Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMET antarbintang 3I/ATLAS tertangkap kamera tengah memancarkan semburan dramatis berupa es dan debu ke angkasa. Fenomena ini terjadi ketika bagian permukaannya mulai memanas akibat paparan sinar Matahari.
Dalam citra komposit terbaru, tampak inti komet, bagian pusat yang terdiri dari batuan dan es, sebagai titik hitam besar yang dikelilingi cahaya putih, disebut coma atau atmosfer komet. Semburan material yang berwarna ungu dalam gambar itu terlihat mengarah ke Matahari, perilaku yang umum terjadi pada komet di tata surya.
3I/ATLAS merupakan objek antarbintang ketiga yang diketahui pernah melintasi tata surya kita. Komet ini sedang melaju cepat menuju titik terdekatnya dengan Matahari pada 30 Oktober mendatang.
Saat itu, 3I/ATLAS akan berada sekitar 1,8 satuan astronomi (AU) dari Bumi. Jarak yang cukup dekat untuk dapat diamati dengan teleskop kecil sebelum akhirnya kembali menjauh ke kegelapan luar angkasa.
Informasi mengenai semburan tersebut diterbitkan pada 15 Oktober melalui Astronomer’s Telegram, forum resmi komunitas astronomi yang dipimpin Robert Rutledge, profesor di Universitas McGill, Montreal.
Rekaman semburan diambil pada 2 Agustus menggunakan Two-meter Twin Telescope di Observatorium Teide, Tenerife, Kepulauan Canary. Gambar itu merupakan hasil gabungan dari 159 eksposur berdurasi 50 detik masing-masing.
“Ini adalah hal yang normal,” kata Miquel Serra-Ricart, astrofisikawan sekaligus Kepala Sains di lembaga riset swasta Light Bridges, yang ikut mengelola Observatorium Teide, kepada Live Science melalui email.
Serra-Ricart, yang mengunggah citra tersebut, menegaskan bahwa hasilnya belum melalui proses penelaahan sejawat (peer review). Ia juga menambahkan bahwa ekor komet terlihat menjauh dari Matahari, perilaku khas objek es di tata surya.
Komet seperti 3I/ATLAS memanas secara tidak merata saat mendekati Matahari. Bagian yang menghadap langsung ke Matahari akan memanas lebih cepat. Jika ada area lemah di permukaannya, gas yang terperangkap di bawah lapisan es dapat menyembur keluar membentuk jet atau semburan gas.
Serra-Ricart memperkirakan panjang semburan itu mencapai 10.000 kilometer, lebih dari dua kali lebar benua Amerika Serikat bagian utara. Jet tersebut kemungkinan mengandung karbon dioksida dan partikel debu, mirip dengan yang pernah diamati oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA pada Agustus lalu.
Seiring rotasi komet, sebagian material dari semburan akan tetap berada di coma, sementara sisanya terdorong ke ekor komet oleh tekanan angin Matahari. Fenomena serupa juga terlihat pada komet C/2020 F3 NEOWISE yang sempat tampak dengan mata telanjang pada 2020. (Space/Z-2)
Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menarik perhatian setelah pengamatan terbaru menunjukkan adanya kemungkinan letusan gunung es atau kriovolkano di permukaannya.
Tidak ada alasan untuk meyakini bahwa jumlah ISO yang memasuki Tata Surya kita lebih sedikit daripada sebelumnya. Artinya, mereka menimbulkan risiko dampak bagi Bumi.
Astronom mendeteksi sinyal radio pertama dari komet antarbintang 3I/ATLAS. Meski sempat dikaitkan dengan teori alien, ternyata sinyal itu berasal dari proses alami di inti komet.
NASA menjelaskan perubahan warna tersebut disebabkan emisi gas dari inti komet yang memecah molekul karbon dan hidrogen saat terkena sinar Matahari.
Minat ilmuwan dan publik dunia tengah tertuju pada komet antarbintang 3I/ATLAS yang menunjukkan perilaku tidak biasa saat melintas di sekitar Tata Surya.
Profesor Harvard Avi Loeb memicu perdebatan setelah menyebut komet antarbintang 3I/ATLAS menunjukkan percepatan non-gravitasi misterius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved