Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMPERKUAT keutuhan hidup berbangsa dan bernegara di tengah makin menguatnya gerakan radikalisme, pemerintah diharapkan segera mengambil langkah cepat dan tepat untuk segera mengatasinya.
Meski menjadi pekerjaan rumah dalam waktu relatif panjang pemerintah perlu membangun dasar-dasar yang kuat untuk membendung makin meluasnya gerakan tersebut sampai benar-benar habis.
Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat politik Universitas Bung Karno Faisal Chaniago di Jakarta, Senin (25/11).
"Melihat gejala yang belakangan kita lihat sendiri tampaknya gerakan ini sangat terpola dan masif. Maka tentu saja pemerintah perlu segera mengambil langkah serius untuk berpikir bagaimana mengatasi ini," kata Faisal.
Faisal menambahkan, mereka yang terpapar radikalisme punya prinsip tanpa ideologi dalam bernegara dan bergerak atas ideologi yang mereka ciptakan.
Baca juga : Kampus Harus Kembangkan Nilai Moderat dan Kebangsaan
"Ini bukan lagi permasalahan ekonomi, tapi mereka bergerak atas nama keyakinan sendiri. Karena, mereka (yang terpapar) ideologi (punya) paham sendiri, sehingga sulit mengubah pola pikir mereka," katanya.
Faisal menuturkan, berkaitan dengan radikalisme itu contohya ada pihak-pihak yang mengembuskan isu khilafah. Paham demikian secara tidak langsung ingin mengubah sistem negara.
"Karena radikalisme itu ideologi mereka, mereka punya prinsip yang menurut mereka benar," kata Faisal.
Pemerintah karena itu, kata Faisal, harus bisa mengubah pola pikir orang-orang yang terpapar radikalisme. Pemerintah harus benar-benar bisa meningkatkan kesadaran mereka dalam sistem bernegara.
"Dan radikalisme ini tidak hanya ada di Islam. Radikalisme di luar negeri juga ada, jadi bukan hanya pada Islam, karena dasar mereka ingin mengubah negara," kata Faisal.
Menurut Faisal, isme-isme yang berkembang di Indonesia adalah paham yang tidak meyakini Pancasila. Mereka lahir hanya memperjuangkan ideologi mereka sendiri. Di situlah peran negara untuk mengubah pola pikir mereka.
“Apalagi selama ini mereka bergerak secara irasional," pungkas Faisal. (OL-7)
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gimĀ online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved