Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Tren Kendaraan Listrik di Indonesia Melonjak Tajam, Pangsa Pasar Tembus 21,8 Persen

Basuki Eka Purnama
17/1/2026 11:28
Tren Kendaraan Listrik di Indonesia Melonjak Tajam, Pangsa Pasar Tembus 21,8 Persen
Ilustrasi--Jurnalis memotret mobil listrik Polytron G3 saat diluncurkan di Jakarta, Selasa (6/5/2025)(ANTARA/Hafidz Mubarak A)

INDUSTRI otomotif nasional mencatatkan transisi signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), yang dirilis Jumat (16/1), penjualan kendaraan elektrik di Indonesia melonjak pesat mencapai 175.144 unit, naik signifikan dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar 103.228 unit.

Kenaikan volume penjualan ini secara otomatis mendongkrak pangsa pasar kendaraan elektrik—yang mencakup model Hybrid Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV), dan Battery Electric Vehicle (BEV). 

Pangsa pasar kategori ini melesat dari 11,9% pada 2024 menjadi 21,8% pada 2025. 

Jika ditarik lebih jauh ke 2020, pertumbuhannya terlihat sangat kontras, dengan saat itu penjualan hanya menyentuh 1.324 unit dengan pangsa pasar 0,2%.

Secara perinci, model BEV (kendaraan listrik berbasis baterai) menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan lebih dari dua kali lipat, dari 43.188 unit menjadi 103.931 unit. 

Lonjakan persentase tertinggi justru datang dari model PHEV yang melambung dari 136 unit menjadi 5.270 unit. Sementara itu, model HEV tetap tumbuh stabil dari 59.903 unit menjadi 65.943 unit.

Kondisi berbeda dialami sektor kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Meski secara volume masih mendominasi pasar dengan penjualan 628.543 unit, angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan 2024 yang mencapai 762.495 unit. 

Pangsa pasar mesin konvensional ini pun terus tergerus, dari 99,8% pada 2020 menjadi 78,2% pada 2025.

Menanggapi fenomena ini, Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai produsen otomotif perlu segera merevisi strategi pemasaran mereka. Menurutnya, pendekatan ke konsumen kini harus lebih pragmatis.

"Strategi marketing digeser, dari sekadar isu lingkungan pindah ke value, bukan cuma produk yang canggih," ujar Yannes, Jumat (16/1).

Ia menekankan bahwa konsumen saat ini lebih mempertimbangkan keseimbangan antara harga dan nilai manfaat yang didapat. 

Selain faktor pasar, Yannes juga mengingatkan pentingnya kepatuhan industri terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai langkah efisiensi di tengah tantangan ekonomi.

"Mau tidak mau, mereka semua harus mampu menembus ambang batas TKDN minimal 40% hingga lokalisasi yang riil sebesar dan secepat mungkin, sehingga dapat memitigasi dampak kenaikan PPN 12 persen dan juga kurs melalui efisiensi rantai pasok dalam negeri," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya