Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KEHADIRAN consumer-focused platforms atau platform yang berfokus pada konsumen di Indonesia, seperti Gojek, Tokopedia, dan Traveloka telah membuka peluang besar bagi usaha mikro, kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia untuk bertumbuh.
Namun terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi sektor UMKM di Tanah Air.
Perusahaan dana modal ventura atau venture capital (VC) terkemuka yang berfokus pada investasi start-up di tahap awal, AC Ventures meyakini, teknologi dapat menjadi solusi dalam membantu menciptakan nilai tambah dan dampak yang sangat besar untuk sektor UMKM.
Selain itu, hal itu sekaligus menjadi peluang bagi pemain bisnis teknologi maupun investor jika mereka mampu menjembatani tantangan ini.
“Pemanfaatan platform berbasis teknologi dapat menekan biaya operasional menjadi lebih rendah, efisiensi yang lebih besar, hingga volume penjualan yang lebih tinggi,” ujar Co-Founder & Managing Partner AC Ventures, Adrian Li, di Jakarta, Rabu (28/7/2021).
Adrian melihat bahwa peluang yang ada tidak hanya terbatas pada kemampuan pemain bisnis untuk memberikan solusi bagi UMKM, melainkan dapat pula membantu pelaku bisnis untuk memasuki pasar konsumen Indonesia melalui UMKM ini.
Karena, meskipun pertumbuhan daring sangat besar, namun sebagian besar penjualan masih dilakukan secara luring atau off line, terutama di saluran tradisional.
“Sayangnya, rantai pasokan yang menghubungkan jutaan pengecer ini ke prinsipal dan distributor sangat terfragmentasi sehingga menimbulkan banyak masalah bagi pengecer,” jelasnya.
Menurut Adrian, terdapat dua hambatan utama bagi UMKM untuk mendapatkan pembiayaan.
Pertama, UMKM umumnya tidak dianggap layak kredit oleh bank karena mereka biasanya tidak memiliki aset yang dapat digunakan untuk agunan.
Kedua, cabang bank sangat terbatas di kota-kota tier-2 dan tier-3 yang mempersulit UMKM bahkan untuk mengajukan pembiayaan.
“Indonesia telah melihat banyak pemain fintech mencoba mengatasi masalah ini. Namun, bahkan dengan pemberi pinjaman teknologi finansial, ada sedikit informasi untuk memahami kesehatan keuangan calon peminjam," jelasnya.
"Alhasil, data OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pada 2020 menunjukkan, perusahaan fintech lending hanya mengucurkan total US$5,0 miliar pada 2020. Jumlah ini masih jauh dari mengatasi gap pembiayaan,” papar Adrian.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM adalah mesin pertumbuhan bagi perekonomian Indonesia. Terdapat lebih dari 60 juta UMKM terdaftar, dan menyumbang sekitar 61% dari PDB negara.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 merilis, kategori besar ini telah mempekerjakan lebih dari 116 juta orang atau setara dengan 97% angkatan kerja Indonesia.
Kontribusi dan signifikansi UMKM terhadap perekonomian Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan perekonomian besar lain, seperti India yang hanya menyumbang 30% dari PDB.
“Ini sekaligus merupakan salah satu alasan mengapa usaha teknologi yang berfokus pada UMKM di Indonesia dapat muncul sebagai bisnis yang bahkan lebih berharga daripada di pasar negara berkembang lain yang lebih matang,” tambahnya.
AC Ventures sendiri telah melakukan analisis terhadap peluang-peluang tersebut, dan sejauh ini telah berinvestasi kepada empat start-up yang dinilai mampu menjembatani masing-masing masalah yang dihadapi UMKM seperti startup marketplace Ula, startup fintech BukuWarung, startup food technology ESB, serta startup yang menyediakan perangkat digital lengkap untuk UMKM seperti Majoo. (RO/OL-09)
Dengan limit hingga Rp50.000.000 yang dapat digunakan berulang kali, Julo memberikan fleksibilitas bagi pengguna untuk mengelola berbagai kebutuhan keuangan secara bersamaan.
OJK mencatat lebih dari 370 ribu laporan penipuan transaksi keuangan sepanjang Januari–November 2025, dengan potensi kerugian mencapai Rp8,2 triliun.
Program pembelajaran ini melibatkan puluhan pembicara profesional yang membagikan pengalaman mereka dalam berkontribusi di bidang teknologi.
Empat pilar utama, yaitu kolaborasi data, standardisasi penilaian risiko, skema berbagi risiko, serta platform kolaborasi terintegrasi, menjadi fondasi penting yang perlu diperkuat.
Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025 resmi berakhir dengan catatan penting berupa menguatnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem keuangan digital yang inklusif.
Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) secara resmi membuka Mandiri BFN Fest 2025, puncak dari rangkaian Bulan Fintech Nasional (BFN).
Banyak yang belum menyadari bahwa Indonesia telah memproduksi ponsel untuk dipasarkan secara internasional. Produk tersebut hadir melalui Unplugged, sebuah startup.
STARTUP kecerdasan buatan (AI) asal Indonesia, Zarfix, resmi menjadi sorotan internasional setelah tampil dalam ajang 'Take Off Istanbul' di Istanbul, Turki.
Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang kerap diukur lewat valuasi dan pendanaan, MDI Ventures menghadirkan perspektif berbeda.
Tokyo X-Hub 2025 mengundang 10 startup Jepang yang berbasis di Tokyo untuk mengeksplorasi pasar Indonesia.
Diskusi berfokus pada bagaimana Indonesia dan Australia dapat memperkuat kolaborasi di bidang teknologi, kewirausahaan, dan inovasi.
Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi kemitraan strategis antara 24 perusahaan rintisan (startup) Indonesia terpilih dengan korporasi dan ekosistem startup luar negeri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved