Selasa 03 November 2020, 03:50 WIB

Adu Kuat PDIP dan PKB di Jatim

Faishol Taselan | Pilkada
Adu Kuat PDIP dan PKB di Jatim

ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Petugas mengukur suhu tubuh Ketua KPU Arief Budiman (tengah) saat menghadiri simulasi nasional pemungutan suara pilkada serentak di Kediri.

JAWA Timur termasuk provinsi yang banyak menggelar pilkada serentak tahun ini. Dari 38 kabupaten dan kota di Jatim, tercatat 19 daerah yang bakal menghelat suksesi kepemimpinan pada 9 Desember nanti.

Hampir semua partai pemilik kursi di DPRD mengajukan calonnya, apakah itu berkoalisi dengan partai lain atau mengusung sendiri. Meski tidak memiliki wakil di parlemen, partai nonparlemen juga memberikan dukungan pada calon yang didukung partai besar.

Partai Kebangkitan Bangsa dan PDIP, dua partai besar yang memperoleh suaran paling banyak di Jatim, lebih percaya diri untuk menggusung sendiri calon mereka. Meskipun di beberapa daerah masih harus berkoalisi dengan partai lain, keduanya menjadi kekuatan sentral.

Di Surabaya, misalnya, PDIP tidak perlu berkoalisi dengan partai lain. Cukup bagi partai berlambang banteng moncong putih itu mengusung calon sendiri, yakni Eri Cahyadi–Armudji.

Beda halnya di Tuban, PDIP yang hanya memiliki beberapa kursi di DPRD harus berkoalisi dengan partai lain mengusung untuk Setiajit-Armaya. Sebaliknya, PKB dapat mengusung kandidat sendirian di Tuban.

Ketua KPU Jatim Choirul Anam mengatakan sebanyak 41 pasangan calon akan berkontestasi. “Dari laporan KPU kabupaten/ kota se-Jatim ada 41 paslon yang ikut pilkada. Seluruhnya berstatus diterima,” ujarnya.

Ada lima kabupaten yang jumlah pendaftarnya ada tiga pasangan, yakni Kabupaten Jember, Sidoarjo, Mojokerto, Tuban, dan Lamongan. Berikutnya ada 12 kabupaten/kota yang jumlah diikuti dua pasangan. Daerah-daerah itu yaitu Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sumenep, Kota Blitar, Kota Pasuruan, dan Kota Surabaya.

Ada pula dua kabupaten yang cuma diikuti satu pasangan, yakni Kabupaten Ngawi dan Kediri. “Meskipun sudah dibuka pendaftaran, masih saja hanya ada satu calon,” kata Choirul.

Pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya Hari Fitrianto memberikan analisis bahwa pilkada serentak kali ini sangat dinamis. Setiap partai memiliki basis massa yang cukup kuat sehingga untuk menilai siapa yang bakal mendominasi cukup sulit. “Namun, tidak akan jauh dari dua kekuatan itu, PDIP dan PKB,” terangnya.

Di daerah mataraman seperti Kediri, Trenggalek, Tulungagung, Madiun, partai nasionalis masih mendominasi. Ini dilihat dari perolehan suara pada pemilu lalu. Namun, apakah hasil itu akan berlanjut di pilkada, sulit ditebak.

‘’Pilkada memilih sosok, bukan milih partai. Bisa jadi, pemilih akan berubah saat pilkada ini, tidak memilih partainya, malah memilih orang,” papar Hari.

Namun demikian, imbuh dia, baik PKB maupun PDIP diyakini akan tetap mendominasi. Keduanya juga bersaing ketat di Pileg 2019 untuk DPRD Jatim, tempat PDIP berhasil unggul. Hal itu menunjukkan bahwa pemilih Jatim bukan hanya didominasi pemilih Islam yang berafiliasi pada nahdliyin. kaum abangan ternyata juga memiliki basis yang cukup luas.

 

MI/HERI SUSETYO

Kapolda Jawa Timur Irjen M Fadil Imran saat membuka Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Bumi Surabaya, Jumatt (25/9/2020).

 


Pemetaan

Pada gelaran pilkada serentak kali ini, KPU Jatim mengedepankan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran covid-19. Karena itu, sejumlah persyaratan disusun sangat ketat. “Kami tidak mau ada klaster baru covid di pilkada ini,” ucap Choirul Anam.

Daerah-daerah rawan konflik dan tindak kekerasan juga telah dipetakan dan menjadi perhatian. Sebut saja Mojokerto dan Tuban yang pada pilkada sebelumnya memanas. “Kemudian daerah rawan bencana seperti Pacitan dan Trenggalek atau daerah di sekitar gunung api aktif, sehingga perlu ada penanganan khusus untuk distribusi logistik,” papar Komisioner KPU Jatim Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat Gogot Cahyo Baskoro. (X-8)

Sumber: KPU/Tim Riset MI-NRC

 

Baca Juga

DOK. MI/PIUS ERLANGGA

90% Kepala Daerah Korupsi karena Utang ke Sponsor

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 23 Desember 2020, 01:55 WIB
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) sering dibuat gerah oleh ulah sejumlah kepala daerah, baik gubernur, wali kota, maupun bupati, yang...
Sumber: KPK/PP Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah/Riset MI-NRC

Berharap Langit Cerah di Daerah

👤THEOFILUS IFAN SUCIPTO 🕔Rabu 23 Desember 2020, 00:19 WIB
PASANGAN calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Metro, Provinsi Lampung, nomor urut 1, Wahdi Sirajudin dan Qomaru Zaman,...
Istimewa

Dinyatakan Tidak Bersalah, Muyadi: Allah Maha Adil

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 12 Desember 2020, 21:50 WIB
DUA hari setelah pemilihan gubernur Sumatera Barat 2020 Bareskrim baru menyatakan Mulyadi tidak bersalah, karena tidak cukup bukti. Hal itu...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya