Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR psikologi politik Hamdi Muluk menduga keputusan Susilo Bambang Yudhoyono batal berkoalisi dengan partai politik (parpol) pendukung Joko Widodo karena Megawati Soekarnoputri hanyalah gimik.
SBY dinilai memanfaatkan kembali hubungan personalnya dengan Megawati yang tidak harmonis untuk mendapatkan simpati rakyat.
"Bisa jadi (memanfaatkan situasi). SBY pernah sukses pada 2004. Riset menunjukkan kinerjanya cukup baik sehingga mendatangkan simpati secara personal. Orang Indonesia kan suka hal-hal yang menyen-tuh personal dan muncul ke publik," ujarnya dalam forum Editorial MI di Metro TV.
Pengakuan SBY yang mengatakan hubungannya dengan Megawati belum pulih karena perseteruan saat Pilpres 2004 diduga diungkit kembali hanya karena SBY tidak mendapat kepastian apakah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan digandeng Jokowi pada Pilpres 2019.
"Orang kan cepat tersentuh oleh hal-hal personal, dizalimi. Konteksnya (SBY) dizalimi personal oleh Mega. Sekarang di-ulang lagi cerita itu," kata dia.
Hamdi menilai apa yang dilakukan SBY saat ini seperti tak belajar dari masa lalu. Sepuluh tahun memerintah seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa berpolitik mestinya mengedepankan gagasan, ideologi, dan visi, bukan menunjukkan masalah personal hanya agar publik bersimpati.
"Jadi kalaupun tidak terjadi kesepakatan, jangan misalnya memberikan atau mencari kambing hitam pada faktor personal. Itu tidak bagus dalam politik."
Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir menilai SBY asal berbicara soal kondisi internal koalisi parpol pengusung Jokowi sebagai calon presiden sehingga pernyataannya harus dikoreksi.
"Kondisi koalisi parpol pendukung Jokowi mantap terkendali dan bergerak tanpa keraguan memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019," kata Inas.
Ia menilai SBY sebagai seorang yang peragu sehingga menuntun anaknya, AHY, menjadi calon wakil presiden (cawapres).
Padahal, menurutnya, seorang cawapres itu harus seorang negarawan, sedangkan AHY masih jauh kalau disebut negarawan.
"Ketika SBY hopeless dengan kondisi AHY, yang bisa dia lakukan hanya mengomentari secara asal tentang koalisi Jokowi," ujarnya.
Sebelumnya, SBY meragukan kesolidan enam partai koalisi pendukung Jokowi. SBY mengatakan sampai saat ini peta koalisi masih sangat cair.
Menurutnya, koalisi Jokowi maupun Prabowo Subianto masih bisa berubah sampai penutupan pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden di KPU. "Kalau apakah ada kemungkinan bongkar pasang koalisi, ya, dalam politik itu biasa saja. Bisa iya, bisa tidak," ujar SBY saat jumpa pers di kediamannya di Jakarta, Rabu (25/7) malam.
Tidak gentar
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar pun yakin koalisi pendukung Jokowi tak gentar dengan manuver SBY dan Prabowo yang beberapa hari belakangan semakin intensif.
"Wajar saja para calon bekerja sama, khususnya menjelang penetapan capres-cawapres," kata Muhaimin, Kamis (26/7).
Cak Imin menjamin koalisi Jokowi tetap fokus pada kerja-politik, terukur dan terarah memenangi Pilpres 2019.
Parpol koalisi Jokowi ialah NasDem, PDIP, Golkar, Hanura, PKB, dan PPP. (Ant/P-1)
Surat dari DPP PDIP dibutuhkan untuk menyelesaikan perbedaan tafsir terkait penetapan caleg yang sudah meninggal pada Pamilu 2019. Dia juga menjelaskan surat balasan dari MA.
Yasonna keluar dari Gedung Merah Putih KPK sekitar pukul 16.45 WIB. Jalur pulang dia berbeda dengan saksi lainnya.
Sidang akan digelar pada hari Senin (24/2) pukul 13.30 WIB di Kantor Bawaslu Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan.
Selain itu, Jokowi mengatakan, NasDem selalu konsisten mendukung dirinya saat bersama Jusuf Kalla maupun kini dengan KH Ma'ruf Amin.
Revisi UU Pemilu perlu disegerakan agar penyelenggara pemilu mempunyai waktu yang cukup dalam melakukan proses sosialisasi dan tahapan Pemilu 2024.
Peserta sekolah legislatif akan mendapatkan berbagai materi pelajaran tentang kedewanan sebanyak 40%, kepartaian 30%, dan pembangunan karakter 30%
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved