Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KELOMPOK teroris yang masih berusaha mencapai tujuannya dengan aksi pengeboman, yang kemudian mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, sesungguhnya bentuk kegagalan dalam mencapai tujuan utamanya.
Hal tersebut disuarakan mantan narapidana teroris (napiter) Haris Amir Falah. Menurutnya, banyak mantan pelaku teror bom yang mengalami penyesalan saat mengetahui kondisi korban.
"Ini yang harus dilihat dan dipikirkan oleh mereka yang masih berpikir radikal. Ketika kami ketemu sama korban, betul-betul menjadi penyesalan yang luar biasa. Siapa pun yang melihat itu dan punya hati dia pasti akan berubah," tutur Haris, Sabtu (3/4).
Baca juga: Terduga Teroris Mengaku Anggota FPI, Minta Rizieq Dibebaskan
Korban bom dan kekerasan yang dilakukan teroris, merupakan orang yang tidak berdosa dan juga tidak mengerti dengan kejadian sesungguhnya. Namun, mereka harus menerima dampak aksi teror seumur hidup.
"Mereka orang yang tidak punya dosa, tidak mengerti dengan apa yg terjadi. Ketika melihat orang luka-luka (meninggal), tujuannya tercapai. Jadi hentikanlah," imbuh Haris.
Dia memandang paham radikalisme masih cukup masif tersebar di tengah masyarakat. Aksi teror yang terjadi di Makasar dan Mabes Polri, lanjut dia, membuktikan daya rusak yang luar biasa dari doktrin dan kekeliruan pemahamam agama. Dari kondisi tersebut, harus diciptakan kesepakatan bersama untuk memerangi aksi terorisme.
Baca juga: BNPT: Napiter Senior Bisa Ikut Bina Napiter Junior
"Radikalisme dan aksi teror bukan ajaran agama mana pun, termasuk Islam. Melawan terorisme bukan melawan agama. Kita harus punya kesepakatan memberantas ini semua, karena daya rusaknya luar biasa," pungkasnya.
Dalam menjalankan aksinya, kelompok teroris melakukan dua hal, yakni menciptakan momentum dan mendapatkan momentum. Namun, mayoritas pelaku lebih memilih mendapatkan momentum yang tepat untuk beraksi. Pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, misalnya. Ternyata, anggota dari kelompok yang sama dengan pelaku bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur. (OL-11)
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Film Patah Hati yang Kupilih berfokus pada hubungan Alya dan Ben, yang terbentur tembok besar perbedaan agama yang diperparah oleh penolakan restu orangtua.
MENTERI Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan akan terus berusaha agar umat semakin dekat dengan ajaran agamanya.
MENTERI Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama harus memainkan peran strategis sebagai jembatan dan mediator antara negara dan civil society.
MEDIA (cetak, elektronik, dan digital) disadari atau tidak bukan semata penyampai pesan.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, kegiatan Ngaji Budaya menjadi sarana efektif untuk mengajak generasi muda mencintai seni dan budaya, tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
Bermain pada film yang mengangkat kisah pernikahan beda agama, siapa sangka ternyata hal itu pernah dirasakan langsung oleh Michelle Ziudith.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved