Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

500 Bibit Mangrove Ditanam di Pulau Seraya Kecil, Kecamatan Komodo, Dilengkapi Sistem Pemantauan

Iis Zatnika
26/11/2025 10:50
500 Bibit Mangrove Ditanam di Pulau Seraya Kecil, Kecamatan Komodo, Dilengkapi Sistem Pemantauan
Penanaman mangrove dilaksanakan di Pulau Seraya Kecil, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).(Dok Istimewa)

Sebanyak 500 bibit mangrove ditanam di pesisir Pulau Seraya Kecil, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Program ini dilaksanakan secara komprehensif, mulai survei lahan, pemilihan jenis mangrove, hingga monitoring pertumbuhan secara berkala untuk memastikan kelangsungan hidup pohon. 

Selain berfungsi sebagai penahan abrasi dan habitat biota laut, mangrove juga berperan penting dalam penyerapan karbon, sehingga berdampak langsung bagi mitigasi perubahan iklim. 

“Menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang berinisiatif. Ini bukan sekadar tanam pohon, tapi menjaga masa depan. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat telah lebih dulu menjalankan program penanaman bambu di berbagai wilayah, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan meningkatkan cadangan oksigen," kata Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng yang menghadiri kegiatan itu, Kamis (13/11).

Yulianus Weng juga mengingatkan agar masyarakat terus menjaga pohon-pohon yang telah ditanam, karena manfaatnya bukan untuk pejabat atau pihak tertentu yang menjadi inisiator kegiatan, melainkan untuk kehidupan bersama. “Bakau ini bukan untuk bupati atau wakil bupati, tapi untuk masyarakat. Jangan ditebang, jangan dirusak. Kalau ada yang melanggar, tegur. Ini warisan untuk anak cucu kita,” pesan Weng. 

Kegiatan penanaman mangrove bertajuk Dari Seraya untuk Dunia: Menanam Mangrove, Menyemai Keberlanjutan” melibatkan Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) Sustainability Universitas Trisakti, Indonesian Financial Group (IFG), Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, serta berbagai komunitas dan asosiasi seperti Gabungan Usaha Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri), Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM), Asosiasi Kapal Wisata (Askawi), Indonesian Waste Platform, para pelajar, dan masyarakat Pulau Seraya Kecil.

Tim CECT Sustainability Universitas Trisakti Marta Muslin Tulis menyatakan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir, melindungi pantai dari abrasi, mendukung keanekaragaman hayati, serta berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon. Upaya pelestarian dan rehabilitasi mangrove menjadi bagian integral dari komitmen nasional dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim), Tujuan 14 (Ekosistem Lautan), dan Tujuan 15 (Ekosistem Daratan).

"Kegiatan ini sebagai wujud nyata kontribusi sektor keuangan dalam mendorong keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,
Kegiatan ini juga menjadi momentum edukasi dan kampanye kesadaran
lingkungan bagi masyarakat setempat, terutama generasi muda, serta mempererat sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan komunitas lokal dalam menjaga ekosistem pesisir Labuan Bajo," kata Marta Muslin Tulis. 

Marta Muslin Tulis menjelaskan, bersama Indonesian Waste Platform konsisten melakukan aksi lingkungan di kawasan Labuan Bajo, melalui kegiatan tanam mangrove, tanam koral, termasuk pembersihan sampah plastik di pulau-pulau sekitar. Kegiatan penanaman mangrove secara gotong royong, sebelumnya diawali sesi edukasi.

“Mangrove bukan hanya pelindung pantai, tapi rumah bagi ribuan makhluk laut. Menanamnya berarti melindungi kehidupan,” ujar Marta Muslin Tulis.

Kepala Divisi Pengadaan dan Pengelolaan Aset IFG Fiman Anindra, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program keberlanjutan, perwujudan tanggung jawab  terhadap keseimbangan alam yang menopang kehidupan.                                                              

Peserta kegiatan ini, Miss Bintang Indonesia Daniella Stefani Fernandez menyatakan edukasi yang didapat di awal kegiatan memberikan pemahaman tentang pentingnya mangrove sebagai benteng pertahanan alami dari perubahan iklim, pelindung garis pantai, rumah bagi keanekaragaman hayati, sekaligus mendukung kehidupan masyarakat pesisir. 

"Dengan menanam mangrove hari ini, kita tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan agar ekosistem lebih sehat serta laut yang lebih lestari."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Iis Zatnika
Berita Lainnya