Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Denny Sanusi mengatakan Ramadan merupakan bulan yang tepat untuk berjihad menahan diri dari keburukan sehingga dapat menciptakan perdamaian.
"Ramadan adalah momen yang tepat yang harus kita maksimalkan untuk hal positif, baik itu berkaitan dengan ibadah agama, maupun untuk lingkungan dan komunitas kita. Dalam berpuasa itu kita jihad menahan diri, tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan diri dari hal atau perbuatan negatif," kata Denny seperti dilansir Antara di Jakarta, Jumat (1/4).
Ia melanjutkan, bulan suci Ramadan merupakan bulan mulia yang dapat dimanfaatkan umat untuk menebar kebaikan, juga menjadi ajang berbagi serta melatih kepekaan sosial baik kepekaan terhadap kondisi sekitar, maupun peka terhadap narasi radikal yang tersebar di dunia maya.
"Kita bisa manfaatkan kepada hal-hal positif di bulan yang mulia ini. Dengan dakwah bil-hal, kita bisa menerapkan bakti sosial, dalam konteks untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, proaktif terhadap konten negatif radikal, berlomba-lomba berbuat kebaikan," ungkap Denny.
Dewasa ini, Denny mencermati sebaran konten negatif radikal yang semakin masif melalui produksi hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah yang mengganggu ketenteraman dan mengancam keutuhan persatuan bangsa.
"Sekaligus ada sebuah peningkatan, saat ini memang konten negatif tetap beredar di sekeliling kita, mereka yang sudah tercuci otak ini (kelompok radikal) tidak peduli akan hadirnya bulan Ramadan, kita yang harus proaktif," jelasnya.
Menurut dia, akan menjadi serius di kemudian hari jika media tetap dibiarkan diisi oleh kelompok radikal. Masyarakat akan menjadi lebih percaya terhadap berita hoaks, jika kelompok moderat tidak mengambil peran, tentunya hal ini sangat mengancam kehidupan harmonis bangsa.
Baca juga: Menag: Jadikan Ramadan Momentum Perkuat Solidaritas
"Kalau diam, nanti media mereka kuasai dan akhirnya masyarakat terbiasa menelan berita yang mereka propagandakan, nah itu berbahaya, nanti masyarakat akan percaya kepada berita itu," tegas Denny.
Sekjen Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini mendorong agar di bulan suci Ramadan selain memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, umat juga dapat berperan dalam melawan sebaran narasi radikal intoleran di media. Caranya dengan menggunakan kemampuan dan keahlian masing-masing.
"Harus masif dan militan melawan kelompok mereka, jika mereka menyerang dengan konten maka kita serang kembali dengan konten, sesuai maqom-nya kalau jaman sekarang ini. Kalau mereka menyerang melalui media kita serang balik melalui media," tegasnya.
Dengan cara tersebut, Denny optimistis konten berimbang yang berisi konten keagamaan maupun konten positif lainnya dapat menutup ruang narasi kelompok radikal.
"Maka kita harus imbangi dengan konten positif yang berhubungan dengan agama dan sebagainya. Jangan diam saja karena mereka ini sebenarnya menyebarkan konten atau narasi kecil namun karena mereka kompak maka ini menjadi besar, maka kita kerahkan semua lini untuk menyampaikan hal yang positif," jelasnya.
Ia juga menyinggung peran pemerintah beserta segenap tokoh agama untuk bisa memanfaatkan momen Ramadan sebagai wadah untuk memasifkan upaya pencegahan radikalisme dengan mengusung aksi konkret demi mengusung tahun 2022 ini sebagai tahun toleransi yang penuh perdamaian dan tahun-tahun berikutnya.
"Bukti konkretnya adalah kita lakukan ceramah, tablig akbar, seminar atau workshop misalnya. Lalu kita mengimbau kepada para tokoh agama agar juga harus masif dan militan melawan kelompok mereka. Kita isi tahun ini dengan hal positif, bagaimana menyongsong tahun berikutnya sebagai tahun harapan kita. Kita wajib membantu pemerintah," ujarnya. (Ant/S-2)
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Hukum mengucapkan Selamat Natal dari Muslim menurut Islam. Simak dalil Al-Qur’an dan perbedaan pendapat ulama secara lengkap.
Masjid Ramah Pemudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 untuk menghadirkan masjid sebagai ruang layanan publik yang inklusif dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat.
Chico ini mengaku bersyukur dengan pengalaman pendidikannya di sekolah Katolik sejak SD hingga SMP, yang membuatnya memahami betul pentingnya toleransi.
KEMENTERIAN Agama Republik Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin atas komitmennya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat.
FKUB Maybrat menggelar KKR untuk memperkuat toleransi dan mengajak masyarakat menjaga kamtibmas jelang akhir tahun.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya kebhinnekaan sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa saat menghadiri Penganugerahan Harmony Award 2025
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved