Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menegaskan bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak boleh dijadikan alat kepentingan politik atau sarana bagi-bagi jatah kekuasaan. Pernyataan ini sejalan dengan temuan dari Transparency International Indonesia (TII) yang menyebut adanya dominasi politisi dalam jabatan komisaris di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari total 562 posisi komisaris di 59 BUMN induk dan 60 anak usaha, sebanyak 165 orang tercatat memiliki latar belakang politik.
Menurutnya, intervensi politik dalam dunia bisnis, khususnya pada BUMN, dapat membawa dampak buruk tidak hanya bagi perusahaan itu sendiri, tetapi juga terhadap terciptanya iklim usaha yang sehat.
"BUMN kalau mau sehat seharusnya jangan jadi bancakan politik," tegas Herry saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (1/10).
Ia berpandangan, salah satu persoalan utama dalam lembaga tersebut ialah penempatan politisi sebagai komisaris BUMN, terlebih jika merangkap sebagai pengurus partai politik.
"Praktik ini dinilai melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku," tudingnya.
Lebih jauh, bila jumlah politisi dalam jajaran komisaris semakin dominan, apalagi berasal dari satu partai, maka independensi BUMN sulit diharapkan. Risiko benturan kepentingan sangat besar, dengan kecenderungan dua hal. Pertama, BUMN dikendalikan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi partai; atau kedua, BUMN dijadikan bancakan untuk sekadar membagi-bagi jatah.
Dengan kondisi seperti itu, independensi dan profesionalisme dalam pengelolaan BUMN nyaris mustahil tercapai.
"Karena itu, jangan harap ada independensi atau profesionalisme di BUMN. Fungsi pengawasan di BUMN yang jadi tugas utama dewan komisaris tidak akan berjalan efektif," tudingnya.
Selain itu, keterlibatan politisi dalam pengambilan keputusan di BUMN cenderung menjadikan keputusan berorientasi pada kepentingan politik atau jaringan politiknya, bukan pada kepentingan bisnis yang rasional dan berorientasi pada pertumbuhan perusahaan.
Oleh karena itu, Herry menegaskan, jika ingin BUMN sehat dan mampu berkembang secara profesional, perusahaan-perusahaan negara ini harus dijauhkan dari intervensi politik. (E-3)
Dominasi politisi dan birokrat kembali mencuat dalam struktur komisaris perusahaan pelat merah. Riset Transparency International Indonesia mencatat, lebih dari separuh kursi komisaris di BUMN dan anak usahanya diisi oleh kalangan birokrat dan politisi. Kondisi ini dinilai mencerminkan kuatnya praktik patronase politik yang berpotensi menghambat profesionalisme dan kinerja korporasi.
KETUA DPR RI Puan Maharani merespons adanya temuan 165 dari 562 kursi Komisaris BUMN yang diisi oleh politisi.
PENGAMAT BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto menanggapi maraknya politisi di kursi komisaris BUMN.
TRANSPARENCY International Indonesia (TII) menemukan politisi dalam jabatan komisaris BUMN, Total 562 posisi komisaris, 165 orang politisi separuhnya kader Gerindra
ANGGOTA Komisi VI DPR RI, Nasim Khan mendukung rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menghapus tantiem bagi komisaris badan usaha milik negara (BUMN).
PAKAR hukum tata negara Feri Amsari menilai penambahan jumlah komisi di DPR belum tentu efektif dalam membantu kerja-kerja para wakil rakyat.
Rencana Presiden terpillih Prabowo Subianto untuk membentuk kabinet zaken disebut sulit terwujud lantaran dibayangi oleh bagi-bagi kursi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved