Kamis 08 Desember 2022, 20:18 WIB

Koalisi Berbasis Programatik Akan Lebih Solid

Mediaindonesia | Politik dan Hukum
Koalisi Berbasis Programatik Akan Lebih Solid

MI/Duta
Ilustrasi

 

DIREKTUR Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) mempunyai ikatan yang lebih kuat sebab direkatkan dengan landasan programatik dibanding koalisi yang direkatkan dengan basis kandidat yang dinilai lebih rapuh.

"Jadi wajar basis gampang drop-out. Basis koalisi bukan berbasiskan platform idelogi, bukan tautan programatik tapi klik koalisi soal kandidasi saja. Jadi basis koalisi ini rapuh sebetulnya," terangnya.

Partai Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri atas Golkar, PAN, dan PPP mempunyai visi-misi koalisi yang terbingkai dalam Program Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional (PATEN). Program tersebut menjadi perekat antara partai anggota koalisi. KIB lebih memilih pendekatan program dibanding pendekatan sosok nama capres.

Meski demikian, Pangi menilai KIB juga bertumpu pada pendekatan yang lebih transaksional dan pragmatis, serta bisa menampung semua partai.
"Lem perekat koalisinya pendekatan transaksional dan pragmatis, lebih ke match all party," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IPRC Firman Manan mengatakan bahwa awalnya KIB merupakan koalisi yang maju dengan program sebelum menentukan Capres mereka.

Baca juga: LKP Merilis Hasil Survei Pacuan Elektabilitas Mengerucut pada Tiga Nama

“KIB di awal mereka bicara platform sempat mengeluarkan manifes politik, program ekonomi (PATEN),  tetapi memang kelihatannya ada pergeseran terutama, pasca deklarasi Anies , kekuatan politik itu kembali fokus mencari kandidat,” tegas Firman.

Partai Golkar bergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama PPP dan PAN. Golkar memiliki suara terbesar dan sampai saat ini masih sepakat mengusung Ketuk Airlangga Hartarto sebagai Capres.

Koalisi besar

KIB saat ini masih membangun komunikasi tentang Capres, dan tengah menunggu kedatangan anggota baru. Firman mengatakan, dalam sebuah koalisi, partai yang memiliki suara terbesar berpeluang untuk mengajukan Calon Presiden ( Capres) mereka.

“Pada akhirnya partai yang punya suara besar punya potensi lebih menentukan siapa yang menjadi Capres, hari ini misalnya Golkar tentu punya peluang,“ kata Firman saat berbincang hari ini.

“Perlu dilihat apakah partai yang bergabung apakah dengan suara signifikan atau tidak. Kalau suaranya signifikan mungkin tadi,  asumsi malah menambah calon baru. Tetapi kalau suara tidak signifikan, saya pikir tidak muncul nama baru,” imbuh Firman yang juga Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Padjadjaran ini.

Lebih lanjut Firman mengatakan, sejak 2004 mulai muncul bentuk koalisi besar. Hal ini yang tampaknya masih berlangsung sampai sekarang. Bukan cuma KIB yang membuka diri, namun juga koalisi lain seperti Gerindra-PKB. (OL-4)

Baca Juga

MI/HO

Perpanjangan Jabatan Kades 9 tahun, Untuk Apa? Ini kata Budiman Sudjatmiko

👤Muhamad Fauzi 🕔Selasa 31 Januari 2023, 10:10 WIB
PENGGAGAS UU Desa, Budiman Sujatmiko menyatakan masa enam tahun itu tidak cukup bagi pemimpin desa dalam mewujudkan pembangunan dalam...
Ist/Instagram

Polda Metro: Ada Hubungan Asmara Kompol D dengan Wanita di Mobil Audi A6

👤Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Selasa 31 Januari 2023, 09:44 WIB
Kompol D memiliki hubungan dengan Nur dalam kasus kecelakaan yang menewaskan mahasiswi Universitas Suryakancana, Selvi Amalia...
Antara

Hak-hak Korban Indosurya Harus Dipenuhi

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 31 Januari 2023, 09:41 WIB
Pengadilan memutuskan kasus KSP Indosurya bukan merupakan tindak pidana, melainkan perkara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya