Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era digital ini, penggunaan aplikasi di gawai menjadi bagian dari keseharian kita. Mulai dari pesan ojek, belanja daring, hingga membayar beragam tagihan bisa dilakukan lewat aplikasi. Tinggal klik-klik, berbagai urusan pun beres. Memang serba mudah, tapi kemudahan itu tidak muncul tiba-tiba. Kemudahan itu terjadi berkat beragam teknologi pendukung yang ada di ‘balik layar’ aplikasi. Salah satunya adalah teknologi data streaming.
Seperti apakah peran teknologi data streaming? Perwakilan dari Confluent Inc, perusahaan pelopor data streaming, Rully Moulany, menjelaskan secara sederhana.
Sesuai namanya, teknologi ini melibatkan aliran data realtime dari satu sistem ke sistem lainnya untuk diproses, dianalisis, guna menghasilkan feedback bagi pengguna.
Baca juga : 6 Cara untuk Jamin Kenyamanan Konsumen saat Harbolnas
Contohnya, ketika kita memesan ojol lewat aplikasi untuk menuju lokasi tertentu. Dengan serta merta, aplikasi dapat menentukan lokasi kita, memilih driver terdekat yang bisa menjemput, menentukan tarif, memperkirakan waktu tiba, hingga menentukan rute tercepat. Semua terjadi secara real time. Di situ terjadi aliran dan pemrosesan data realtime tentang di mana posisi kita, ketersediaan driver di sekitar kita, kepadatan lalu lintas untuk menentukan rute terbaik dan waktu tiba, serta biaya sesuai jarak tempuh.
Contoh lain, ketika kita membayar transaksi lewat mobile-banking, kita bisa melakukannya secara instan. Seketika, saldo kita berkurang, sementara saldo toko tempat kita berbelanja bertambah. Perubahan itu dapat tampil secara real time di aplikasi kita karena ada data streaming tentang jumlah saldo awal kita dan nominal belanja yang kita lakukan, yang kemudian melalui pemrosesan antarsistem (sistem aplikasi mobile banking dengan sistem toko), hingga memunculkan mutasi rekening kita secara real time.
“Kita mungkin merasakan kepraktisan itu sebagai sesuatu yang taken for granted, tapi proses behind the scene-nya melibatkan data streaming. Nah, di sinilah Confluent sebagai penyedia layanan data streaming berperan membantu para entitas usaha dalam membuat/menyediakan aplikasi andal untuk pengguna/konsumen mereka,” papar Rully, yang merupakan Area Vice President Confluent untuk Asia, dalam sesi diskusi di Jakarta, baru-baru ini.
Baca juga : Hasil Survei: 91,7% Mitra Pengemudi Grab Betah dan Setia
Ia menjelaskan, Confluent merupakan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang didirikan oleh tiga pendiri LinkedIn yaitu Jay Kreps, Nehe Narkhede, dan Jun Rao.
Saat itu, pada 2010, ketika tengah mengembangkan Linkedin, mereka membutuhkan teknologi yang dapat memenuhi demand tinggi dari para pengguna yang ingin mendapat feed yang relevan dengan kebutuhan mereka.
“Ketika pengguna me-like sebuah feed atau membuka profil seseorang di LinkedIn, aplikasi LinkedIn harus mampu mengkalkulasi feed berikutnya agar relevan dengan dengan apa yang sudah di- like, juga menampilkan profil orang lain yang memiliki karakteristik serupa dengan profil sudah dilihat sebelumnya. Nah, berangkat dari kebutuhan itu mereka menciptakan teknologi Apache Kafka yang mampu mengalirkan dan mengolah data dari berbagai sumber untuk memberikan feedback yang ideal bagi pengguna secara realtime, sehingga LinkedIn bisa seperti sekarang,” terang Rully.
Baca juga : Inilah Aplikasi Online yang Banyak Dipilih Kaum Milenial dan Gen Z
Teknologi Apache Kafka kemudian di-open source agar dapat dikembangkan oleh berbagai komunitas sehingga saat ini dapat digunakan secara luas.
Pada 2013, Jay Kreps, Nehe Narkhede, dan Jun Rao resmi mendirikan Confluent dengan fokus menyediakan platform berteknologi Apache Kafka bagi para pihak yang perlu melakukan data streaming dalam aplikasi atau sistem digital mereka, termasuk memadukan data realtime dari berbagai sumber, memprosesnya, hingga menghasilkan feedback yang dibutuhkan pengguna aplikasi secara real time. Dengan Apache Kafka, aplikasi pun menjadi lebih mumpuni.
Confluent sendiri hadir di Indonesia sejak 2021. Selama tiga tahun ini, sudah banyak pihak yang telah menggunakan layanannya. Diawali dari sektor keuangan, seperti perbankan yang memang tengah menghadapi tuntutan digitalisasi layanan, hingga meluas ke berbagai sektor lainnya termasuk manufaktur, ritel, pertambangan, transportasi, telekomunikasi, dan hospitality.
Baca juga : TokoTalk Rilis Fitur StoreLinks untuk Mudahkan Konsumen Akses Link
“Kerja sama kami dengan para klien biasanya diawali dengan diskusi, apa yang menjadi goals klien, tools apa yang sudah mereka miliki, dan gap kebutuhan mana yang perlu dipenuhi baik dengan optimalisasi tools yang mereka miliki maupun dengan teknologi Kafka kami,” kata Rully.
Dari sisi biaya, layanan Confluent bersifat fleksibel, sesuai kebutuhan klien. Karena itu, Confluent menggunakan cloud computing sebagai kanal penyediaan layanan mereka. Dengan begitu, klien bebas berlangganan dalam skala yang sesuai dengan kebutuhan mereka, termasuk bisa berhenti kapan saja.
“Layanan kami tersedia di berbagai cloud provider seperti AWS, Google, Alibaba, dan Azure,” imbuh Rully.
Ke depan, ia optimistis Confluent dapat semakin berperan dalam membantu program digitalisasi yang tengah digencarkan pemerintah di berbagai bidang, sekaligus membantu pengembangan perusahaan-perusahaan di berbagai sektor. (Z-1)
AKSI unjuk rasa buruh menuntut kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) 2026 di Kabupaten Purwakarta diwarnai kericuhan antara ojol dan buruh.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat kebersamaan para pengemudi masih sangat kuat, terutama di tengah risiko pekerjaan yang mereka hadapi setiap hari.
Para pengemudi transportasi online menolak dua hal yaitu potongan komisi 10% dan rencana mereka dijadikan karyawan tetap.
Kabar duka di Hari Guru Nasional, seorang guru ditemukan tewas di tengah hutan, Brebes. Korban mengajar di SD dan memiliki pekerjaan sampingan sebagai ojek online atau ojol.
Ia menyoroti banyaknya terminal angkutan umum yang beralih fungsi atau kurang dimanfaatkan, yang menurutnya dapat dioptimalkan sebagai tempat singgah.
"Mereka memahami bahwa potongan komisi 20% bukan semata-mata keuntungan aplikator, tetapi juga menjadi sumber dana untuk promo pelanggan, bonus, dan berbagai fasilitas kesejahteraan,”
Label pengiriman yang menempel di paket berisi informasi pribadi seperti nama, nomor telepon, dan alamat lengkap. Jika dibuang tanpa dihapus, data ini berisiko disalahgunakan.
Lebih dari 58% pengguna TikTok menggunakan platform tersebut untuk mencari ide produk, dan 71% di antaranya membeli produk yang muncul melalui feed mereka.
Modus penipuan yang membuat konsumen membayar paket yang tidak pernah mereka pesan ini semakin sering terjadi dan telah memakan banyak korban.
Selama 2024, teknologi anti-phishing Kaspersky mendeteksi lebih dari 8 juta upaya phishing yang menargetkan pengguna Indonesia.
Blibli terus menyajikan inovasi untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat dalam berbelanja secara daring.
Gen Z menghabiskan rata-rata Rp414.309 untuk berbelanja di e-commerce per bulan. Nominal ini mengalami kenaikan sebanyak 14% dari tahun lalu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved