Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga menyesalkan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto yang menyebut bahwa situasi bencana di Sumatera hanya mencekam di medsos. Sebelumnya netizen di media sosial menyebut rindu akan sosok Juru Bicara BNPB Alm.Sutopo Purwo Nugroho.
Menurut Jamiluddin, pernyataan tersebut tidak mencerminkan standar komunikasi publik yang semestinya dijaga pejabat negara. Ia menekankan pejabat publik wajib menyampaikan informasi yang berbasis pada fakta.
“Sebagai pejabat publik, seharusnya Suharyanto menyampaikan informasi publik berdasarkan fakta. Sebab, dalam komunikasi publik setidaknya informasi yang disampaikan seyogyanya akurat, lengkap, relevan, tepat waktu, dan empati,” ujar Jamiluddin kepada Media Indonesia pada Selasa (2/12).
Jamiluddin menilai sejumlah aspek komunikasi publik diabaikan oleh Suharyanto. Ia mencontohkan bahwa tingginya jumlah korban jiwa lebih dari 600 orang seharusnya sudah cukup menggambarkan betapa seriusnya situasi di Sumatera.
“Aspek abaikan fakta akurat misalnya, dengan korban tewas sebanyak 604 jiwa tentu menggambarkan mencekamnya bencana Sumatera. Korban jiwa sebanyak itu tentu menggambarkan dahsyatnya bencana tersebut,” imbuhnya.
Menurutnya, pernyataan BNPB juga tidak lengkap sehingga membingungkan publik. Ia menilai Suharyanto terkesan tergesa-gesa menyampaikan informasi tanpa dukungan data yang cukup.
“Pernyataan Suharyanto juga tidak lengkap, sehingga membingungkan publik. Hal ini terjadi karena Suharyanto menyampaikan informasi bencana tergesa-gesa. Ingin cepat menyampaikan informasi, tapi belum didukung data yang cukup,” ujarnya.
Jamiluddin mengatakan informasi yang disampaikan BNPB menjadi tidak relevan bagi publik yang sedang cemas dan menantikan fakta soal kondisi lapangan.
“Publik ingin mengetahui detail bencana, tapi informasi yang diterima justru soal mencekam. Informasi seperti ini tidak dibutuhkan publik yang lagi cemas,” jelasnya.
Mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu menilai penyampaian informasi tersebut juga tidak tepat waktu dan kurang empati.
“Informasi tidak mencekam juga disampaikan tidak tepat waktu dan mengabaikan empati. Sebab, informasi tersebut pada saat itu tidak dibutuhkan atau tidak relevan bagi publik. Informasi tersebut justru melukai perasaan sebagian besar publik,” ujarnya.
Jamiluddin menegaskan bahwa pejabat publik seharusnya tidak membuat pernyataan yang menyakiti publik di tengah bencana. Oleh karena itu, ia mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi posisi Kepala BNPB.
“Karena itu, Presiden Prabowo Subianto seyogyanya mengevaluasi Suharyanto sebagai Kepala BNPB,” tegasnya.
Evaluasi itu, menurutnya, penting agar pejabat publik lebih berhati-hati dan memiliki pedoman komunikasi publik yang jelas. (H-4)
Kepala BNPB memastikan setiap kepala keluarga yang kehilangan rumah akan memperoleh satu unit hunian, meski sebelumnya tinggal bersama dalam satu rumah.
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Nasional Letjen TNI Suharyanto menegaskan, pemerintah tidak membeda-bedakan satu daerah dengan daerah yang lain.
KAMMI menyoroti beberapa poin krusial terkait kinerja BNPB di bawah kepemimpinan saat ini, yakni respons pascabencana yang lamban.
Masyarakat kembali menyoroti kinerja Kepala BNPB setelah banjir Sumatra 2025, sambil mengenang sosok-sosok legendaris seperti Doni Monardo, Sutopo Purwo Nugroho, dan Achmad Yurianto.
Mengenang Doni Monardo, mantan Kepala BNPB, yang warisan kepemimpinannya tetap menjadi inspirasi dalam menghadapi bencana hidrometeorologi
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
Pembangunan huntara dilakukan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatra. Rinciannya, sebanyak 16.282 unit huntara dibangun di Aceh, 947 unit di Sumatra Utara, dan 618 unit di Sumatra Barat.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan akan membuka akses yang terputus akibat tanah longsor di Sumatera Utara (Sumut) serta banjir di Sibolga dan Tapanuli
Kepala BNPB Suharyanto memaparkan dampak signifikan efisiensi anggaran berdampak pada kemampuan BNPB mendukung pemda dalam pengadaan peralatan.
Bantuan itu terdiri dari obat-obatan, alat kesehatan, logistik, dan barang lainnya sesuai permintaan yang tertuang dalam nota diplomatik dari pemerintah Mesir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved