Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Buntut Kekalahan Beruntun, Pelatih Persijap Jepara Soroti Kualitas Pemainnya Belum Layak di Super League 2025-2026 

Akhmad Safuan
21/11/2025 21:38
Buntut Kekalahan Beruntun, Pelatih Persijap Jepara Soroti Kualitas Pemainnya Belum Layak di Super League 2025-2026 
Pelatih Persijap Jepara asal Portugal Mario Lemos.(MI/Akhmad Safuan)

 

KEKALAHAN beruntun 7 kali berturut-turut dan terakhir di kandang 1-2 atas tim tamu Semen Padang pada pekan ke-13 Super League 2025-2026 Kamis (20/11), membuat pelatih Persijap Jepara Mario Lemos sangat kecewa, bahkan menyebut sejumlah pemain tim berjuluk Laskar Kalinyamat tidak layak bersaing di kompetisi kasta tertinggi musim ini.

Pemantauan Media Indonesia Jumat (21/11) kekalahan menyakitkan Persijap Jepara pada pertandingan lanjutan Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara Kamis (20/11) atas tim tamu Semen Padang tidak hanya membuat ribuan suporter Laskar Kalinyamat kecewa berat, sang pelatih Mario Lemos juga turut kecewa terhadap permainan anak asuhnya.

Bahkan setelah menderita kekalahan 1-2 tersebut, pelatih asal Portugal Mario Lemos menyebut bahwa tim berjuluk Laskar Kalinyamat tidak layak bersaing di kompetisi kasta tertinggi musim ini, karena kualitas individu pemain yang belum mampu memenuhi tuntutan pertandingan yang super ketat tersebut.

"Tidak hanya persoalan kartu merah, sejumlah pemain belum memiliki kesiapan yang cukup untuk bersaing di kompetisi kasta tertinggi musim ini," kata Mario Lemos.

Kesalahan teknis sederhana, ungkap Mario Lemos, sering terulang  dan hal ini memengaruhi hasil di setiap laga, bahkan cukup memprihatinkan beberapa pemain muda yang sebenarnya belum siap berlaga di level profesional, tetapi terpaksa harus beradaptasi cepat karena kebutuhan skuad.

Kesalahan mendasar terus terjadi di pertandingan, menurut Mario Lemos, karena salah satunya adalah kualitas pemain, sehingga  tidak bisa memaksakan pemain untuk naik ke level yang berbeda. "Kami merasa kasihan terhadap beberapa pemain yang sebetulnya belum siap tampil di level liga profesional, tetapi harus dipaksa beradaptasi cepat demi kebutuhan tim," ujarnya.

Kondisi ini menjadikan berat bagi pemain, lanjut Mario Lemos, pelatih juga kasihan karena harus memaksa naik level, sedangkan beberapa dari mereka belum bisa di level ini, bahkan jika Persijap Jepara memiliki kualitas lebih baik sekalipun, bermain dengan 10 pemain menjadi berat dan kondisi semakin sulit ketika pemain harus berduel dengan lawan yang lebih matang.

“Ketika kami punya kualitas pun, bermain 10 orang itu sangat sulit, apalagi dengan kualitas yang masih kurang semakin menjadikan masalah ganda,” tambahnya.

Menurut Mario Lemos menilai perbedaan kualitas antar tim tersebut, terlihat pada efektivitas penyelesaian akhir, sehingga menciptakan banyak peluang, tetapi tidak satu pun yang dapat dikonversi menjadi gol tambahan, maka evaluasi keras ini tidak hanya menghadapi problem kedisiplinan dan mental, tetapi juga menghadapi persoalan fundamental dalam kualitas skuat. 

Banyaknya kesalahan individu, demikian Mario Lemos, buruknya penyelesaian akhir dan ketidaksiapan pemain tampil di level tinggi menjadi pekerjaan besar bagi tim, sehingga ke depan Laskar Kalinyamat dituntut melakukan pembenahan serius jika ingin keluar dari tren buruk dan kembali bersaing di kompetisi. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik