Sabtu 25 Juni 2022, 07:10 WIB

Pengabdian Tite untuk Brasil

Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola | Sepak Bola
Pengabdian Tite untuk Brasil

MI/Seno
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola

 

DENGAN rekor 75% menang sepanjang penyisihan Piala Dunia 2022 zona Amerika Latin, Tite pantas menjadi incaran banyak klub-klub besar Eropa. Real Madrid, Paris Saint Germain, dan Sporting Lisbon merupakan tiga klub yang berharap untuk bisa mendapatkan pelatih asal Brasil itu.

Namun, semua tawaran itu ditolak Tite. Ia memilih untuk tetap menangani Tim Samba. Tite memilih fokus menangani Selecao dengan target lolos hingga final Piala Dunia 2022 dan mengangkat piala.

"Sejak sebelum Piala Dunia 2018, Real Madrid mencoba menghubungi saya. Demikian pula PSG dan Sporting, tetapi semua saya tolak. Saya ingin memenangi Piala Dunia. Setelah itu, baru saya mau memikirkan masa depan saya," kata Tite.

Sudah 20 tahun Brasil gagal untuk mengembalikan kejayaannya di sepak bola. Bahkan di kandang sendiri pada 2014, Selecao gagal untuk mengangkat piala. Mereka justru dipermalukan Jerman 1-7 di semifinal.

Di Qatar nanti Tite berharap tim Samba bisa kembali menunjukkan kebesarannya. Di penyisihan Piala Dunia 2022 zona Amerika Selatan, Brasil sudah menunjukkan kedigjayaannya. Dari 17 kali pertandingan yang dimainkan, Selecao bukan hanya tidak terkalahkan, tetapi mampu mencetak 45 gol ke gawang lawan.

"Dengan 17 kali tidak terkalahkan di penyisihan dan 13 kali dari 17 pertandingan itu tidak pernah kemasukan gol, wajar apabila Brasil bisa mengangkat piala di Kejuaraan November nanti," kata pelatih Brasil itu penuh harap.

 

Pemain muda

Di Qatar nanti Brasil memang tidak lagi hanya mengandalkan pemain seperti Neymar Jr. Selecao memiliki bintang-bintang muda seperti Vinicius Jr atau Rodrygo yang semakin matang.

Dua pemain muda ini yang membawa Madrid merebut juara Piala Champions untuk ke-14 kalinya. Bersama Neymar, mereka akan bisa menjadi trisula yang sangat menakutkan lawan. Tim Samba sejauh ini menjadi kesebelasan yang haus gol sehingga bisa mencetak lima gol setiap dua pertandingan.

Tite masih melihat Neymar sebagai pemain yang sangat diandalkan. "Neymar tetap Neymar. Dia merupakan bintang besar yang kami miliki. Namun, ia pun menyadari bahwa para pemain muda semakin matang dan membuat bintangnya meredup, tetapi Neymar selalu mendorong para pemain muda untuk berkembang dan mulai menggantikan dirinya," jelas Tite.

Pelatih Brasil itu tidak melihat dua kali kegagalan di Piala Dunia 2014 dan 2018 membuat Neymar frustrasi. Apalagi, dikatakan Neymar akan segera gantung sepatu.

"Kalau seorang pemain ditanya masa depan sesaat setelah gagal, pasti jawabannya seperti itu. Saya pun pasti akan mengatakan hal yang sama. Namun, saya sudah berbicara dengan Neymar. Bahkan, pemain seperti Thiago Silva, Raphinha, Casemiro, Fabinho, dan Paqueta mempunyai semangat yang tinggi untuk tampil di Piala Dunia 2022 nanti," kata Tite menjelaskan.

Itulah yang mendasari keyakinan Tite untuk bisa sukses di Qatar nanti. Hanya saja, ia pun mengakui perjuangan untuk lolos ke final tidaklah mudah. Apalagi semua tim selalu berupaya untuk bisa mengalahkan Brasil.

Tite melihat beban sebagai pelatih dan juga pemain bagi orang Brasil tidaklah ringan. Nama-nama besar seperti Pele, Zagallo, Tostao, dan Garrincha membuat semua orang selalu membandingkan dan menginginkan pemain sekarang bisa seperti bintang-bintang besar itu.

Namun, pelatih Brasil itu melihat beban sebagai sebuah tanggung jawab yang harus dipikul. Tite tidak ingin melihat tanggung jawab itu sebagai sesuatu yang harus membuat ia lalu takut.

"Saya selalu ingat ucapan Pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela: ‘Keberanian adalah kemampuan untuk menghadapi ketakutan’. Sebagai manusia biasa tentu wajar apabila saya memiliki takut, mimpi buruk, dan kadang merinding. Saya takut, tetapi bukan rasa takut," jelas Tite.

Tite mengaku banyak belajar juga dari seniornya, Luiz Felipe Scolari, yang sukses membawa tim samba merebut gelarnya yang kelima pada 2002. Ia pernah menjadi mahasiswa Scolari untuk mata pelajaran pendidikan fisik. Bahkan, Tite menjadi pelatih fisik saat Scolari menangani Brasil di Piala Dunia 2014.

 

Mimpi Cafu

Sebagai negeri sepak bola wajar apabila rakyat Brasil berharap kesebelasan nasional mereka kembali menjadi yang terbaik di dunia. Dua puluh tahun merupakan waktu yang terlalu lama bagi Brasil untuk tidak berada di puncak sepak bola dunia.

Mantan kapten kesebelasan Brasil Cafu pun berharap para pemain muda bisa memberikan itu. Ia mengingatka sukses di Piala Dunia Qatar bukan hanya penting bagi sepak bola Brasil, melainkan juga yang jauh lebih berarti, membangunkan harapan bagi banyak anak-anak Brasil untuk keluar dari jerat kemiskinan.

"Saya sedang mengembangkan proyek sosial yang saya namakan: Cafuzinhos do Sertao. Saya membagikan sepatu, bola, makanan, dan mengajak mereka bermain dengan saya. Saya masuk ke pedalaman yang orang jarang mau datang. Saya sedih melihat anak-anak yang kekurangan gizi. Saya ingin menghidupkan harapan mereka dan membuat mereka yakin bahwa ada hal lebih besar yang mampu mereka capai," kata Cafu yang dua kali ikut membawa Brasil menjadi juara dunia 1994 dan 2002 dari tiga kali final yang pernah ia ikut tampil.

Kritik Cafu kepada Selecao sekarang ini ialah jauhnya hubungan antara pemain dan pendukungnya. Para pendukung fanatik tim samba tidak pernah tahu siapa 11 pemain terbaik yang akan diturunkan pelatih ketika akan turun bertanding.

"Dulu para pendukung Brasil tahu siapa pemain yang akan diturunkan pelatih sebagai starter. Sekarang kita tidak tahu apakah untuk posisi kiper misalnya, yang akan diturunkan Alisson Becker, atau Ederson, ataukah Weverton," tanya Cafu.

Salah satu yang menjadi penyebab renggangnya hubungan antara pemain dan pencintanya ialah terlalu cepatnya pemain Brasil bermain di Eropa. Vini dikontrak Real Madrid dengan bayaran 46 juta pound sterling pada usia 16 tahun. Rodrygo dikontrak Real Madrid dengan bayaran 45 juta pound sterling pada usia 17 tahun.

"Ketika saya masih bermain, saya membawa klub Brasil menjadi juara dulu, kemudian masuk tim nasional baru kemudian bermain di Eropa. Para pemain muda sekarang, pergi ke Eropa dulu baru kemudian masuk tim nasional. Akibatnya, banyak pendukung Brasil tidak mengenal mereka karena tidak pernah melihat mereka bermain untuk klub di negaranya dan mengikuti kompetisi di sini," kata Cafu yang pernah bermain untuk AS Roma dan AC Milan di Italia.

Namun, Cafu sependapat dengan Tite bahwa peluang Brasil untuk memenangi Piala Dunia 2022 sangatlah besar. Pemain-pemain muda sekarang bisa berkembang dengan cepat karena mendapat sentuhan dari pelatih terbaik yang ada di dunia.

"Vini merupakan masa depan sepak bola Brasil. Dia sangat profesional, rendah hati, dan dibutuhkan orang yang bisa semakin mengasah kemampuan. Beruntung Carlo Ancelotti ada di Real Madrid sehingga kita bisa melihat bagaimana pesatnya perkembangan Vini. Saya juga melihat hal yang sama pada Rodrygo sehingga Real Madrid seperti memiliki mesin yang bekerja dengan begitu baik," ujar Cafu.

Baca Juga

AFP

Lewandowski Jadi Korban Pencurian

👤Widhoroso 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 17:42 WIB
NASIB sial dialami penyerang baru Barcelona, Robert Lewandowski. mantan pemain Bayern Muenchen itu menjadi korban aksi...
AFP

Dortmund Ogah Tampung Ronaldo

👤Widhoroso 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 17:02 WIB
SPEKULASI transfer Cristiano Ronaldo, makin liar. Kini, megabintang Manchester United itu dilaporkan mendekat ke klub Bundesliga, Borussia...
 CHRIS RADBURN / AFP

Harry Kane Bidik Rekor Saat Hadapi Wolves

👤Akmal Fauzi 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 14:45 WIB
Gol krusial Harry Kane saat bermain imbang 2-2 melawan Chelsea pekan lalu itu adalah golnya yang ke-184, setara dengan dan Sergio Aguero di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya