Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KARENA Indonesia negara multikultural, munculnya potensi radikalisme menjelang pilkada serentak 9 Desember 2020 masih sangat tinggi. Pemerintah, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan didukung Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di seluruh provinsi, harus bekerja ekstra untuk mendeteksi dini isu dan gerakan radikalisme di masyarakat.
Tidak hanya pemerintah, semua elemen masyarakat dibutuhkan untuk membangun kesadaran sosial untuk tidak memberi ruang bagi kelompok radikal. Seluruh stakeholder yang terlibat dalam Pilkada 2020 harus sepakat untuk bersih dari provokasi dan kampanye hitam, terlebih isu SARA. Potensi gerakan radikalisme akan memanfaatkan situasi chaos di masyarakat, sebagai pintu masuk untuk melancarkan aksinya.
Realitas di Indonesia saat ini, paham radikalisme yang kian tumbuh di berbagai lembaga pendidikan, kelompok masyarakat, bahkan di lingkungan pemerintah sudah semakin menghawatirkan. Program dan strategi untuk menanggulanginya seakan tambal sulam bak benang kusut tak berkesudahan.
Ketika pemerintah ingin menekan gerakan radikalisme dengan upaya soft approach (penanggulangan), dan hard approach (penindakan), seolah tak menemukan tajinya. Apa yang dilakukan pemerintah akan terbentur dengan aspek lain, yang berhubungan dengan wilayah HAM.
Apalagi, masuknya politik identitas pada arena pemilu menjadi lahan empuk bagi aktor-aktor antikemapanan. Ketika setiap orang dan kelompok kepentingan telah menemukan ruang eksperimentasi untuk menggerakkan corak ideologi mereka, pada titik tersebut, paham radikalisme mulai dimainkan para aktor dalam momentum pemilu.
Akuntabilitas, integritas, dan kredibilitas
Akuntabilitas, integritas, dan kredibilitas para penyelenggara pemilu menjadi pertaruhan atas keutuhan dan keretakan demokrasi Indonesia. Pintu masuk gerakan radikalisme dan terorisme terjadi karena kekecewaan, ketidakadilan, rendahnya kepecayaan, dendam, relasi sosial yang tercedera, dan berbagai macam penyebab lainnya, menjadi ancaman menjelang dan pascapemilu.
Dalam kesejarahan Indonesia, tantangan terbesar sejak dulu ialah ancaman radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, tidak sekadar menyukseskan pemilu, sukses menangkal gerakan radikalisme dan terorisme menjadi sangat penting.
Apa yang kita saksikan dalam beberapa hari ini di masa pandemi covid-19 versus masa kampanye pilkada di berbagai daerah yang memicu pro-kontra. Apatah lagi, seusai diundangkannya UU Cipta Kerja (omnibus law), adanya unjuk rasa di Ibu Kota dan di berbagai penjuru daerah menimbulkan ketegangan relasi sosial antara penguasa dan rakyat.
Berdasarkan fenomena di atas, kemudian dapatkah kita menjawab, apakah ada jaminan Indonesia masih tetap ada? Tentu saja, komitmen untuk menjaga NKRI dan komitmen berbangsa dan bernegara menjadi pertaruhan kelanggengan Indonesia akan datang.
Pada perspektif lain, larisnya lembaga survei menjelang pilkada berkontribusi pada hiruk pikuk dan kebingungan masyarakat untuk menentukan pilihan berdasarkan hati nuraninya. Hasil survei lembaga independen, menurut hemat penulis, tidak perlu dipublikasikan, tetapi digunakan untuk merancang program dan strategi pemenangan internal tiap calon atau partai politik tertentu.
Survei dilakukan dengan berbagai metode yang berbeda sehingga hasilnya pun berbeda-beda. Ketidakmampuan literasi masyarakat terhadap hasil survei yang dipublikasikan lembaga survei akan membuat kegaduhan dan mengganggu harmonisasi masyarakat, menjelang dan pascapilkada.
Jargon pilkada dengan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, sebagai keagungan demokrasi, bisa jadi slogan semata. Fakta dan realitas implementasinya demokrasi substantif selalu dikalahkan demokrasi prosedural.
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Teknologi artificial intelligence yang semula sekadar alat yang bersifat pasif --semacam kalkulator yang menunggu instruksi-- menjadi AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati.
Tidak ada makan siang gratis di dalam politik. Bantuan elite dan oligarki tentu menuntut balasan.
Pahit getir pembentukan negara tidak bisa dilepaskan pula dari derita luka dan sengsaranya rakyat. Nyawa rakyat lebih banyak musnah dibandingkan nyawa elite selama berjuang.
Empat langkah krusial tetap dibutuhkan agar kebijakan tidak berhenti sebagai respons sesaat.
Fenomena penghujat di masyarakat bukan hal baru. Dalam psikologi sosial ini disebut negativity bias: kecenderungan manusia lebih cepat melihat kesalahan ketimbang kebaikan.
Pertanyaan yang menyentak bukanlah apakah mungkin membubarkan lembaga DPR di alam demokrasi, melainkan mengapa anggota DPR minta tunjangan rumah Rp50 juta per bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved