliti lapisan batuan Naashoibito Member di cekungan San Juan, New Mexico, dengan dua metode penanggalan ilmiah.
Metode pertama menganalisis rasio dua isotop argon dalam kristal batuan untuk menentukan usia maksimum pembentukannya. Metode kedua melihat arah partikel magnetik di dalam batuan, yang merekam orientasi medan magnet Bumi ketika lapisan itu terbentuk.
Flynn menjelaskan bahwa peristiwa kepunahan global terjadi “tepat di tengah periode singkat ketika kutub magnet Bumi sedang berbalik arah”. Berdasarkan hasil analisis, lapisan batuan tempat ditemukannya fosil dinosaurus termuda terbentuk sekitar 350.000 tahun sebelum peristiwa kepunahan massal.
“Ini adalah dinosaurus terakhir di wilayah selatan Amerika Utara,” kata Flynn.
Temuan ini menegaskan bahwa dinosaurus pada masa itu masih beragam dan tersebar luas, bukan sedang menurun jumlahnya.
“Tidak ada satu jenis komunitas dinosaurus seragam di Amerika Utara yang membuat mereka rentan punah,” tambah Flynn.
Menurutnya, meskipun beberapa spesies memang hidup di wilayah utara dan selatan seperti Tyrannosaurus rex, terdapat pula perbedaan mencolok yang mencerminkan variasi iklim di masing-masing daerah.
Prof. Steve Brusatte dari University of Edinburgh, yang turut menulis penelitian ini, menjelaskan bahwa di bagian utara Amerika terdapat banyak triceratops bertanduk dan dinosaurus bebek standar seperti edmontosaurus. Sementara di bagian selatan, hidup dinosaurus bebek berjambul rumit dan sauropoda berleher panjang raksasa.
“Tidak ada tanda-tanda bahwa dinosaurus ini sedang bermasalah atau mengalami penurunan populasi jangka panjang,” ujar Brusatte.
Salah satu spesies terbesar di wilayah selatan adalah alamosaurus, dinosaurus sepanjang hampir 30 meter dengan berat melebihi Boeing 737.
Flynn menambahkan, anggapan bahwa keragaman dinosaurus menurun bisa jadi muncul karena jumlah lapisan batuan dari akhir periode Kapur yang tersingkap di permukaan sangat sedikit, sehingga fosil dari masa itu juga lebih jarang ditemukan.
“Sejauh yang kami tahu, tidak ada alasan lain mereka punah selain karena hantaman asteroid itu,” katanya.
Penelitian ini juga mendapat sambutan positif dari Prof. Michael Benton dari University of Bristol, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.
“Temuan tentang dinosaurus yang masih bertahan di masa akhir Kapur di New Mexico sangat menarik, dan menunjukkan bahwa setidaknya di satu wilayah, keanekaragaman dinosaurus masih tinggi,” ujarnya.
Namun, Benton menilai bahwa penelitian tersebut masih terbatas karena hanya berfokus pada satu lokasi, sehingga belum dapat menggambarkan kondisi keseluruhan populasi dinosaurus di Amerika Utara, apalagi di seluruh dunia. Ia menambahkan bahwa, secara umum, memang terdapat penurunan populasi dinosaurus menjelang akhir periode Kapur, meskipun di beberapa wilayah dengan iklim yang lebih mendukung, tingkat keanekaragaman spesies masih tetap tinggi.
Temuan ini menambah bukti kuat bahwa kepunahan dinosaurus bukan karena proses alami yang lambat, melainkan akibat bencana kosmik mendadak yang mengubah wajah kehidupan di Bumi selamanya.
Sumber: The Guardian
Mineral ini hanya dapat terbentuk akibat tekanan sangat tinggi seperti yang terjadi saat asteroid menghantam Bumi, sehingga menjadi bukti kuat bahwa Silverpit terbentuk akibat tumbukan.
NASA secara resmi telah menepis segala kemungkinan mengenai potensi hantaman asteroid 2024 YR4 terhadap Bulan pada tahun 2032 mendatang.
Asteroid yang diberi kode 2026 EG1 mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada pukul 23:27 EDT (03:27 GMT, 13 Maret).
Eksperimen luar angkasa yang dilakukan oleh NASA melalui misi Double Asteroid Redirection Test (DART) menghasilkan temuan penting.
Menurut laporan NASA, asteroid tersebut pertama kali terdeteksi pada 8 Maret 2026. Meski terbilang kecil, pergerakannya tetap dipantau karena lintasannya membawa objek itu melintas
Eksperimen tersebut mendorong asteroid Dimorphos, yang merupakan bulan kecil, ke jalur yang lebih pendek dan lebih cepat mengelilingi saudaranya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved