Sajak-sajak Ebenhaezer Rante 

Kezya 

Kau periang dan cengeng 
tak membiarkan orang lain bergundah gulana
matamu berbinar sayu, biru jernih bak kemilau 
mutiara di dasar pantai, tapi nyatanya bias beringas. 
 
Tawamu bulat bersarang kesenangan 
nyatanya rindu aku menanti kehangatan 
menciptakan puisi buatmu adalah doa 
beraroma mawar sepanjang hayat. 

Di mana purnama bersarang dalam pigura 
berceloteh segala dongeng tentang namamu 
barangkali puisi ini serupa aliran Sungai Ob 
hanyutkan matamu dari hulu Laut Kara 
yang menyusur jauh sebermula 
aku karam di muara hatimu. 

2021 

 

Barangkali Tuhan Jatuh Cinta Saat Menciptakan Moskwa 

Barangkali Moskwa tercipta saat Tuhan sedang jatuh cinta. Lampu-lampu metropolitan bercahaya jauh, tampak memainkan warna serupa. Sama halnya gadis Rusia, tak kalah paras berkilau kening kotanya. Ikut beserta memainkan pikiranku, sedari tadi penuh tanya; Peradaban ini kota diciptakan siapa untuk apa? Bagi Romanov dan semestanya mungkin jawaban. 

Barangkali Tuhan jatuh cinta, aku pun sama merasakan getaran berkali-kali, ingar bingar lampu kota, sorot kereta kuda dan suara lonceng bersahutan di jalanan. Hiruk pikuk orang berlalu lalang di stasiun lorong tanah. 

Gemuruh suara ular besi meliuk, memekakkan telinga. Berbeda sekali kota belajarku di Novosibirsk, sepi sendiri. Hanya elegi musim dingin tak kunjung usai. Suhunya mengoyak tubuh ini, saban hari minus 32 derajat Celcius. 

Ada yang bisik; “Jangan bilang kamu pernah ke Moskwa kalau belum ke Kremlin.” Kalimat itu benar adanya. Padatnya orang berlalu lalang di istana Tsar, GUM, dan tak begitu jauh dari titik nol, ada Arbat, kawasan glamor. 

Pernak-pernik kota seketika membuatku takjub. Seorang ayah menggandeng anaknya. Seorang nenek bersama cucu berfoto ria di depan St. Basil. Begitu juga seorang lelaki asyik menggandeng tangan kekasihnya; saling mencumbu dan merayu serupa dunia milik sendiri. 

Barangkali Moskwa tercipta saat Tuhan jatuh cinta. Rasa itu, rasa yang sudah hilang lama dalam hidupku, kembali lagi. Rasa yang membuatku rindu akan negeri nun jauh di seberang. Barangkali Tuhan menciptakan Indonesia saat Tuhan kembali jatuh cinta. 

2021 

 

Musim Ujian 

Pagi ini 
sunyi, dingin, gelap 
bertebar aroma gelisah. 

Namun, 
semangat membara, melelehkan pagi 
alunan nada membungkam senyap 
ada emosi mendidihkan sejuk. 

Pagi ini 
seorang pelajar 
rela membakar hari 
hanya untuk bakat terampilnya 
 
Untuk kamu yang menunggu 
aku menghadapi musim baru untukmu. 

2021 

 

Penyaring Rindu 

Menyaring rindu 
bersama sepoci ampas hari 
siapa tahu bisa kuseduh kembali 
menuntaskan dahaga akan dirimu 
 
Rinduku terlalu tua 
sayang, akarnya menghujam 
merambat entah ke mana-mana 
aku mencabut sebelum memeram 
 
Padam, hidup kembali 
sekali lagi mati, maka perlahan 
kuhidupkan sekali lagi, sayang 
menyaring hatimu yang terlanjur senyap. 
 
2021  

 

Apa Kabar Indonesia 

Indonesiaku, negeri makmur dan kaya raya. Takkan berdiri tanpa bantuan asing. Cina, bangunkanlah infrastruktur di negara kami dalam wujud modernisasi. Vietnam, ekspor beras, kami butuh itu untuk hidup. Jepang, buatkan kami kendaraan, dari motor sampai kereta cepat. Hidup ini dinamis. Amerika, kami memerlukan danamu, masih banyak yang harus dibenahi. 
 
Sebagai imbalannya, ambil harta kami, kekayaan alam kami, tapi jangan kedaulatan kami. Pantas saja, mereka memanggilmu otopilot karena kau terombang-ambing tanpa jelas tujuan ke mana, yang penting golongan tertentu terpenuhi. 
 
Apakah kamu mendengar? Membaca berita daring, rakyatku dilanda susah. Korona mencabik-cabik segala golongan. Ada yang berteriak lirih dengan cucuran keringat dan air mata; tolong, tolong, tolong! 

Susahnya menghasilkan pundi-pundi rupiah di kala pandemi. Kami ingin hidup layak dan sekolah seperti biasa. Pelajaran daring membuat muak. Para sarjana resah meratapi ijazah, kami ingin sejahtera kawan! 

Negara tetangga mencaci dan menghina, dicap negara paling tidak sopan se-Asia. Negara yang dulu menyebut engkau macan, kini mereka jemawa dan tertawa, karena macan sekarang bergigi ompong. 

Inilah saatnya muda-mudi Indonesia di luar negeri menyadari apa yang harus disadari, memahami apa yang sebenarnya harus dipahami. Bangkit, rebut kembali jiwa Indonesia yang mati. Hai kawan! Kita bukan generasi penerus bangsa, melainkan pengubah bangsa.

Wajah bangsa disauh bersama ke arah satu pelabuhan. Tanjung Harapan atau Segitiga Bermuda? Pilihan ada di tangan kita. Indonesia menantikan revolusi; jalan panjang menuju ke seabad pertama. Indonesia aku pilih menjagamu! 

2021 

 

 

 

 

Ebenhaezer Alfaritz Rante, lahir di Jakarta, pada 19 Maret 2002. Mahasiswa berdarah Minahasa ini gemar akan membaca, menulis, dan mengunjungi museum. Pernah meraih Harapan 1 Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) puisi tingkat DKI Jakarta. Puisi-puisi Ebenhaezer ini tergabung dalam antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari Negeri Pushkin yang akan segera diterbitkan. Kini, dia sedang menempuh pendidikan program S1 Biologi di Novosibirsk State University, Rusia.