Rabu 14 April 2021, 13:42 WIB

KLHK Tangkap Lima Pembom Ikan di Taman Nasional Komodo

 Atalya Puspa | Politik dan Hukum
KLHK Tangkap Lima Pembom Ikan di Taman Nasional Komodo

MI/Rommy Pujianto
Pemandangan di Keindahan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

 

TIM operasi gabungan Balai Gakkum KLHK Wilayah Jabalnusra, Balai Taman Nasional Komodo dan Polres Manggarai Barat, 10 April 2021, menahan lima orang pembom ikan dan menyita perlengkapan penangkapan ikan yang merusak, di kawasan Taman Nasional Komodo, Selat Laju Pamale, Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lima pelaku penangkapan ikan yang merusak adalah Ed (27), Re (15), Ya (16), In (28) dan Ya (31). Tim menyerahkan pelaku dan barang bukti ke panyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Jabalnusra, 11 April 2021. Saat ini penyidik masih memeriksa pelaku di atas kapal patroli Ditjen Gakkum KLHK, Badak Laut 01, di Labuan Bajo.

“Cara penangkapan ikan yang merusak sampai saat ini belum bisa dihentikan. Pencegahan terus diupayakan seperti sosialisasi ke masyarakat dan patroli mengamankan wilayah Taman Nasional Komodo,” kata Kepala Balai Gakkum KLHK Jabalnusra Muhammad Nur dalam keterangan resmi, Rabu (14/4).

Barang bukti antara lain 1 perahu motor warna abu-abu dengan kapasitas mesin 28 PK, 26 botol bom ikan yang siap digunakan, 19 detonator yang belum dirakit, 1 detonator yang sudah dirakit dengan kabel dan lampu LED, 1 kompresor, 1 sampan, 2 gulung benang jahit, 16 lampu LED, 1 gulung kabel ukuran kecil warna merah, nota penjualan ikan, 300 kg ikan berbagai jenis, 7 baterai ABC yang sudah dirakit jadi satu, 3 pasang sepatu bebek, 1 snorkel, 2 gulung selang kompresor, 1 paket solar cell, dan 1 aki GS 40 amper.

Adapun, penyidik akan menjerat pelaku dengan Pasal 98 Ayat 1 Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jo. Pasal 33 Ayat 3, Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, Jo. Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukum pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum KLHK Sulityo Iriono menyatakan, penangkapan ikan yang merusak ekosistem di Taman Nasional Komodo akan terus diproses agar ada efek jera.

"Kami akan terus mengusut dan mencari pelaku intelektualnya, baik yang mendanai dan yang menyuplai bahan-bahan pembuatan bom ikan. Intinya, kami tidak berhenti hanya menyidik pelaku di lapangan," pungkasnya. (Ata/OL-09)

Baca Juga

ANTARA/Fikri Yusuf

Menhan tidak Akan Lindungi Mafia Alutsista

👤Candra Yuri Nuralam 🕔Senin 10 Mei 2021, 10:50 WIB
Prabowo berpemikiran permainan pengadaan alutsista merupakan tindakan korupsi paling berbahaya. Pasalnya, hal itu bisa membuat pertahanan...
ANTARA/Muhammad Adimaja

Nasib 75 Pegawai yang Gagal Tes Wawasan Kebangsaan bukan Ranah KPK

👤Candra Yuri Nuralam 🕔Senin 10 Mei 2021, 09:43 WIB
Lembaga Antikorupsi bakal berkoordinasi dengan BKN dan Kemenpan RB untuk kelanjutan nasib...
ANTARA/Rivan Awal Lingga

Jusuf Kalla: Dialog Damai di Papua bukan Hal Mustahil

👤Emir Chairullah 🕔Senin 10 Mei 2021, 09:11 WIB
"Bagi saya, penyelesaian konflik Papua harus dilakukan melalui cara dialog. Hanya saja mungkin saat ini pemerintah kesulitan mencari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Berharap tidak Ada Guncangan Baru

LAPORAN Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2021 tumbuh di angka -0,74% (year on year/yoy).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya