Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Nasional Progressive Democracy Watch (Prodewa), Fauzan Irvan, memberikan pendapat terkait masifnya pergerakan mahasiswa di saat situasi pandemi saat ini.
Fauzan menilai gerakan mahasiswa saat ini harus merubah paradigma gerakannya, dari gerakan konservatif (turun ke jalan) menuju gerakan mahasiswa yang lebih kreatif dan substansif.
"Gerakan mahasiswa saat ini, harus mulai merubah paradigma gerakannya, dari gerakan konservatif (turun ke jalan) menuju gerakan mahasiswa yang lebih kreatif dan substansif, seperti audiensi (dialog) dengan memberikan solusi dari kritikan yang di sampaikan, juga dengan gerakan kreatif lainnya," ujar Fauzan Irvan, Kamis (31/3), dalam keterangan tertulisnya.
Selain itu, pihaknya juga mendengar isu bahwa Prodewa terlibat dalam pergerakan mahasiswa yang akan turun ke jalan beberapa waktu ke depan.
Baca juga: Disinggung Soal Tiga Periode, Jokowi: Kita Harus Taat Konstitusi
"Kami tegaskan, walaupun memang Prodewa ini anggotanya mayoritas para alumni-alumni ketua BEM dan aktivis mahasiswa, kami tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung dengan adanya isu pergerakan mahasiswa dari aliansi manapun," tegas pria yang pernah menjabat sebagai ketua BEM UPI Bandung dan Ketua BEM se-Jawa Barat itu.
Ia menyebut isu tersebut tidak benar dan telah membuat fitnah besar terhadap organisasi Prodewa. Fauzan menyebut bahwa saat ini Prodewa sedang fokus melakukan konsolidasi internal dengan Prodewa se-Indonesia.
Selain itu Fauzan mengatakan bahwa Prodewa juga sedang fokus membantu pemerintah dalam meningkatkan indeks demokrasi Indonesia yang sedang turun dengan melakukan berbagai bentuk diskusi, kajian, dan riset dari berbagai pakar. Agar dapat memberikan rekomendasi untuk perbaikan kualitas demokrasi Indonesia ke depannya.
Fauzan mengajak para mahasiswa untuk turut kritis namun juga dengan menggunakan cara-cara elegan dan mengedapankan dialog substansif.
"Untuk adik-adik dan sahabat saya para mahasiswa, mari disituasi pandemi saat ini, kita tetap kritis namun tetap mengedepankan dengan cara dialog yang substansif, agar tujuan penyampaian aspirasi tercapai dengan baik," ucap Fauzan.
"Juga dalam mendekati bulan Ramadan untuk menjaga kondusifitas serta membantu masyarakat agar tercapai herd immunity secara kolektif sehingga Indonesia segera bangkit dari pandemi ini," pungkasnya. (RO/OL-09)
Perang tersebut terlalu menguras anggaran negara. Padahal, menurut dia, situasi internal di Amerika Serikat tidak baik-baik saja dan membutuhkan sokongan.
Delpedro Marhaen bentangkan bendera Iran di PN Jakpus, tuntut Presiden Prabowo mundur dari Board of Peace (BoP) dalam sidang putusan kasus penghasutan.
Gelombang protes pecah di penjuru Amerika Serikat usai tewasnya Ali Khamenei. Demonstran sebut kebijakan Trump sebagai bentuk tirani dan menyeret AS ke perang tanpa akhir.
Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Dema PTKIN) Se-Indonesia mengapresiasi pola pengamanan kepolisian dalam aksi unjuk rasa mahasiswa.
Mahasiswa diimbau untuk tetap menyampaikan aspirasi secara damai dan konstitusional, khususnya di bulan suci Ramadan.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut pidana penjara 10 bulan terhadap 21 terdakwa kasus kerusuhan demonstrasi yang terjadi pada Agustus 2025.
Setara Institute sebut penyiraman air keras Andrie Yunus (KontraS) sebagai alarm bahaya bagi demokrasi. Polisi didesak bongkar aktor intelektual serangan
Demokrasi menuntut semua pihak menjunjung tinggi sikap saling menghormati, termasuk ketika terjadi perbedaan pandangan.
Yusril menyatakan bahwa pembela Hak Asasi Manusia (HAM) bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara, sehingga keselamatan mereka harus dijamin oleh hukum.
SERANGAN gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Ayatullah Ali Khamenei dan sejumlah petinggi Iran telah mengguncang politik global
Perang antara AS-Israel dan Iran yang berlangsung begitu brutal di depan miliaran pasang mata manusia menyisakan pertanyaan yang tak mudah dijawab
Ia menekankan bahwa pelibatan militer seharusnya menjadi langkah terakhir dalam situasi luar biasa ketika aparat penegak hukum tidak lagi mampu menangani ancaman yang muncul.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved