Kamis 22 Juli 2021, 15:19 WIB

Saatnya Potensi Laut Dalam di Indonesia Diteliti

Siswantini Suryandari | Teknologi
Saatnya Potensi Laut Dalam di Indonesia Diteliti

ANTARA/str-Juli
Petugas pelaksana operasional BPPT menurunkan buoy tsunami di Pelabuhan Merak. Saat ini penelitian laut dalam masih sebatas riset kebencanaa

HINGGA dekade terakhir ini ada kecederungan penelitian terus meningkat mengeksplor deposit mineral di laut dalam. Diperkirakan sekitar 65% permukaan bumi merupakan wilayah laut di bawah 200 meter.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza dalam sambutannya saat webinar bertema Eksplorasi Mineral Laut Dalam di Indonesia: Potensi, Kebijakan, Tantangan dan Teknologi, yang
diselenggarakan oleh Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) melalui Balai Teksurla, Kamis (22/7) mengatakan saa ini deposit mineral  terestrial untuk logam seperti tembaga, nikel, aluminium, mangan, seng, litium dan kobalt sudah menipis.

Ditambah lagi meningkatnya permintaan logam ini untuk menghasilkan aplikasi atau produk berteknologi tinggi seperti smartphone dan teknologi hijau atau teknologi ramah lingkungan, seperti kendaraan elektrik, turbin angin, panel surya, baterai penyimpanan listrik, dan lainnya.

"Bank Dunia memperkirakan bahwa kita akan membutuhkan lebih dari tiga miliar ton logam penting untuk menerapkan teknologi penyimpanan energi, teknologi surya dan angin yang diperlukan untuk membatasi perubahan iklim hingga di bawah 2°C," ujar Hammam.

Institute for Sustainable Futures menghitung bahwa dalam skenario di mana kenaikan suhu global dibatasi hingga kurang dari 1,5 derajat. Permintaan kobalt akan menjadi 423% dari cadangan yang diketahui pada tahun 2050. Untuk nikel akan menjadi 136% dan untuk lithium 280%. Inilah yang dibutuhkan untuk energi dan penyimpanan terbarukan.

Peningkatan jumlah logam yang dibutuhkan untuk infrastruktur yang diperlukan tentu akan berdampak besar pada permintaan global.

Hingga Mei 2018, International Seabed Authority (ISA), sebuah lembaga yang mengatur kegiatan di area di luar yurisdiksi nasional telah mengeluarkan 29 kontrak untuk eksplorasi deposit mineral laut dalam. Lebih dari 1,5 juta km2 dasar laut internasional, kira-kira seluas Mongolia telah diizinkan untuk eksplorasi mineral di Samudra Pasifik dan Samudera Hindia, dan di sepanjang Punggungan Atlantik Tengah.

"Kegiatan eksplorasi ini mungkin segera ditingkatkan untuk upaya eksploitasi. Penambangan komersial di perairan nasional Papua Nugini telah direncanakan dimulai pada tahun 2020. Sedangkan, penambangan di perairan internasional diperkirakan akan dimulai pada tahun 2025," tambahnya.

Hammam menegaskan BPPT kini telah melakukan sejumlah persiapan untuk memperkuat infrastruktur riset laut dalam. Apalagi saat ini Kapal Riset Baruna Jaya I dan Baruna Jaya III telah direvitalisasi peralatannya untuk mendukung riset peringatan dini tsunami, dan survei laut untuk mendukung penentuan jalur kabel telekomunikasi bawah laut Palapa Ring.

"Kemudian, berbagai peralatan baru hasil pengadaan 2017-2020 juga memperkuat infrastruktur riset laut dalam, seperti berbagai Multibeam echosounder (MBES) untuk pemataan dasar laut kedalaman sampai 3.500 meter, 8.000 meter dan sampai kedalaman 11.000 meter. MBES laut dalam sampai 11.000 meter merupakan satu-satunya yang dipunyai oleh Indonesia saat ini," jelas Hammam.

Diakuinya sampai sekarang penelitian laut dalam untuk mengetahui potensi yang dimiliki laut di wilayah Indonesia belum ada. Untuk itu riset laut dalam harus bisa dikembangkan untuk menjawab menipisnya deposit logam.

baca juga: BPPT

Pembicara kunci dalam webinar tersebut Dirjen Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin membenarkan sampai sekarang Indonesia belum ada kontrak untuk eksplorasi deposit mineral laut dalam. "Saat ini Indonesia belum berpartisipasi, belum ada kontrak. Untuk mengembangkan riset tersebut memang harus dimulai segera untuk mengetahui potensi kandungan mineral laut dalam di Indonesia," ujar Ridwan.

Riset potensi mineral laut dalam ini memang penuh tantangan karena menyangkut kebijakan, teknologi, dan SDM. (N-1)

 

 

Baca Juga

Ist/Kemenkominfo

Pemerintah, Akademisi, dan Perusahaan Kolaborasi Kembangkan Talenta Digital di Tanah Air

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Juli 2021, 14:01 WIB
Program Digital Talenta Scholarship (DTS) yang telah berjalan sejak tahun 2018 bertujuan untuk menyediakan SDM yang terampil dan berdaya...
AFP/OLIVIER DOULIERY

Facebook Perketat Kebijakan untuk Pengguna di Bawah 18 tahun

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 28 Juli 2021, 11:10 WIB
Facebook akan melarang pengiklan menargetkan pengguna di bawah usia 18 tahun berdasarkan kesukaan atau aktivitas mereka di situs...
MI/Dok Indosat Ooredoo

Indosat Ooredoo Hadirkan Cara Dapatkan Penghasilan Tambahan lewat Aplikasi myIM3

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 28 Juli 2021, 06:14 WIB
Pelanggan bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi reseller dari produk IM3 Ooredoo melalui fitur Kios...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Membangun Konektivitas Segitiga Emas Jawa Bagian Tengah

 Untuk membangkitkan pertumbuhan perekonomian di Jawa bagian tengah, Tol Joglosemar menjadi salah satu solusi

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya