Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN November hingga Maret ialah musim tanam utama yaitu musim tanam saat musim penghujan dengan ketersediaan air cukup tinggi.
Sayangnya, perubahan iklim mengakibatkan masyarakat sulit memprediksi datangnya musim hujan dan kemarau sehingga mengganggu musim tanam yang berakibat pada produksi pangan nasional.
Berdasarkan laporan United States Department of Agriculture, Indonesia menjadi produsen beras terbesar keempat di dunia sekaligus nomor satu di Asia Tenggara dengan estimasi produksi 34,6 juta metrik ton pada musim 2022/20231. Produksi ini diharapkan meningkat sehingga mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan ekspor.
Baca juga: Syngenta Latih 4.500 Petani terkait Agronomi dan Teknologi
Salah satu yang mempengaruhi produktivitas padi di antaranya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti tikus, hawar daun, wereng batang coklat, blas, hingga hama penggerek batang.
Dari semua OPT itu, hama penggerek batang padi kuning masih jadi hama utama terutama di Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Serangan hama ini mengakibatkan kehilangan hasil panen hingga 30% jika tak dikendalikan secara efektif pada waktu yang tepat. Bahkan, serangan fase generatif dapat membuat petani kehilangan hasilnya hingga 95%.
Untuk membantu petani mengatasi serangan hama penggerek batang padi kuning itu, perusahaan teknologi pertanian Syngenta memperkenalkan solusi perlindungan tanaman terbaru Incipio® 200SC untuk tanaman padi.
Peluncuran insektisida baru ini dilakukan pada 22-23 November di Pusat Riset dan Pengembangan Perlindungan Tanaman Syngenta, Cikampek, Jabar.
Baca juga: Kominfo Harapkan Petani Beradaptasi dengan Teknologi Digital
Brand Manager Insektisida Syngenta Indonesia Frendy Tarigan mengatakan dengan teknologi Plinazolin®, insektisida terbaru ini mengendalikan serangan penggerek batang padi kuning di fase vegetatif dan generatif.
Teknologi ini bekerja secara kontak dan lambung, tahan cuaca, aman bagi pengguna dan tanah, serta bisa memutus resistensi hama dari bahan kimia lama dan golongan diamida dengan masa pengendalian 14-21 hari.
Insektisida Incipio® 200SC dikembangkan untuk memenuhi tantangan yang timbul akibat perubahan iklim dan resistensi hama secara efisien, yang menyebabkan hilangnya panen padi dalam jumlah besar setiap tahunnya.
"Dengan memakai Incipio® 200SC, petani bisa tenang tanpa beban dari serangan penggerek batang padi kuning,” jelas Frendy dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/11).
Peluncuran teknologi baru ini dihadiri manajemen Syngenta dan 1,500 petani padi dari Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, Aceh, Sumsel, Lampung, dan Sulteng.
Juga, Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Kementerian Pertanian Prof Dr Dadang MSc dan Kepala Dinas Pertanian Karawang Drs Asep Hazar MSc.
Baca juga: Syngenta Latih Belasan Ribu Petani Tingkatkan Produksi Tanaman
Prof Dadang menyebutkan ciri-ciri petani maju inovatif yaitu selalu ingin tahu ilmu pertanian dan teknologi pertanian terbaru.
"Petani maju inovatif inilah yang diharapkan dapat membantu mendorong pengaplikasian teknologi baru termasuk Incipio® 200SC untuk mendorong peningkatan produksi tanaman," tuturnya.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Kazim Hasnain menekankan komitmen Syngenta dalam membantu petani mengatasi berbagai tantangan termasuk iklim, hama penyakit, dan lingkungan melalui inovasi teknologi.
"Teknologi Incipio® 200SC dirancang untuk melindungi tanaman padi dari hama penggerek batang padi kuning agar produktivitas terjamin sehingga Indonesia bisa menjadi eksportir beras di masa mendatang," jelasnya.
Asep Hazar berharap teknologi baru ini membantu petani mengendalikan hama penyakit tanaman. Dengan berkolaborasi bersama pihak swasta, ia percaya upaya pengendalian OPT lebih maksimal.
Syngenta juga memanfaatkan teknologi digital dalam kegiatan peluncuran Incipio® 200SC ini. Mulai dari penggunaan artificial intelligence (AI) sebagai pendamping pembawa acara, aplikasi Cropwise Grower sebagai panduan bertani digital, hingga demo penggunaan drone untuk aplikasi produk perlindungan tanaman. (RO/S-2)
MENAG Nasaruddin Umar, berbicara tentang ekotelogi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) pada konferensi internasional yang berlangsung di Mesir.
FILM drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah (Sci-fi), Esok Tanpa Ibu segera tayang di bioskop, dibalut dengan pendekatan teknologi Artificial Intelligence (AI)
Pada 2025, jumlah pengguna PLN Mobile melonjak drastis hingga melampaui 50 juta pengunduh dan total transaksi tahunan lebih dari 30 juta transaksi.
Marhaenisme sebagai ideologi organisasi tidak boleh anti-teknologi. Sebaliknya, teknologi harus dikendalikan oleh nilai-nilai ideologis untuk kepentingan rakyat kecil.
Inilah paradoks utama media massa di era AI.
Perusahaan manajemen medis global, Medix, menilai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi menjadi kunci penting untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan di Indonesia.
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing. Kunjungan pertama dalam 8 tahun ini menjadi titik balik hubungan kedua negara.
Kalau kita kelompokkan petani pangan, persentase petani yang di atas 55 tahun jauh lebih besar.
Menlu RI Sugiono menegaskan komitmen Indonesia-Turki memperkuat kerja sama industri, produk halal, dan pertanian saat bertemu Presiden Erdogan di Istanbul.
Di sektor pertanian, penerapan pertanian organik dan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi pilihan utama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved