Sabtu 29 Januari 2022, 19:28 WIB

Wakil Ketua MPR: Islam Moderat Bukan Sikap yang Lemah

Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum
Wakil Ketua MPR: Islam Moderat Bukan Sikap yang Lemah

MI/Koresponden
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan.

 

WAKIL Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan (Zulhas) menyatakan Indonesia membutuhkan Islam yang moderat atau tengah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjadi moderat, ditegaskannya, bukan pendirian yang lemah namun justru sikap yang unggul.

"Menjadi moderat justru bukan lah sikap yang lemah, abu-abu, tidak jelas, atau mencari aman. Sama sekali tidak betul itu. Sikap moderat adalah sikap unggul dan superior untuk mencari titik temu, juru damai untuk menghindari pertengkaran," kata Zulhas menyampaikan pidato kebudayaan bertajuk Indonesia Butuh Islam Tengah digelar di Jakarta, Sabtu (29/1).

Baca juga: Zulhas Ajak Tokoh Politik Hindari dan Tinggalkan Ideologi Transnasional Islam

Zulhas berpendapat lahirnya Indonesia juga buah dari perjuangan tokoh-tokoh Islam yang memiliki wawasan ketengahan dan moderat. Wajah Islam seperti ini lah yang menurutnya sampai sekarang mampu mengatasi perbedaan-perbedaan.

"Semestinya pemikiran mengenai Islam moderat, Islam wasathiyah, atau yang saya sebut Islam tengah ini pula lah yang saat ini menjadi pijakan kita dalam berbangsa bernegara," ucapnya.

Islam tengah, jelas Zulhas, merupakan perwujudan Islam yang mengedepankan moderasi. Dalam bahasa Arab dikenal dengan kata wasathiyah dan memiliki padanan makna dengan tawassuth (tengah-tengah), itidal (adil), tawazun (keseimbangan).

Menurutnya, wasathiyah juga dapat diartikan sebagai pilihan terbaik, sikap superior atau unggul yang mengerti batas-batas toleransi semua pihak dan sanggup mengayomi semua golongan.

"Inilah Islam yang mengedepankan prinsip rahmatan lil alamin, menjadi berkah bagi sekalian alam," ujarnya.

Dalam pidatonya, Zulhas menyoroti kecenderungan sebagian kalangan yang kembali mencoba membentur-benturkan negara dengan agama serta mempersoalkan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Ia menegaskan polarisasi politik dan agama tidak boleh mengarah pada upaya-upaya mengganti format bernegara. Menurutnya, bangunan konsep bernegara Indonesia sudah final.

"Indonesia adalah negara yang beragama dan menghormati keberagaman. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi kita bersepakat menjadi tunggal ika yang satu yaitu Indonesia," kata Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu. (Dhk/OL-09)

Baca Juga

Dok Instagram/Medcom.id

Alasan Hamil tidak Pengaruhi Proses Hukum Dea OnlyFans

👤Rahmatul Fajri 🕔Rabu 18 Mei 2022, 12:05 WIB
Polisi menyebut proses hukum tersangka kasus pornografi, Gusti Ayu Dewanti atau Dea OnlyFans tetap berjalan, meski dalam keadaan...
ANTARA/ Reno Esnir

Wacana Terdakwa tidak Gunakan Atribut Keagamaan Saat Persidangan Diminta Segera Direalisasikan

👤Anggi Tondi Martaon 🕔Rabu 18 Mei 2022, 11:36 WIB
Penggunaan atribut keagamaan itu dipandang sebagai upaya terdakwa terlihat sudah insaf dari pelanggaran hukum yang dia lakukan serta...
MI/SUMARYANTO

Jadi Tersangka, Lin Che Wei Pernah Menjabat di Kemenko Perekonomian

👤┬áInsi Nantika Jelita 🕔Rabu 18 Mei 2022, 11:35 WIB
Kejaksaan Agung mengumumkan Lin Che Wei menjadi tersangka baru kasus dugaan korupsi pemberian izin ekspor crude palm oil (CPO) dan produk...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya