Sabtu 29 Januari 2022, 20:35 WIB

Jenderal Dudung Luncurkan Buku Bongkar Operasi Psikologi Kelompok Intoleran

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
Jenderal Dudung Luncurkan Buku Bongkar Operasi Psikologi Kelompok Intoleran

MI/ Tri Subarkah
KSAD Jenderal Dudung Abdurachman meluncurkan buku: Membongkar Operasi Psikologi Gerakan Intoleransi.

 

KEPALA Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman meluncurkan buku yang berupaya membongkar operasi psikologi kelompok intoleran di Jakarta, Sabtu (29/1). Buku yang ditulis oleh Raylis Sumitra itu berjudul Membongkar Operasi Psikologi Gerakan Intoleransi.

Menurut Dudung, ideologi kelompok intoleran mencoba untuk merongrong Pancasila. Padahal, keberagaman dan perbedaan yang dimiliki Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Ia menegaskan tidak ada tempat untuk gerakan intoleran.

"Baik itu bertameng agama, organisasi kesukuan, atau yang jelas-jelas kelompok separatis yang baru-baru ini menewaskan anggota saya tiga orang dari Angkatan Darat yang gugur di Papua," kata Dudung di Hotel Raffles, Ciputra World, Jakarta.

Dudung menyebut latihan fisik sempurna tidak cukup dimiliki oleh tentara zaman kini. Menurutnya, dibutuhkan juga kemampuan memahami ketahanan dan pertahanan global yang canggih dan penguasaan dunia siber yang mumpuni.

Buku itu, lanjut Dudung, menyebut gerakan terselubung kelompok intoleran untuk menciptakan kegaduhan sebagai operasi psikologis. Adapun pengalaman Dudung mencopot baliho Front Pembela Islam (FPI) saat menjadi Panglima Komando Daerah Militer Jayakarta menjadi sorotan yang dibahas.

"Buku ini benar-benar membuka motif gerakan terselubung kelompok intoleran, dimulai dengan tindakan yang pernah saya lakukan saat jadi Pangdam Jayakarta," ujar Dudung.

Ahli komunikasi dari Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, Puspitasari, mengatakan apa yang dilakukan Dudung dengan melucuti baliho FPI memang sederhana. Namun dalam bahasa komunikasi, hal itu adalah simbol perlawanan.

Dalam kesempatan yang sama, ahli teknologi informasi, Tyovan Ari Widagdo, menjelaskan bahwa teknologi merupakan sarana pembawa pesan paling efektif untuk mempengaruhi orang lain. Telebih dengan kehadiran Metaverse yang dinilai bisa membuat proses rekrutmen dan koordinasi jadi sangat efektif. "Ini dunia baru, masih dalam tahap pengembangan, tapi potensi bagaimana intoleransi akan berjalan sangat berjalan efektif untuk mempengaruhi orang," tandasnya. (OL-8)

Baca Juga

MI/Amir

Eurico Guterres dan Kepala BPN Sofyan Djalil Bahas Relokasi Eks Warga Timtim

👤Amiruddin Abdullah Reube 🕔Jumat 20 Mei 2022, 08:40 WIB
TOKOH masyarakat eks Tim tim yang berdomisili di NTT, Eurico Guterres bertemu dengan Menteri ATR/Kepala BPN, Sofyan A. Djalil membahas...
MI/Moch Irfan

Kejagung: Belum Ditemukan Aliran Dana ke Parpol dalam Skandal CPO

👤Tri Subarkah 🕔Jumat 20 Mei 2022, 08:06 WIB
DIREKTUR Penyidikan JAM-Pidsus Kejaksaan Agung Supardi menegaskan pihaknya belum menemukan aliran uang ke partai politik (parpol) terkait...
MI/Tris Subarkah

Anak Buah Dirjen Kemendag Indrasari Ditahan Kejagung Terkait Korupsi Besi-Baja

👤Tri Subarkah 🕔Jumat 20 Mei 2022, 07:46 WIB
PENYIDIK JAM Pidsus Kejagung menetapkan analis perdagangan ahli muda pada Direktorat Impor Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag TB...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya