Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Bersatu Bina Pesepak Bola Usia Dini

Satria Sakti Utama
03/3/2019 07:15
Bersatu Bina Pesepak Bola Usia Dini
(ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

TIGA gelar kejuaraan sepak bola se-Asia Tenggara di level kelompok umur dapat diraih tim nasional Indonesia dalam tujuh tahun terakhir. Teranyar, timnas U-22 Indonesia menyabet trofi Piala AFF U-22 2019 di Kamboja.

Keberhasilan itu dinilai sebagai pelepas dahaga di masa kemarau prestasi pada level timnas senior Indonesia. Ini juga menjadi bukti bahwa pembinaan usia muda di Indonesia di jalur yang benar.

Direktur Teknik PSSI Danurwindo menyebut bahwa keberhasilan timnas kelompok umur menjadi bagian dari proses pembentukan timnas senior yang lebih mumpuni.

"Ini proses panjang. Kita tidak mau di situ saja. Kita ingin membuat koneksi dari bawah, dari pemain muda hingga ke puncak. Kami ingin keberhasilan sesungguhnya berada di tim senior," kata Danurwindo di Jakarta, kemarin.

Kementerian Pemuda dan Olahraga juga ikut andil. Pemain top seperti Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman, misalnya, merupakan jebolan Sekolah Khusus Olahraga Ragunan yang ada di bawah pemerintah.

Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta, menyebut pihaknya memberi perhatian penuh kepada pembinaan usia dini.

Selain memaksimalkan peran Pusat Pembinaan dan Latihan  Pelajar di berbagai daerah, Kemenpora juga menggelar sejumlah turnamen di berbagai jenjang usia, seperti Piala Menpora U-12, U-14, dan U-16.

"Pembinaan usia muda untuk membuat atlet hebat perlu waktu paling tidak delapan tahun. Itu harus dipersiapkan dengan serius agar kita dapat sejajar dengan negara di Asia," jelasnya.

Raden juga menyoroti keseriusan pemerintah pusat yang telah menelurkan Instruksi Presiden Nomor 3/2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional. Inpres itu mendorong 14 kementerian/lembaga hingga pemerintah daerah guna mengambil langkah peningkatan prestasi sepak bola di level nasional ataupun internasional.

Peran swasta untuk membantu pembinaan usia muda juga tak dapat dipandang sebelah mata. Penyelenggaraan turnamen-turnamen usia muda dengan level nasional bahkan internasional mulai banyak digelar seperti Asiana Cup.

Pemilik Akademi Sepak Bola Asiana, Agus Gumiwang, mengaku ingin memberi atmosfer kompetisi berbeda bagi pemain muda nasional.

Agus menilai pembinaan usia muda sangat penting untuk memberi wawasan dasar sepak bola sejak dini. Turnamen usia dini juga menjadi ajang belajar dan bermain bagi anak untuk membentuk sikap sportif.

Hal senada juga diamini pemain timnas U-22 Indonesia, Muhammad Raffi Syarahil.

Ia menyebut turnamen di usia muda dapat membentuk mental bermain sejak usia dini.

"Turnamen seperti ini bagus untuk usia muda untuk melatih mental. Mereka bisa belajar dan tahu hal baru," ungkap gelandang Barito Putra tersebut.

Apresiasi untuk PSSI
Terlepas dari skandal yang ada, PSSI haruslah mendapat apresiasi terkait dengan pembinaan usia muda. PSSI, misalnya, menyelenggarakan 104 kursus kepelatihan sepanjang 2018.

Peningkatan kuantitas pelatih lisensi C dan D menjadi salah satu perhatian karena pelatih level inilah yang bersentuhan langsung dengan pembinaan usia muda.

Pembinaan juga makin terarah dengan lahirnya filosofi sepak bola Indonesia yang dinamakan Filanesia.

"Filanesia itu sebuah filosofi yang dirancang Departemen Teknik di PSSI berdasar ciri khas sepak bola di Indonesia. Menurut saya, itu cukup berhasil karena setelah dicetuskannya Filanesia, maka sepak bola kita berkembang dan juara," kata mantan pemain timnas, Ponaryo Astaman. (X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya