Selasa 08 November 2022, 05:05 WIB

Perubahan Iklim, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat

Ali Khomsan Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor | Opini
Perubahan Iklim, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat

MI/Dede Susianti

 

PERUBAHAN signifikan pada iklim, suhu udara, dan cuaca disebabkan oleh pemanasan global. Indonesia termasuk ke dalam negara yang sangat rentan mengalami perubahan iklim. Hal tersebut diakibatkan oleh kondisi geografis Indonesia yang terletak di antara dua samudra dan dua benua, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta Benua Asia dan Benua Australia.

 

Penyebab

Penyebab perubahan iklim di antaranya yaitu kerusakan lapisan ozon, kerusakan fungsi hutan, pemanasan global, penggunaan CFC tidak terkontrol, dan gas buangan industri. Peningkatan emisi gas rumah kaca yang semakin tinggi dari tahun ke tahun, terjadi karena pertumbuhan penduduk dan tingginya permintaan energi fosil. Perubahan iklim terjadi di berbagai penjuru dunia, dan memicu kejadian ekstrem seperti gelombang panas dan kebakaran hutan, kekeringan, banjir akibat hujan lebat, dan pecahnya es di Greenland.

Dampak terbesar perubahan iklim  dirasakan di sektor pertanian, berupa penurunan atau gagal panen sehingga mengancam ketersediaan pangan. Ketersediaan pangan yang tidak seimbang dengan permintaannya menyebabkan naiknya harga pangan. Di negara-negara dengan pendapatan rendah, kenaikan harga pangan akan cenderung meningkatkan problem gizi dan kesehatan masyarakat. Kejadian stunting akibat dampak perubahan iklim, lebih besar di daerah perdesaan dibanding perkotaan.

Produktivitas pertanian juga dapat menurun seiring dengan menurunnya kualitas, kesuburan, dan daya dukung lahan. Perubahan iklim menyebabkan fungsi hutan dalam mengatur sistem hidrologi dan penyaring air akan kian melemah.

Dampak perubahan iklim pada peningkatan suhu dan CO2, cuaca ekstrem, serta naiknya permukaan laut, menyebabkan beberapa masalah kesehatan masyarakat. Masalah kesehatan masyarakat yang ditimbulkan dari perubahan iklim di antaranya adalah perubahan ekologi vektor (malaria, demam berdarah), memburuknya kualitas air (kolera, diare),  kerawanan pangan (malnutrisi), dan suhu panas ekstrem (heat stroke).

Penyebaran serbuk sari yang meningkat, akibat menghangatnya suhu bumi memicu alergi pada sebagian populasi dunia. Selain itu, polusi yang menyebabkan semakin tingginya radikal bebas, juga dapat berdampak pada penyakit-penyakit degeneratif (penyakit jantung). Problem kesehatan masyarakat yang meningkat, menyebabkan biaya kesehatan yang tinggi, yang membebani pemerintah maupun orang-orang yang terkena dampak.

Prediksi 2030-2050 memperkirakan risiko kematian akibat penyakit malaria, diare, malnutrisi dan gelombang panas akan bertambah 250.000 kematian setiap tahun. Selain berpengaruh terhadap kesehatan, perubahan iklim juga berdampak terhadap ketahanan pangan dan pola konsumsi masyarakat.

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama . Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan. Situasi perkembangan konsumsi di Indonesia dapat dilihat dari skor pola pangan harapan dan cakupan kecukupan konsumsi pangan. Skor pola pangan harapan Indonesia pada tahun 2019 yaitu sebesar 90,8 lebih rendah dari target RPJMN sebesar 92,5. Sementara itu, cakupan kecukupan konsumsi pangan untuk jenis pangan umbi-umbian, pangan hewani, buah biji berminyak, kacang-kacangan, sayuran, dan buah masih belum mencapai angka 100%.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim, terdiri dari dua cara, yaitu adaptasi dan mitigasi. Adaptasi, adalah upaya meningkatkan ketahanan menghadapi dampak perubahan iklim dengan memantapkan ketahanan pangan. Sementara itu, mitigasi adalah upaya pengendalian untuk mengurangi risiko akibat perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi. Beberapa upaya adaptasi-mitigasi yang dapat dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim yaitu optimalisasi lahan pekarangan, optimalisasi limbah organik (zero waste), dan diversifikasi sumber karbohidrat alternatif.

Bappenas (2021) memperkirakan, potensi sampah yang dihasilkan dari makanan yang terbuang sebelum diolah (food loss), dan sampah makanan (food waste) di Indonesia pada tahun 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara dengan 115-184 kg per kapita per tahun. Total sampah makanan ini bernilai ratusan triliun rupiah. Food waste adalah indikasi banyaknya makanan yang tidak dihabiskan oleh seseorang, mungkin karena terlanjur mengambil porsi terlalu banyak, atau membeli/memasak makanan yang tidak disukai. 

 

Edukasi

Diversifikasi karbohidrat alternatif, sebagai antisipasi dampak perubahan iklim dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi pangan umbi-umbian. Stigma bahwa pangan lokal umbi-umbian hanya dikonsumsi orang miskin harus dikoreksi. Edukasi untuk perubahan perilaku konsumsi pangan perlu dilakukan sejak usia sekolah.  Edukasi ini terkait nilai fungsional dan ekonomi pangan lokal umbi-umbian yang umumnya memiliki indeks glikemik rendah serta kaya serat.

Semakin sejahtera suatu negara, permintaan pangan hewani akan semakin meningkat. Untuk produk pangan hewani ruminansia (sapi), ternyata produksinya terkait dengan risiko pemanasan global. Di dalam sistem pencernaan sapi dihasilkan gas metana, yang kemudian dikeluarkan dalam bentuk gas buangan dan feses sapi. Gas metana inilah, yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab pemanasan global. Human Society International (2014) menyatakan, bahwa dalam jangka waktu 20 tahun, metana memiliki angka GWP (Global Warming Potential) setidaknya 25 kali lipat dibanding karbondioksida.

Peternakan sapi modern di negara-negara maju, memerlukan input produksi yang berkaitan dengan emisi gas karbondioksida. Transportasi pakan, dan ternak hidup antarwilayah atau negara, membutuhkan bahan bakar fosil yang akan melepas gas karbondioksida ke atmosfer. Produksi pakan ternak, seperti jagung dan kedelai membutuhkan lahan yang luas (ekstensifikasi), yang berpotensi untuk alih fungsi lahan hutan ke pertanian intensif. Hutan sebagai paru-paru dunia akan berkurang, sehingga merusak lapisan ozon di atmosfer.

Bangsa-bangsa di dunia, dihadapkan pada perubahan preferensi pangan, sebagai akibat kesejahteraan yang semakin meningkat. Beragam jenis produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia, yang apabila produksinya masih mengandalkan bahan bakar fosil, maka kita dihadapkan pada pilihan untuk memuaskan selera, atau kembali ke pangan konvensional untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga

MI/Ebet

Sepak Bola dan Politik

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 27 November 2022, 05:00 WIB
SEUSAI timnya menahan imbang Inggris tanpa gol di laga kedua penyisihan Grup B, Sabtu (26/11) dini...
MI/RM Zen

Wacana Dekrit Presiden ala LaNyalla Mattalitti, Masuk Akal atau Masuk Angin?

👤Soelistijono, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 26 November 2022, 09:31 WIB
Namun untuk saat ini, LaNyalla lebih baik ikut memikirkan dulu dan bertindak negarawan, bagaimana agar perpolitikan nasional saat ini...
Dok. Pribadi

Menggaungkan Spiritualitas Ekologi

👤Hijroatul Maghfiroh Founder Eco-Peace Indonesia: Interreligious Learning on Environment, Nahdlatul Ulama 🕔Sabtu 26 November 2022, 05:00 WIB
AGAMA dan krisis menjadi dua isu yang banyak diperbincangkan masyarakat dunia akhir-akhir...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya