Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Pusat Studi Pemikiran Pancasila Syaiful Arif, mengatakan, adanya hubungan yang melekat antara ideologi Islam dengan Pancasila. Menurutnya, rumusan Pancasila tidak lepas dari pemikiran Islamisme yang dimiliki Soekarno.
Dalam pemaparannya pada diskusi publik bertajuk 'Negara Pancasila dan Cita-Cita Islam', Syaiful menyakini pemikiran Islamisme Soekarno sudah dikenal sejak Soekarno muda. Di mana Soekarno dikatakannya, kerapkali menuangkan pemikiran-pemikiran Islamismenya pada sejumlah tulisan di surat kabar sarekat Islam.
"Sebenarnya pemikiran Islam dan Pancasila Soekarno sudah beliau rumuskan sejak muda sejak tahun 1926 saat beliau umur 25 tahun. Kenapa, karena memang ideologi pertama yang dikenal oleh Soekarno muda adalah sosialisme Islam bahkan sebelum Soekarno mengenal nasionalisme," ucap Syaiful dalam diskusi, Sabtu (3/6).
Baca juga : Dari Soekarno hingga Jokowi, Ini Biodata Lengkap Presiden Indonesia dan Wakilnya
Dijelaskan Syaiful, saat aktif menulis Soekarno kerap menggunakan Islam sebagai ideologi untuk melawan penjajahan. Dikatakan Syaiful, hal tersebut bahkan pernah ditegaskan Soekarno pada salah satu tulisannya.
Baca juga : Rumah Kelahiran Bung Karno di Surabaya Dibuka jadi Objek Wisata
"Dalam salah satu kutipannya beliau menyatakan bersama Islam atau dengan Islam kita enyahkan kolonialisme yang merupakan kepanjangan tangan dari kapitalisme," tuturnya.
Meskipun dalam perjalanannya Soekarno lebih dekanal dengan ideologi nasionalismenya, namun Syaiful mengatakan bahwa sejatinya pemikiran Islamisme tidak pernah lepas dari Soekarno.
Ketegasan pemikiran Islamisme Soekarno disebutkan Syaiful pernah ditegaskannya, saat Soekarno mendapat kritik dari KH Agus Salim. Saat itu Agus Salim menolak keras ideologi nasionalisme Bung Karno.
"Awalnya tahun 1930an ketika Soekarno mengkampanyekan nasionalisme, Agus Salim mengkritik Soekarno terkait nasionalisme dan mewanti-wanti umat Islam jangan menerima nasionalisme karena di Eropa nasionalisme manjadi berhala," ucap Syaiful.
"Namun Soekarno menegaskan bahwa nasionalisme yang kita (Indonesia) anut adalah bukan nasionalisme Eropa bukan nasionalisme materialis tetapi nasionalisme yang ketimuran. Yang menempatkan kita sebagai perkakas Tuhan dan menjadikan kita hidup di dalam roh," jelasnya.
Syaiful mengatakan, jika melihat kembali rumusan Pancasila, sejatinya pemikiran Islamisme Soekarno tidak hanya terdapat pada sila ketuhanan (sila pertama), namun juga terdapat pada sila terkait mufakat atau demokrasi (sila keempat).
"Akomodasi Pancasila yang diusulkan oleh Soekarno terhadap Islamisme itu juga ada di dalam sila demokrasi yang diucapkannya pada pidato 1 Juni 1945," ucap Syaiful.
"Di sana Soekarno menegaskan, intinya adalah teman-teman tokoh-tokoh Islam tidak perlu khawatir meski dasar negara kita bukan Islam, tetapi saya tawarkan demokrasi sebagai sistem politik yang menjamin teman-teman kelompok Islam tetap bisa memperjuangkan Islam melalui parlemen. Ini adalah salah satu kata kunci di dalam pemikiran Soekarno tentang hubungan Islam dan Pancasila," tukasnya. (Rif)
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memperingati Hari Ibu Tahun 2025 melalui kegiatan lokakarya tematik bertema Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045
ADA sejumlah kalangan, terutama aktivis hak-hak asasi manusia, sangat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang menyetujui pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden Soeharto.
Dari tujuh presiden Indonesia, lima di antaranya pernah berpidato di Sidang Umum PBB, yakni Soekarno, Soeharto, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo.
Al Barghouti juga mengenang kedekatan sejarah kedua bangsa dan berharap Indonesia terus ikut memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Awalnya proklamasi kemerdekaan RI direncanakan di Lapangan Ikada. Namun, Soekarno memutuskan membacakannya di rumah. Ini alasan di balik keputusannya.
DALAM rangka memperingati Bulan Bung Karno, organisasi sayap PDI Perjuangan, Banteng Muda Indonesia (BMI) menggelar Soekarno Padel Open 2025, Sabtu (28/6).
JIKA kita mengikuti berita-berita dari luar negeri, khususnya mengenai perlakuan Israel terhadap Palestina, hati kita sebagai pendukung historis Palestina menjadi kesal dan mendongkol.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved