Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Masyarakat Gunakan Akal Sehat daripada Termakan Hoaks di Pilpres

Micom
24/3/2019 21:50
Masyarakat Gunakan Akal Sehat daripada Termakan Hoaks di Pilpres
(IIst)

ANALIS politik dari Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Karyudi Sutajah Putra, berpendapat, hoaks atau berita palsu memiliki kekuatan dahsyat. Sedemikian dahsyatnya, sampai-sampai hoaks bisa menjadi faktor penentu kemenangan calon presiden dalam Pemilihan Umum Presiden 2019.

"Keberadaan hoaks itu sama tuanya dengan keberadaan manusia, sehingga kekuatannya pun sangat dahsyat. Hoaks bahkan bisa menjadi faktor penentu kemenangan capres," ungkap Yudi, panggilan akrab Karyudi Sutajah Putra, di Jakarta, Minggu (24/3).

Hoaks, kata Yudi, sudah muncul sejak Nabi Adam dan istrinya, Hawa, yang merupakan manusia pertama, masih berada di surga. Iblis kemudian menggoda mereka dengan hoaks, yakni agar makan buah khuldi dari pohon keabadian, sehingga Adam dan Hawa akan abadi berada di surga. 

Padahal, perintah Tuhan sebaliknya agar Adam dan Hawa menjauhi buah itu. Akibat pelanggaran itulah maka Adam dan Hawa diturunkan ke dunia. 

"Begitulah dahsyatnya kekuatan hoaks," jelasnya.

Yudi kemudian merujuk contoh lain, yakni saat Sri Krishna menyebarkan hoaks dalam perang Baratayudha antara kubu Pandawa dan Kurawa dalam epos Mahabarata. Krishna, penasihat utama Pandawa, menyebarkan hoaks bahwa Aswatama, anak semata wayang Drona, telah mati di medan perang. 


Baca juga: Indonesia Krisis Partisipasi Publik Pemantau Pemilu


Hoaks ini pun sampai ke telinga Drona, penasihat utama Kurawa, sehingga kesaktian Drona luruh, dan akhirnya Kurawa pun kalah.

Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman, terang Yudi, juga orang yang percaya pada kekuatan hoaks, sehingga menyebarkan propaganda dengan hoaks itu, karena ia yakin kebohongan yang disampaikan secara beruang-ulang akan diyakini sebagai kebenaran.

Lalu bagaimana dengan hoaks di Pilpres 2019? Sebagai petahana, kata Yudi, Presiden Joko Widodo menjadi pihak yang paling dirugikan oleh hoaks, dan itu terjadi sejak Pilpres 2014, dengan munculnya tabloid Obor Rakyat yang menjelang Pilpres 2019 ini hendak terbit kembali tapi urung karena pengelolanya, Darmawan Sepriyosa dan Setyardi Budiono, keburu dijebloskan lagi ke penjara. 

"Praktis semasa kampanye Jokowi lebih disibukkan untuk meng-counter hoaks, seperti antek asing dan aseng, PKI, melarang azan berkumandang, kriminalisasi ulama, dan sebagainya," papar Yudi yang juga pegiat media.

Di pihak lain, lanjut Yudi, capres-cawapres, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, relatif tidak banyak menyampaikan program baru, hanya mengangkat OK-Oce dan membuat antitesis dari program Jokowi-Ma'ruf Amin, tetapi hasil surveinya terus menanjak. Hasil survei terbaru Litbang Kompas, selisih suara kedua capres hanya sekitar 11%. 

"Selisih 11% ini yellow light (lampu kuning) bagi petahana," cetusnya.

Jokowi sendiri, masih kata Yudi, mengakui elektabilitasnya tergerus sekitar 9 juta suara gara-gara hoaks. 

"Bila penyebaran hoaks kian masif menyerang Jokowi, bisa jadi petahana ini akan kalah," tukasnya.

Sebab itu, Yudi mengimbau para calon pemilih agar mengedepankan akal sehat, sehingga dalam memilih capres pun berdasarkan akal sehat dan rekam jejak kandidat, bukan berdasarkan hoaks. 

"Dengan begitu, kehidupan demokrasi kita akan sehat, dan pemimpin yang dihasilkan pun benar-benar yang berkualitas," tandasnya. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya