Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan membuat terobosan baru untuk memahami aurora, atau dikenal sebagai fenomena cahaya yang sering terlihat di langit kutub. Kali ini, dengan menggunakan eksperimen KiNET-X NASA, mereka mensimulasikan kondisi aurora tersebut dalam sebuah laboratorium luar angkasa.
Eksperimen ini dilakukan karena meningkatnya aktivitas matahari, yang membuat aurora dapat terlihat di tempat, seperti Texas. Biasanya aurora akan cenderung terlihat di wilayah utara seperti Norwegia, Islandia, Kanada, dan Alaska.
Fenomena inilah yang kemudian memicu penelitian lebih lanjut untuk mengungkap proses fisika tersembunyi di balik tarian cahaya aurora.
Profesor Peter Delamere dari Universitas Alaska Fairbanks, salah satu ahli yang terlibat, menjelaskan memahami aurora adalah tantangan besar.
"Cahaya yang menyilaukan itu sangat rumit, banyak hal terjadi di lingkungan luar angkasa yang menciptakan fenomena ini, dan memahami kausalitasnya bukanlah hal yang mudah," ujarnya melansir dari SciTechDaily.com.
Eksperimen KiNET-X adalah misi yang dilakukan NASA menggunakan roket pada 16 Mei 2021 untuk mempelajari proses fisika di balik aurora. Aurora merupakan cahaya yang sering terlihat di langit kutub. Ketika partikel-partikel bermuatan listrik dari matahari berinteraksi dengan atmosfer bumi, sehingga menghasilkan cahaya yang berkilauan dan berwarna-warni.
Eksperimen ini diluncurkan dari Fasilitas Penerbangan Wallops di Virginia dengan menggunakan roket khusus yang membawa dua tabung berisi barium termit.
Setelah mencapai ionosfer atau lapisan atas atmosfer Bumi, tabung pertama akan meledak di ketinggian 249 mil, sementara tabung kedua meledak pada lintasan menurun di ketinggian 186 mil, dekat Bermuda. Pelepasan barium ini menciptakan awan plasma yang diamati oleh peralatan di darat dan pesawat NASA.
“Kami berhasil menciptakan kondisi fisik seperti dalam aurora," kata Delamere.
Meskipun tidak menghasilkan aurora nyata, eksperimen ini memberikan data penting tentang bagaimana elektron dipercepat. Eksperimen itu menghasilkan proses penting dalam pembentukan aurora yang terlihat di langit.
"Kami belum menciptakan cukup elektron untuk menghasilkan cahaya aurora. Meski begitu, dasar fisika dari energi elektron telah kami temukan," tambahnya.
Lebih lanjut, salah satu fokus eksperimen ini adalah menciptakan gelombang Alfven, sebuah jenis gelombang plasma bermagnet yang ditemukan di banyak bagian tata surya, termasuk magnetosfer Bumi. Gelombang ini dihasilkan melalui gangguan plasma dengan injeksi barium.
Saat barium terionisasi oleh sinar matahari, dua awan plasma akan terbentuk dan saling berinteraksi menciptakan gelombang Alfven.
Gelombang tersebut mentransfer energi dan momentum ke plasma sekitar, sehingga mempercepat elektron di sepanjang garis medan magnet Bumi.
"Ini seperti melihat analog sinar aurora," kata Delamere, yang turut menggambarkan hasil eksperimen sebagai “titik data emas”.
Melalui fokus tersebut ditemukan data petunjuk tentang proses yang memungkinkan partikel menciptakan gelombang cahaya aurora yang menari.
Hasil eksperimen ini membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut. Delamere menyebutkan bahwa eksperimen KiNET-X merupakan salah satu hal yang dapat membuat keberhasilan besar dalam upaya menyatukan potongan-potongan teka-teki aurora.
Dengan menggabungkan data eksperimen KiNET-X dan simulasi komputer, para ilmuwan semakin mudah untuk memahami fenomena alam ini. (Youtube KiNET-X/scitechdaily/Earth/Z-3)
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Melalui program Send Your Name to Space with Artemis II, siapa pun kini bisa mengirimkan nama mereka untuk mengorbit Bulan secara simbolis pada misi berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun.
Panduan lengkap cara mengirim nama ke Bulan melalui misi NASA Artemis 2. Pelajari prosedur, teknologi microchip, dan batas waktu pendaftaran 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved