Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Adversity Quotient

Firyal Fitriani Guru fisika Sukma Bangsa Pidie
22/12/2025 05:05
Adversity Quotient
(MI/Duta)

DI kelas-kelas IPA, kita mengenal hukum Newton ketiga: 'Setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah'. Biasanya hukum itu kita bayangkan melalui dua benda yang saling menekan atau saling mendorong. Namun, jika kita berhenti sejenak, hukum yang lahir dari dunia fisika ini menyimpan filosofi yang dalam tentang cara manusia menghadapi kesulitan. Filosofi sederhana dari dunia sains itu sesungguhnya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika kehidupan manusia sehari-hari.

 

AKSI DAN REAKSI DALAM KEHIDUPAN

Hidup, pada dasarnya, juga mengikuti pola 'aksi-reaksi'. Setiap orang, baik guru maupun siswa, akan selalu berhadapan dengan tekanan, tantangan, dan persoalan yang sulit. Itu adalah 'aksi' kehidupan. Namun, berbeda dengan benda mati yang reaksinya otomatis, manusia punya kesempatan untuk memilih bagaimana merespons. Di situlah letak seni menghadapi kesulitan, seni yang hari ini sering disebut sebagai adversity quotient, kemampuan bertahan dan bangkit ketika dicoba situasi sulit.

Coba kita bayangkan: ketika seorang siswa mendapat nilai rendah, komentar tajam dari teman dan orangtua di rumah, atau kegagalan dalam sebuah perlombaan, ia sedang menerima 'gaya aksi' dari kehidupan. Besarnya tekanan itu sering kali terasa mengimpit. Namun, justru dari besarnya tekanan itulah tersimpan kemungkinan untuk memunculkan 'reaksi' yang sama besar: semangat memperbaiki diri, keteguhan untuk mencoba lagi, atau keberanian untuk meminta bantuan.

Hal itu merupakan respons positif yang diharapkan ketika seorang anak menghadapi keadaan sulit dalam hidupnya. Namun, harapan tentang reaksi yang sehat itu tidak selalu bertemu dengan realitas yang ada di lapangan.

 

KETIMPANGAN AKSI-REAKSI

Sayangnya, banyak siswa kita hari ini tumbuh dalam dunia yang penuh tuntutan, tapi minim ruang untuk mengelola reaksi. Mereka dituntut meraih prestasi akademik tanpa pernah benar-benar diajari cara menghadapi kegagalan. Mereka diwajibkan disiplin, tetapi sering kali tidak diberi dukungan emosional yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, 'aksi' berupa tekanan sosial, akademik, dan lingkungan menjadi jauh lebih besar daripada kesempatan 'reaksi' yang sehat.

Ketika ketidakseimbangan tersebut dibiarkan, risiko yang muncul bukan lagi sekadar stres atau menurunnya motivasi. Ia bisa menjelma menjadi tragedi. Kita bisa melihat bagaimana hal itu terjadi pada kasus yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana yang ditemukan meninggal dunia pada 15 Oktober lalu (Bbc.com, 22/10/2025). Ia diduga kuat tidak mampu lagi menanggung tekanan sosial dalam bentuk perundungan yang terus ia alami. Dalam kondisi terdesak, tanpa ruang aman untuk bercerita, tanpa dukungan sistem yang memadai, reaksi yang muncul justru sesuatu yang tidak pernah kita inginkan: keputusan mengakhiri hidup. Situasi itu menunjukkan ketidakseimbangan antara tekanan dan dukungan bukan persoalan individu semata, melainkan juga persoalan sistem.

 

SEKOLAH SEBAGAI PENYEIMBANG

Pada titik itu, sekolah memiliki peran penting untuk mengembalikan keseimbangan itu. Sekolah perlu menjadi tempat yang tidak hanya memberikan tugas, target, dan disiplin, tetapi juga memberikan keteduhan, bimbingan, dan rasa aman secara psikologis.

Pada saat siswa merasa tertekan, guru hadir bukan sebagai pemberi hukuman, melainkan sebagai penyeimbang yang membantu mereka menemukan cara merespons dengan lebih tenang dan bijaksana. Di sinilah konsep well-being menjadi bagian inti pendidikan modern, bukan pelengkap, melainkan fondasi.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak anak yang pandai menjawab soal ujian, melainkan juga membentuk pribadi yang kuat menghadapi kehidupan. Pribadi yang tahu bahwa setiap tantangan mengandung peluang dan setiap tekanan dapat melahirkan ketangguhan. Gagasan tentang sekolah sebagai penyeimbang itu menemukan wujud nyatanya dalam pengalaman konkret di lapangan.

 

BELAJAR DARI SALMA

Saya meyakini bahwa sekolah tidak semata berfungsi sebagai ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai tempat anak-anak belajar memahami kehidupan itu sendiri. Tak jarang, pelajaran paling bermakna justru hadir bukan dari buku pelajaran atau forum seminar, melainkan dari pribadi-pribadi yang melalui sikap dan perjalanan hidup mereka mengajarkan arti ketangguhan; salah satunya ialah Salma, seorang lulusan Sekolah Sukma Bangsa Pidie tahun akademik lalu, yang pertama kali kami temui di sebuah pesantren sederhana di daerah terpencil saat menjemputnya sebagai penerima beasiswa, dengan senyum malu yang menyimpan kisah hidup berat sebagai yatim piatu sejak kecil.

Namun, dari titik itulah pelajaran penting berawal. Sebagian orang mungkin akan memandang kondisi hidup seperti itu sebagai alasan untuk pasrah dan berhenti bermimpi. Namun, Salma memilih jalan yang berbeda. Alih-alih meratapi keadaan, ia menjadikannya bahan bakar untuk berjuang. Ia tahu bahwa ia tidak bisa membandingkan dirinya dengan teman-temannya yang memiliki orangtua lengkap dan ekonomi mapan.

Selama tiga tahun di Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Salma tidak pernah tampil dengan drama atau keluhan. Ia bukan tipe siswa yang menceritakan masalah agar dikasihani. Ia hadir sebagai pribadi yang tenang, rendah hati, tetapi dengan tekad yang menyala, belajar lebih keras, bertanya lebih sering, mengatur waktu dengan disiplin, dan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berusaha, bukan menyerah.

Perjuangannya pun membuahkan hasil ketika Salma diterima melalui jalur SNBP di Jurusan Psikologi Universitas Malikussaleh, Aceh, sebuah capaian yang tidak hanya membanggakan secara akademik, tetapi juga paling memungkinkan secara ekonomi. Dengan demikian, meskipun kakak lelakinya masih harus bekerja keras menopang kebutuhan kuliahnya, Salma memilih untuk tetap mandiri dengan menyiapkan rencana bekerja paruh waktu, sebuah sikap yang mencerminkan kematangan mental dan kecerdasan menghadapi kesulitan. Ia tidak menunggu hidup menjadi mudah, tetapi melangkah maju dengan segala keterbatasan, hingga kisahnya menjadi gambaran nyata tentang 'reaksi terbaik' atas 'aksi' kehidupan yang berat, sebuah kecerdasan yang melampaui aspek akademik dan merangkul dimensi emosional, mental, serta spiritual.

Bagi Sekolah Sukma Bangsa Pidie, kisah Salma menegaskan tujuan keberadaan sekolah: membuka peluang bagi anak-anak dari latar belakang paling kompleks dan menjadi ruang belajar yang menumbuhkan harapan karena di tengah tantangan zaman, tugas sekolah bukan sekadar meluluskan ujian, melainkan membekali siswa agar mampu menjalani hidup, sebagaimana dibuktikan Salma yang tumbuh berdaya berkat ekosistem pendukung dan kehangatan sekolah.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik