Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTANYAAN besar menghinggapi timnas Inggris di Piala Dunia Qatar 2022. Setelah menjadi semifinalis pada edisi 2018 lalu di Rusia kemudian tampil sebagai runner-up Piala Eropa 2020, tantangan berat dan ekspektasi tinggi menanti. Mampukah Skuat The Three Lions bergerak maju menapaki anak tangga yang lebih tinggi di Qatar atau justru jatuh terjerembab?
Inggris dipenuhi segudang talenta termasuk bintang mereka Harry Kane, yang memenangi Golden Boot di Piala Dunia 2018. Di lapangan, dia akan memimpin skuat berisi pemain-pemain muda menjanjikan nan tangguh.
Selama kualifikasi, tim besutan pelatih Gareth Southgate tidak terkalahkan dan paling produktif dengan mengemas 39 gol. Jumlah itu menjadi yang terbanyak dibandingkan dengan tim-tim Eropa lainnya.
Baca juga: Berhalter Optimistis AS Bisa Buat Kejutan di Piala Dunia 2022
Namun, keraguan mencuat lantaran pada ajang Liga Negara UEFA, yang notabene menjadi pentas pemanasan mereka justru tampil lesu. Inggris terdegradasi dan juga mengalami kekalahan memalukan 0-4 dari Hongaria di kandang sendiri.
Sejak kekalahan 5-1 dari Skotlandia pada 1928, Inggris baru kali ini dikalahkan begitu telak di kandang sendiri. Kepercayaan publik Inggris kepada Southgate pun goyah atas hasil negatif tersebut.
"Kami memiliki tim yang telah menikmati performa bagus dalam waktu lama. Ya, kami memiliki sedikit kesalahan pada musim panas (di Liga Negara UEFA) tetapi kami telah belajar banyak dari itu dan kami menantikannya (kick off di Qatar)," ucap Southgate,
Southgate melakukan banyak rotasi di Liga Negara UEFA untuk bereksperimen. Dia memanfaatkannya untuk mengetahui potensi para pemain di luar 11 nama reguler dan bermain dengan formasi berbeda-beda.
Southgate mengakui kurangnya pengalaman dan kohesi muncul di tengah eksperimen itu. Kekurangan itu, menurutnya, menjadi pembelajaran penting. Terlepas dari itu, Southgate yakin fondasi skuad yang sudah lama dibangun akan tetap bisa diandalkan.
"Mereka memiliki performa terbaik dari tim Inggris mana pun selama 50 tahun, jadi mereka harus mengingat apa yang telah mereka lakukan dengan baik," ujarnya.
Finis di empat besar pada Piala Dunia terakhir menjadi penampilan terbaik Inggris sejak 1990.
Satu-satunya pencapaian tertinggi mereka yakni pada 1966 tampil sebagai kampiun dengan Sir Geoff Hurst yang menjadi satu-satunya pemain dalam sejarah mencetak hat-trick pada final Piala Dunia.
Menatap Qatar, Southgate tidak mau pil pahit di Liga Negara EUFA menodai keseluruhan performa mereka yang mampu tembus ke semifinal pada 2018 dan ke final Euro.
Dia mengakui skuatnya harus lebih baik lagi dari segi mental, menjaga bola dalam situasi tekanan, menjaga pertahanan, dan bermain proaktif.
"Terkadang Anda perlu melalui pengalaman belajar itu. Saya tidak yakin ada yang benar-benar berpikir sebelum 2018 bahwa kami adalah tim semifinalis. Kami belum pernah memenangi pertandingan pada fase sistem gugur dalam sepuluh tahun terakhir," katanya.
Di Qatar nanti, Inggris akan diperkuat talenta muda yang tengah mendapat perhatian besar seperti Bukayo Saka, Phil Foden, dan Jude Bellingham.
Saka yang gagal ketika adu penalti pada final Piala Eropa lalu membawa mental baru sepanjang musim ini di klubnya Arsenal. Pemain berusia 21 tahun itu tampil gemilang bersama the Gunners dan Southgate amat mengaguminya.
"Mungkin dia salah satu yang kurang dihargai. Profilnya tidak sama dengan beberapa pemain penyerang kami yang lain, dia hanya bekerja dalam diam. Tapi saya rasa Anda melihat konsistensi penampilannya dan kualitas permainannya. Kami rasa dia adalah pemain super," tutur Southgate.
Kiper: Jordan Pickford, Aaron Ramsdale, Nick Pope.
Bek: Kieran Trippier, Trent Alexander-Arnold, Ben White, John Stones, Harry Maguire, Ben Chilwell, Luke Shaw, Kyle Walker, Reece James.
Tengah: Declan Rice, Kalvin Phillips, Jordan Henderson, Jude Bellingham, Mason Mount, Jack Grealish, Phil Foden
Depan: Harry Kane, Bukayo Saka, Raheem Sterling, Ivan Toney, Jadon Sancho (FIFA/BBC/OL-1)
Kapten Romain Saiss mencetak gol di babak pertama dan, setelah pemain Tanzania Novatus Miroshi diusir wasit, Azzedine Ounahi dan Youssef El-Nesyri menambah keunggulan Singa Atlas.
Arab Saudi, yang sempat mengalahkan Argentina di babak penyisihan grup Piala Dunia 2022, kembali ke Qatar sebagai salah satu unggulan juara di Piala Asia.
"Penjualan enam jersey ini merupakan sebuah peristiwa monumental dalam sejarah lelang, yang menawarkan kepada para penggemar dan kolektor sebuah kaitan dengan pencapaian puncak Messi."
Kapten timnas Argentina itu mengatakan, saat ini, fokusnya adalah tampil di Copa America, yang akan digelar di AS pada Juni 2024 mendatang.
Perjanjian ini akan mencakup serangkaian turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia 2026, Piala Dunia Putri 2027, dan Piala Dunia 2030, serta semua turnamen kelompok umur putra dan putri.
Keempat pemain timnas Maroko itu adalah kiper Yassine Bounou, bek Achraf Hakimi, gelandang Sofyan Amrabat, dan penyerang Youssef En-Nesyri.
Bagi Thomas Tuchel, kesuksesan di turnamen besar sangat bergantung pada atmosfer di dalam kamp latihan.
Ia merasa tidak pantas untuk diganti pendatang baru di ‘Three Lions’, Morgan Rogers.
Puncak pencapaian Sarina Wiegman terjadi pada musim panas lalu, saat ia sukses membawa timnas Inggris keluar sebagai juara Euro Putri 2025.
Pelatih timnas Inggris Thomas Tuchel menargetkan timnya keluar sebagai juara Grup L pada Piala Dunia 2026.
Harry Kane menilai skuad Inggris saat ini merupakan yang terbaik selama 10 tahun kariernya di tim nasional.
Thomas Tuchel menegaskan pentingnya perilaku setelah Jude Bellingham menunjukkan kekecewaan saat ditarik keluar dalam kemenangan 2-0 Inggris atas Albania.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved