Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Minim Informasi Jadi Penyebab Munculnya Golput

M Ilham Ramadhan Avisena
19/3/2019 17:55
Minim Informasi Jadi Penyebab Munculnya Golput
(MOHAMAD IRFAN /MI)

DARI hasil survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, hanya 49,4% pemilih yang tahu dan dapat menyebutkan dengan tepat kapan waktu pelaksanaan Pilpres 2019.

Angka itu didapati setelah LSI Denny JA melakukan survei kepada 1.200 responden pada 18-25 Februari lalu.

"Secara populasi, 50,6% pemilih tidak tahu dan tidak dapat menyebutkan kapan tanggal dan bulan pencoblosan Pilpres dengan benar," ungkap peneliti LSI Denny JA Ikrama Masloman di Gedung LSI, Rawamangun, Jakarta, Selasa (19/3).

Mereka yang tidak mengetahui dengan tepat kapan pelaksanaan Pilpres mendatang dinilai juga berpotensi tidak memberikan suara atau golput. Ikrama juga menambahkan, tren golput dalam tiap pemilihan langsung di Indonesia cenderung naik.

"Data KPU menunjukkan, pada 2004 angka golput sebesar 23.30%, pada 2009 menjadi 27,45%, dan pada lima tahun lalu jumlah golput mencapai 30,42%," terangnya.

Meski demikian, Ikrama menyatakan, dengan tingkat partisipasi masyarakat yang berada di angka 70%, kondisi demokrasi terkait pemilihan langsung masih cenderung aman. "Angka 70% itu relatif aman, di negara demokrasi seperti Amerika Serikat bahkan angka partisipasinya lebih kecil," tukasnya.

Terkait dengan meningkatnya angka golput setiap tahunnya, Ikrama mengatakan hal itu dipicu oleh beberapa hal.

Baca juga: Hantu Golput dari Milenial

Selain adanya kejenuhan masyarakat akan dua calon yang sama seperti pemilu 2014 lalu, masyarakat juga dinilai tidak menyukai adanya politik identitas hingga menyebabkannya menjadi golput.

"Selain maasih banyak juga masyarakat yang tidak terinformasi, resitensi dari politik identitas yang ditebar kedua calon membuat pemilih jadi tidak memilih. Kami menduga, dengan berbagai alasan itu, persentase golput juga akan naik pada pilpres kali ini," jelas Ikrama.

Lebih jauh, ia menyampaikan angka golput pada 2014 lalu masih lebih besar daripada keunggulan yang diperoleh pasangan Jokowi-Ma'ruf dari oposisi dengan selisih kemenangan 27,8% jika merujuk survei LSI.

Ikrama menambahkan, untuk menekan angka golput, kedua pasang calon harus mengajak masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam pemilihan langsung pada April mendatang. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya