Senin 27 September 2021, 20:35 WIB

Bank Panin Menyuap Rp25 Miliar untuk Pengurangan Pajak Rp600 Miliar

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
Bank Panin Menyuap Rp25 Miliar untuk Pengurangan Pajak Rp600 Miliar

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan pada Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Angin Prayitno Aji

 

PEMILIK PT Bank Pan Indonesia atau Bank Panin, Mumin Ali Gunawan mengeluarkan uang pelicin Rp25 miliar demi pengurangan pajak Rp600 miliar dari Rp900 miliar.

Untuk memuluskannya, Mumin mengutus anak buahnya Veronika Lindawati selaku kuasa wajib pajak Bank Panin untuk bernegosiasi dengan oknum Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Kementerian Keuangan.

"Bu Veronika langsung menyebutkan, Bank Panin sanggup membayar kurang pajaknya Rp300 miliar dan menyediakan sebesar 25 miliar," kata Anggota Pemeriksa Ditjen Pajak Febrian saat bersaksi pada sidang dengan terdakwa mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji dan Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan di Direktorat Jenderal Pajak, Dadan Ramdani, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (27/9).

Febrian menuturkan kesanggupan pihak Bank Panin untuk membayar pajak Rp300 miliar dengan memberi uang pelicin Rp25 miliar setelah mengetahui total pokok pajak yang mencapai Rp900 miliar.

"Bu Veronika langsung menyebutkan, Panin sanggup membayar kurang pajaknya Rp 300 miliar dan menyediakan sebesar 25 miliar," kata Febrian.

Baca juga: Azis Disebut Berupaya Cari Kenalan Penyidik KPK 

Ia mengaku tidak dapat menyetujui permintaan Bank Panin yang diwakili Veronika. Sebab dirinya harus melaporkan ke atasannya, yaitu Dadan dan Angin.

Ternyata, kata dia, Dadan dan Angin menyetujui permintaan Veronika. Setelah itu, Febrian menyiapkan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) dan disampaikan ke pihak Bank Panin.

"Tapi begini pak, ketika draftnya selesai ditandatangani pak Dadan surat pemberitaan hasil pemeriksaan saya lapor ke Yuman Nizar (anggota tim pemeriksa pajak) dan memerintahkan untuk menghubungi Tiko Riahman kepala staf pajak Panin, untuk memintanya datang. Kemudian diserahkan SPHPnya ke beliau (Tiko) tanggapannya tidak disetujui," kata Febrian.

Berdasarkan dakwaan kedua terdakwa, Angin dan Dadan melancarkan negosiasi dengan Veronika. Hasilnya tim pemeriksa pajak bermodal perintah dari Angin dan Dana memeriksa kembali kewajiban pajak Bank Panin dan disunat Rp 623 miliar dari semula Rp 926 miliar atau menjadi Rp 303 miliar.

Setelah mendapat persetujuan dari para terdakwa, tim pemeriksa menindaklanjutinya dengan cara menyesuaikan fiskal positif pada sub pembentukan atau pemupukan dana cadangan sub biaya cadangan kredit (PPAP) Bank Panin, sehingga didapatkan hasil pemeriksaan sebesar Rp 303.615.632.843.

Angin dan Dadan diduga menerima suap sebesar Rp 15 miliar dan SGD 4 juta dengan total Rp 57 miliar. Jumlah tersebut salah satu sumbernya berasal dari Bank Panin.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan enam orang tersangka. Selain Angin, ada juga Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan di Direktorat Jenderal Pajak, Dadan Ramdani serta serta Kuasa Wajib Pajak Veronika Lindawati. Kemudian, ada tiga konsultan pajak yakni Agus Susetyo, Ryan Ahmad Ronas dan Aulia Imran Maghribi. (OL-4)

Baca Juga

Antara

Kemlu Pulangkan 13 ABK Yang Ditahan di Vietnam Sejak 2020

👤Ant 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 22:13 WIB
Kapal tersebut sempat ditangkap patroli Bea Cukai Vietnam atas tuduhan melakukan perdagangan rokok ilegal di perairan...
Dpr go.id

Penyusunan Regulasi Butuh Pengawalan Mahasiswa

👤Ant 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 21:10 WIB
Ia juga mengatakan proses penyusunan UU kerap dihantam intervensi oleh pihak yang...
Antara

Jokowi Harus Tunjukan Posisi Indonesia di Asia Tenggara

👤Sri Utami 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 17:45 WIB
Presiden Jokowi sudah memberikan prioritas pada diplomasi ekonomi  yang sangat menonjol pada 7 tahun...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya