Kamis 22 September 2022, 05:10 WIB

In Memoriam Azyumardi Azra

Budi Agustono Guru Besar Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara | Opini
In Memoriam Azyumardi Azra

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

SAYA beroleh undangan kembali dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara untuk berbicara terkait silang pendapat masuknya Islam di Indonesia pada 5 Oktober 2022. Ini kedua kalinya saya berdiskusi di FIB Universitas Sumatera Utara (USU). “Saya akan mengisi diskusi publik di Bangi, Kuala Lumpur.” Itulah kalimat yang meluncur dari guru besar Azyumardi Azra kepada saya sewaktu bertemu di konter penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta sebelum berangkat ke Kuala Lumpur, Jumat (16/9).

Sejarawan Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Jakarta ini mendalami perkembangan Islam dan politik Islam sejak lama. Bahkan disertasi doktoralnya, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, menjadi acuan bacaan babon mengenai jejaring intelektual Islam di masa abad ke-19. Buku ini tidak saja membahas jejaring intelektual para scholar Islam tradisional Nusantara yang mempunyai relasi keagamaan dengan pemikir Islam atau para guru Islam yang tinggi pengetahuannya sekaligus sebagai ulama besar berpengaruh di Timur Tengah, tetapi juga perkembangan Islam di Asia Tenggara.

Bagi sarjana Indonesia, terutama di lingkaran akademik-perguruan tinggi, tidak banyak yang menekuni Asia Tenggara. Apalagi Asia Tenggara, para akademik Indonesia juga tidak banyak mempelajari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei, Laos, Vietnam, dan Kamboja sebagai kajian wilayah. Kebanyakan para scholar Indonesia, jika menulis tesis, disertasi, atau tulisan lainnya, lebih besar membahas berbagai tema di negerinya sendiri. Tersebab itu, scholar Indonesia sedikit yang memahami Asia Tenggara.

Berbeda dengan Indonesia, scholar dari negara asing (Barat) jika menulis tesis, disertasi, atau tulisan ilmah, tampak terasa begitu mudah meneliti dengan metodologi canggih misalnya Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan sebagainya. Juga tentang etnisitas, politik identitas, dan multikulturalisme di Asia Tenggara, sebagian besar dikerjakan bukan oleh orang Indonesia, tetapi dari negara lain. Mereka lebih akrab dengan jagat Asia Tenggara.

Kekurangan minat scholar Indonesia juga terjadi dalam kajian Islam di Asia Tenggara. Jika scholar Indonesia sedikit sekali melakukan studi Asia Tenggara, makin bisa dihitung jari lagi yang mengkaji tentang Islam di Filipina, Malaysia, dan Thailand Selatan. Sependek pengetahuan saya, ini disebabkan ketidakmampuan intelektualitas menjelajah Islam yang pengaruhnya menyebar ke Asia Tenggara.

Azyumardi Azra berbeda dengan sejarawan lainnya. Berbeda lantaran pengetahuannya tentang Islam yang begitu mendalam memperlihatkan keluasan bacaannya sebagai sejarawan. Menelusur jejaring ulama tradisional dengan sumber kolonial dan jawi bukan perkara mudah. Tidak semua peneliti mampu melakukannya. Azyumardi Azra mampu melakukannya dengan baik sehingga menjadi intelektual muslim paling otoritatif di Republik ini.

Sebenarnya Azyumardi Azra seorang sejawaran yang menggeluti perkembangan dan pemikiran Islam. Tidak banyak sejarawan begitu serius mendalami Islam seperti beliau. Ia juga tidak seperti sejarawan umumnya. Ia sejarawan yang serba berpengetahuan dalam berbagai bidang. Pandangan dan wawasannya luas, juga bacaannya seluas samudra. Hal ini terlihat dari buku dan tulisannya yang tersebar di media kertas, media daring, dan jurnal.

Di luar bidang ilmunya, ia menulis persoalan kebangsaan, masyarakat sipil, politik Islam, demokrasi, kebudayaan, dan masalah kekinian yang sedang berkembang di tengah kehidupan bangsa. Sangat sering pemikirannya dituangkan dalam tulisan-tulisan di surat kabar terkemuka. Lebih dari itu, sebagai sejarawan Islam yang tinggi ilmu dan berjiwa demokratis, terbuka, dan gemar berdiskusi dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang lawan, ia berjiwa nasionalis dan mencintai bangsanya. Demikian jauh jiwanya untuk bangsa dan menghidupkan spirit kebangsaan, ia menolak keras dan tidak pernah menoleransi kekerasan politik dalam menyelesaikan masalah kebangsaan. Tersebab itu, ia menentang kekerasan agama atau aksi-aksi terorisme yang hanya memproduksi spiral kekerasan.

Azyumardi Azra melawan aksi-aksi terorisme lantaran perbuatan kekerasan akan merusak demokrasi. Baginya demokrasi adalah iklim politik yang harus diupayakan terus bertumbuh. Bertumbuhnya demokrasi harus ditegakkan oleh semua elemen masyarakat. Demokrasi tidak pernah datang sendiri lalu langsung menjadi sistem politik yang ajek dan berfungsi sendiri.

Demokrasi harus ditegakkan dan jangan sampai demokrasi tak bertumbuh cerah karena dibajak orang-orang yang tak menyukai bekerjanya sistem politik ini. Karena itu, kelompok etnik dan agama jika ingin menjadi fondasi bangsa harus mendapat ekualisasi di hadapan negara. Karena itulah Azyumardi Azra mendorong kelompok etnik dan agama memperkuat kebangsaan. Jika ini terjadi, demokrasi dan kebangsaan saling isi mengisi dalam memancarkan kehidupan damai.

Senyampang dengan ini, pluralitas etnik, agama, dan budaya harus menjadi penyerbuk bangsa yang akan menjadi pilar keberagaman. Jangan ada satu pun kelompok etnik, satu dengan lainnya saling merundung. Tidak ada pembedaaan mayoritas lebih dari minoritas. Dengan cara seperti inilah tenun kebangsaan menguat. Sewaktu membicarakan tema-tema tersebut, Azyumardi Azra tentu akan meninggalkan atau melepaskan diri sebagai sejarawan.

Sebab, tidak ada lagi sejarawan yang mampu berpikir dan berwawasan luas sebagaimana terlihat dari pemikiran Azyumardi Azra. Berwawasan, berpengetahuan, dan berpikir luas mengantarkan dirinya menjadi pemikir Islam dan sejarawan besar yang dimiliki Republik ini. Kebesaran sebagai pemikir Islam dan pekerja demokrasi yang membuat dirinya menerima bintang kehormatan, tanda jasa, dan penghargaan dari berbagai lembaga di luar dan dalam negeri.

 

Jujur

Meski sebagai pemikir Islam dan sejarawan mencorong lulusan doktor dari universitas Amerika serta memiliki jabatan di pemerintahan, Azyumardi Azra tetap menjaga jarak dengan kekuasaan. Ia tetap menyuarakan kebenaran, serta tanpa tedeng aling-aling berpandangan kritis dan acap memberikan tanggapan keras terhadap kekuasaan. Ia tidak pernah larut dan membenamkan diri dalam kekuasaan. Ia tetap memilih dirinya sebagai intelektual muslim dan sejarawan organik yang melancarkan kritik kepada kekuasaan. Ia tidak membiarkan kekuasaan berjalan tanpa kendali. Ia tidak pernah menggadaikan dirinya sebagai pemuja kekuasaan.

Intelektual, pemikir Islam, dan akademisi yang menyuarakan persoalan bangsa menandakan pribadi kuat, sederhana, teguh, berintegritas, dan berjarak dengan kekuasaan. Sosok Azyumardi Azra yang punya nama besar dalam jagat intelektual akademik di dalam dan luar negeri senantiasa tak pernah luntur bersikap sederhana, jujur, dan bersih. Itu tecermin dari dirinya yang tidak pernah menerima komisi dan korupsi dari jabatannya.

Sewaktu menjadi Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah dua periode masa bakti 2000-an, Azyumardi Azra mengetahui dan menyetujui anggaran dana pembangunan fisik di lingkungan perguruan tingginya. Pembangunan fisik selama delapan tahun masa baktinya mengalirkan pemberian komisi untuk dirinya sebagai rektor.

Pemberian komisi yang tidak kecil itu diterimanya, tetapi bukan digunakan untuk kepentingan pribadi. Komisi itu dipakai untuk keperluan membeli tanah demi perluasan pembangunan gedung-gedung baru pengembangan pendirian fakultas dan sebagainya. Bagi Azyumardi Azra, komisi tidak membuat dirinya semakin kaya. Ia cukup menerima gaji dan tunjangan sebagai rektor.

Ia juga tidak pernah marah bila tidak diberi honor manakala diundang sebagai narasumber atau pembicara, apalagi bila pengundangnya organisasi mahasiswa. Keinginan intelektual muslim ini mengisi acara di Bangi, Kuala Lumpur, Sabtu (17/9) dan menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Perdebatan Masuknya Islam di Indonesia di Program Studi S-2 Ilmu Sejarah FIB USU pada 5 Oktober 2022 tidak pernah kesampaian. Azyumardi Azra, guru besar sejarah Islam, intelektual Islam, dan pemikir bangsa, berpulang dipanggil Sang Pencipta pada Minggu (18/9). Indonesia dan komunitas akademik dunia kehilangan seorang intelektual sejati yang produktif melahirkan karya-karya besar.

Baca Juga

MI/Seno

Tragedi Kanjuruhan: Fanatisme dan Situasi Anonimitas

👤Bagong Suyanto Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 05:05 WIB
KERUSUHAN dan aksi anarkhisme supporter di tanah air sebetulnya bukan hal baru. Aksi kerusuhan dan perkelahian antarsuporter sudah...
MI/Seno

Anies: Pilihan Terbaik dalam Melanjutkan Kemajuan Bangsa

👤O-2 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 05:00 WIB
ASSALAMUALAIKUM warahmatullahi...
Dok. Pribadi

Akhlak Mulia

👤Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma, dosen Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik UGM 🕔Senin 03 Oktober 2022, 05:10 WIB
AKHLAK mulia ialah dua kata yang sangat sering ditemukan dalam kalimat visi sekolah-sekolah di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya