Melangkah di Bawah Matahari Salemba 

Ilustrasi: Mikhail Shemyakin¹ 

PERKEMBANGAN dunia perbukuan nasional di era digital dalam lima tahun terakhir ini mengalami kemajuan pesat. Puncaknya, jumlah judul buku tertinggi yang dipublikasikan terjadi pada saat pandemi covid-19. 

Siapa pun bisa menjadi penulis di era ini. Sebuah bukti sahih bahwa program literasi yang dikumandangkan berbagai komunitas, kelompok, dan lembaga barangkali sudah mencapai atau melewati target. 

Kendati demikian, pertanyaan mendasar ialah kenapa bermunculnya buku baru tak sebanding dengan sirkulasi di masyarakat? Apakah buku itu penting dalam sebuah peradaban budaya? 

Dua pertanyaan tersebut menjadi renungan setelah saya berdiskusi dengan sejumlah kalangan, baik penerbit, penulis, maupun akademisi secara terpisah. Sekadar meminjam pemikiran penulis buku The Culture Map: Breaking Through the Invisible Boundaries of Global Business, Erin Meyer. 

Meyer menyiratkan bahwa kesuksesan bisnis di dunia yang semakin mengglobal dan virtual membutuhkan keterampilan untuk menavigasi melalui perbedaan budaya dan memecahkan kode budaya asing bagi diri kita sendiri. 

Untuk mengetahui dunia perbukuan terkini, saya pun memutuskan untuk mengunjungi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI di Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (19/7). Ya, banyak hal yang bisa didapatkan di sana. 

Jam di dinding menunjukkan pukul 12.05 WIB, waktunya istirahat. Saya duduk sembari membaca hingga jam makan siang selesai. Kebetulan, saya sudah sarapan sebelumnya di rumah terlebih dahulu sehingga perut tidak keroncongan. 

Seorang staf menghampiri dan menanyakan tujuan kedatangan. Saya pun mengutarakan niat untuk berbincang-bincang atau sekadar berdiskusi dengan Kepala Pusat Bibliografi dan Pengolahan Bahan Perpustakaan, Perpusnas RI, Suharyanto. 

Di lobi, sejumlah buku tampak terpajang rapi di rak. Sesekali satu dua langkah dan suara orang terdengar jelas dari tangga darurat. Saya pun menunggu di sofa sambil membolak-balikkan sebuah buku katalog. Berisi daftar para penulis-penulis ternama abad ke-19 dan ke-20. 

Katalog tersebut berisikan nama-nama penulis hebat, antara lain sastrawan Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), peneliti Australia Rex Mortimer (1926-1979), dan peneliti Taufik Abdullah. Mata ini terus membaca halaman demi halaman. 

Tak berapa lama, seorang staf yang sama tadi muncul kembali. Sedikit senyum ramah, ia pun mempersilakan untuk berpindah tempat, dari ruang tamu ke ruang khusus Suharyanto. Saya pun mengikuti sambil menggotong tas. 

Baru berselang 15 menit, seorang ibu muncul mengantarkan dua gelas jus alpukat. “Silakan diminum dulu. Bapak bentar lagi tiba,” ujarnya sambil memegang erat dulang kecil tak berkaki. “Terima kasih, Bu! Nanti diminum,” sambung saya. 

Naluri ini tak langsung menyambar minuman jus segar itu. Hanya terus membaca secara santai. Di ruangan lainnya, para staf terlihat sibuk bekerja kembali seusai jam makan siang. 

“Sudah lama tiba, mas? Saya barusan ada acara dengan mahasiswa yang sedang pelatihan,” suara Suharyanto terdengar jelas dari depan pintu ruangan sembari bersalaman. “Belum begitu lama, pak,” jawab saya menengok ke arah kanan pintu. 

Suharyanto adalah sosok pustakawan ideal dan ramah. Tulisan-tulisannya banyak tersebar di sejumlah media daring dan surat kabar sehingga tak begitu asing. Ia aktif berkarya, baik menulis esai, artikel, maupun pantun. Hal itulah yang membuat namanya dikenal luas.

Ia kerap menggunakan nama penanya Suharyanto Mallawa. “Dalam dunia kepenulisan perlu nama belakang. Saya pakai nama keluarga dari istri. Ya, biar ada ciri khas dan mudah diingat pembaca,” papar suami dari Mulyati Mallawa itu, seraya tersenyum ranum. 

Kini, dunia penerbitan di Indonesia mengalami kemajuan pesat. Sayangnya, masih saja ada segelintir yang tidak profesional. Pertama, banyak penerbit baru bermunculan, namun tidak diikuti dengan sirkulasi yang memadai di masyarakat. 

Kedua, banyak penerbit yang selesai mendapatkan International Standard Book Number (ISBN) atau kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik, langsung menerbitkan buku, namun tidak serta-merta menyerahkan bentuk fisik ke bagian deposit Perpusnas. Dan, ketiga ialah banyak penerbit menjamur, namun tidak memiliki portal web. 

“Kami akan menata kembali permintaan ISBN agar penerbitan buku di Indonesia tertata rapi dan bagus,” tegas Suharyanto sembari menyeruput jus di siang bolong nan terik. 

Sebelumnya, Badan ISBN Internasional yang berbasis di London, Inggris, telah mempertanyakan sirkulasi buku-buku yang beredar di masyarakat Indonesia. Untuk itulah, Perpusnas melakukan penataan kembali secara lebih terstruktur. 

Lewat pengawasan bibliografi, ada hal-hal penting yang harus dipatuhi setiap penerbit. “Perkembangan informasi dan teknologi kian pesat. Kami juga berkoordinasi dengan lembaga terkait sehingga legal saat penataan kembali,” tanggap Suharyanto. 

Di tempat terpisah, sastrawan Seno Gumira Ajidarma,  dalam sebuah perbincangan mengaku miris dengan para pembaca di Indonesia. “Jangan salahkan penulis kalau buku tak laku. Persoalannya ya masih rendah minat baca dan daya beli masyarakat kita, toh,” cetus Seno. 

Judul buku meningkat pesat 

Dari data Perpusnas, judul buku dan ISBN pada 2017 hingga Juli 2022 mengalami kenaikan permintaan. Jumlah total 612.270 judul dan 662.285 ISBN. Peningkatan pesat terjadi selama pandemi covid-19. 

Pada 2017, misalnya, terdapat 69.964 judul buku dan 76.048 ISBN. Pada 2018 (89.056 judul dan 95.852 ISBN), pada 2019 (114.844 judul dan 123.227 ISBN), pada 2020 (134.447 judul dan 144.793 ISBN), dan pada 2021 (147.404 judul dan 159.330 ISBN). 

Untuk tahun ini, sudah mencapai 56.555 judul dan 63.035 ISBN yang telah dikeluarkan. Jumlah tersebut sedang berjalan dan akan bertambah hingga akhir tahun. “Dua tahun terakhir ini, banyak orang menulis dari rumah sehingga permintaan layanan ISBN juga meningkat,”  jelas Suharyanto. 

Memang tidak sedikit penulis baru, termasuk dari kalangan guru, bermunculan. Mereka ikut ambil bagian dalam penulisan buku selama era pandemi covid-19, namun tidak dibarengi dengan pemasaran buku yang meluas kepada masyarakat. Guru, misalnya, terpacu menulis demi kenaikan pangkat. 

“Banyak guru ikut menulis. Idealnya, saluran pemasaran juga harus diperhatikan sehingga buku dapat sampai ke masyarakat. Teknologi kian memudahkan sehingga akan lebih gampang diakses,” papar ayah tiga anak itu. 

Sudah 29 tahun Suharyanto terjun di dunia perbukuan dan perpustakaan sehingga apapun persoalan dapat ditanggulangi secara profesional. Pengalaman sebagai pustakawan pertama kali ia jalani di Dili, Timor-Timur, saat masih bergabung dengan Indonesia. Ia bertugas di perpustakaan daerah setempat pada 1993-1997. 

“Saya orang Jawa, namun suka dengan budaya Timor. Pengalaman bertugas dulu di Dili sangat membekas di ingatan ini. Kalau pas waktu liburan saat itu, saya sering traveling dari Dili ke Kupang. Perjalanan itu sangat menyenangkan,” kenangnya. 

Sebagai seorang teladan di lingkungan sosial dan tempat kerjanya, lelaki kelahiran Jakarta, 1 November 1969 itu selalu memegang teguh lima semboyan di dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. 

Kelimanya ialah berdoa, belajar, bekerja, berkarya, dan berbagi. 

“Belajar adalah kemerdekaan untuk membaca apapun. Tidak hanya buku, namun juga melihat fenomena sosial yang ada di sekitar kita. Harus peka membaca perubahan zaman,” papar Suharyanto, bijak. 

Memang, buku sangat penting dalam dunia pendidikan. Budaya baca menjadi tradisi di Eropa. Sebaliknya juga telah menjadi budaya dalam sebagian besar masyarakat kita di Tanah Air. Buku apapun memiliki pembacanya masing-masing. 

“Staf di sini jumlahnya lebih kurang 80-an orang. Saya selalu dorong mereka agar dapat menulis. Bisa menulis untuk surat kabar, jurnal ilmiah, dan sebagainya. Ini salah satu motto saya, yaitu berbagi pengetahuan,” akunya. 

Memang benar apa adanya. Profesi sebagai penulis di Indonesia terus bertambah dari hari ke hari, namun belumlah sebanding dengan meningkatnya daya beli buku di masyarakat sebagaimana dikritisi Seno, misalnya. 

Lewat diskusi-diskusi antar kelompok, komunitas, dan lembaga patut menjadi pegangan bersama. Kegiatan tulis-menulis bukanlah bagi diri sendiri, melainkan masyarakat luas. 

Sebagaimana penulis Tanzania dan peraih Hadiah Nobel Sastra 2021 Abdulrazak Gurnah mengungkapkan ‘Saya tidak tertarik menulis tentang para pahlawan, melainkan tentang masyarakat kecil’. 

Siang itu, sejumlah pengunjung ramai di lobi. Mereka sedang menunggu untuk mendapatkan layanan pengidentifikasian buku. Saya melangkah dan menekan tombol lift menuju ke lantai bawah. Di luar gedung, matahari terik jatuh di ubun-ubun. Kedua kaki ini terus berayun meninggalkan Salemba. (SK-1) 

 

Catatan 

¹ Ilustrasi dari buku Epigram Klasik Spanyol berjudul Pendeta Biscay, kertas, tinta, dan cat air (1965), karya seniman asal Moskwa, Rusia, Mikhail Shemyakin (1943). Karya ini menggambarkan seorang pendeta dengan belati yang sia-sia mencoba menakut-nakuti anjing dengan membaca bagian dari Kitab Suci. Karya Shemyakin tersebut sempat tergeletak di sebuah rumah penerbitan fiksi selama hampir lima tahun dan diterbitkan hanya pada 1970 di Moskwa. Setelah diterbitkan, buku tersebut dianugerahi penghargaan pada sebuah pameran di Venezia, Italia. 

 

 

 

Iwan Jaconiah adalah penyair, editor puisi Media Indonesia, dan penulis buku Hoi!, sebuah kumpulan puisi tentang kisah diaspora Indonesia di Rusia.