Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPOLISIAN Polda Metro Jaya membebaskan dua mahasiswa yang melakukan kericuhan pada unjuk rasa 23-24 September di depan gedung DPR/MPR RI, Jumat (27/9).
Kedua mahasiswa tersebut adalah Hatif Adlirrahman mahasiswa UNPAD dan Ahmad Nabil Bintang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Baik Hatif maupun Nabil ditangkap oleh pihak kepolisian lantaran viralnya video mereka saat aksi unjuk rasa di media sosial.
Kanit 4 Subresmob Ajun Komisaris Rovan membebaskan Hatif dan Nabil lantaran keduanya sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya.
"Karena dari hasil diskusi mereka sudah minta maaf, menyesali perbuatannya dan kita melihat juga ini usia (mereka) masih usia produktif," ujar Rovan di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Sabtu (28/9).
Di hadapan wartawan, keduanya menjelaskan alasan penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
"Saya sampai di sini kemarin pukul 11.30 WIB karena saya ditangkap di sekitar Lebak Bulus. Saya ditangkap dan diamankan karena saya menemukan tameng polisi dan saya bawa dan foto itu viral di media sosial. Itu sebabnya saya dibawa. Saya sampai di sini diberikan binaan oleh para anggota resmob," papar Hatif.
Baca juga: Aksi Mahasiswa Rentan Disusupi Kelompok Kepentingan Politik
Sedangkan Nabil yang merupakan mantan presiden mahasiswa UIN Jakarta 2018 ditangkap lantaran video viralnya yang mencaci polisi lewat Handy Talkie (HT). Atas perbuatannya tersebut, ia meminta meminta maaf kepada seluruh pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia.
"Dan setelah ini insha Allah kita akan bertemu Pak Kapolda. Memohon maaf dan menyampaikan kondisi yang sebenarnya," ucapnya.
Roberto Sihotang selaku kuasa hukum kedua mahasiswa tersebut menjelaskan apa yang dilakukan Nabil saat itu merupakan bentuk emosional sesaat.
"Karena pada saat itu ramai, dilempar gas air mata, jadi dia panik lari sana lari sini. Tidak ada yang mengomandoi. Sehingga dia merasa seperti anak ayam kehilangan induknya," jelas Roberto.
Sementara Hatif, lanjutnya, menggunakan tameng yang dimaksud untuk melindungi dirinya dari lemparan gas air mata yang diarahkan polisi ke kerumunan mahasiswa.
"Tameng itu diambil sama dia (Hatif) disaat polisi itu kabur. Artinya lari karena dilempar gas air mata. Jadi pada saat polisi melemparkan gas air mata, demonstran lempar lagi gas air matanya ke arah barikade polisi. Nah yang terdekat di sana, mereka mundur. Ternyata ada yang ketinggalan, tameng itu. Lalu tameng itu seketika diambil oleh Hatif karena ada tembakan water canon dan sebagainya, jadi dia berlindung," tegasnya.
Roberto memastikan tidak ada bentuk intimidasi yang dilakukan pihak kepolisian terhadap kliennya. Ia juga memastikan bahwa hak keduanya sudah terpenuhi.(OL-5)
Pengakuan pemerintah terhadap berbagai use case teknologi ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan arsitektur sistem keuangan nasional.
Begitu juga di jalur penyeberangan laut Daratan Aceh-Pulau Simeulue, penyeberangan Singkil-Pulau Banyak dan Banda Aceh-Sabang.
Puluhan mahasiswa dari Universitas Almuslim turun langsung membantu masyarakat memulihkan sektor pertanian pascabencana banjir Aceh
ajang ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi internal serta mendorong kontribusi nyata generasi muda Buddhis bagi kedaulatan NKRI.
Tim Labmino merupakan delegasi dari Indonesia yang untuk pertama kali berhasil menembus jajaran Global Ambassador SFT.
Program studi yang selaras dengan minat umumnya akan membuat proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan, sekaligus meningkatkan motivasi dalam menjalani perkuliahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved