Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Presiden Bawa Ratusan Triliun Investasi dari Jepang-Korsel, Ini Respons Gerindra

Rahmatul Fajri
03/4/2026 19:42
Presiden Bawa Ratusan Triliun Investasi dari Jepang-Korsel, Ini Respons Gerindra
Presiden Prabowo Subianto dan Kaisar Naruhito(Instagram/@sekretariat.kabinet)

ANGGOTA DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti memberikan catatan atas rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan yang berlangsung pada 29 Maret hingga 1 April 2026. Azis menilai kunjungan ini menandai transformasi posisi tawar Indonesia dari sekadar pasar menjadi pemain kunci dalam kemitraan global di Asia Timur.

Dalam lawatan di Tokyo, Jepang, Presiden Prabowo berhasil mengukuhkan komitmen kerja sama ekonomi bernilai fantastis. Fokus kerja sama tersebut kini bergeser ke sektor teknologi masa depan.

"Namun yang membuatnya berbeda bukan semata angka yang besar, melainkan wataknya yang berubah: energi bersih, kendaraan listrik, dan infrastruktur masa depan yang tidak lagi sekadar membangun ruang, tetapi membangun arah," ujar Azis melalui keterangannya, Jumat (3/4/2026).

Setelah menuntaskan agenda di Jepang, perjalanan dilanjutkan ke Seoul, Korea Selatan, pada 1 April 2026. Di sana, Presiden Prabowo bertemu dengan Lee Jae-Myung di Blue House untuk menyepakati penguatan kerja sama di sektor pertahanan hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Azis mencatat terdapat sepuluh nota kesepahaman (MoU) penting yang ditandatangani, mencakup kemitraan mineral kritis, pengembangan digital untuk kesehatan dasar, hingga penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).

"Di sana, teknologi tidak lagi menjadi pelengkap. Ia menjadi fondasi. Kerja sama energi bersih, penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), industri pembangkit lepas pantai, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual dan kemitraan keuangan, semuanya membentuk satu benang merah: masa depan tidak bisa ditunda," tegas Azis.

Selain kesepakatan formal antarnegara, Azis Subekti juga menyoroti aspek diplomasi kemanusiaan yang diperlihatkan oleh warga negara Indonesia di Korea Selatan. Ia mencontohkan aksi heroik Sugianto, seorang pekerja migran Indonesia yang menyelamatkan warga setempat dari musibah kebakaran.

Menurut Azis, tindakan personal tersebut memberikan pesan kuat bagi hubungan bilateral kedua negara yang tidak bisa diwakili hanya oleh dokumen diplomatik.

"Ia tidak hadir di ruang perundingan. Ia tidak menandatangani nota kesepahaman. Tetapi dalam satu tindakan yang lahir dari naluri kemanusiaan, ia menjelaskan sesuatu yang sering luput dari diplomasi: bahwa kepercayaan tidak pernah benar-benar lahir dari dokumen, melainkan dari keberanian manusia untuk saling menjaga," tuturnya.

Lebih lanjut, Azis menyimpulkan bahwa hasil kunjungan empat hari tersebut merupakan cara baru Indonesia dalam memandang kemitraan internasional yang lebih setara.

"Kunjungan ini bukan tentang apa yang selesai pada 1 April 2026. Ia tentang sesuatu yang mulai menemukan bentuknya. Bahwa Indonesia tidak lagi cukup menjadi pasar, ia harus menjadi pemain. Bahwa Jepang tidak cukup hanya stabil, ia harus membuka ruang kemitraan yang lebih setara. Bahwa Korea Selatan tidak cukup hanya cepat, ia harus memastikan bahwa kecepatannya membawa keberlanjutan," pungkas Azis.

Sebelumnya, enteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan membuahkan komitmen investasi besar hingga mencapai Rp574 triliun.

Dari Korea Selatan, Indonesia menandatangani 10 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan nilai mencapai Rp173 triliun.

Sementara itu, dalam kunjungan ke Jepang, kedua negara menyepakati sembilan MoU dengan total investasi sebesar Rp401 triliun. Kerja sama ini mencakup sektor energi dan transisi energi, minyak dan gas (migas) terutama proyek Masela, industri dan hilirisasi, keuangan dan inklusi finansial, serta investasi kelembagaan melalui Japan External Trade Organization (Jetro) dan Kadin, termasuk sektor industri kreatif dan manufaktur.

"Kunjungan bapak Presiden di kedua negara ini menghasilkan komitmen investasi sebesar Rp574 triliun," jelas Airlangga. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya