Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Profil Jesse Jackson: Sang Pendeta dan Pejuang Hak Sipil AS Kepercayaan Martin Luther King Jr

Putri Rosmalia Octaviyani
17/2/2026 22:49
Profil Jesse Jackson: Sang Pendeta dan Pejuang Hak Sipil AS Kepercayaan Martin Luther King Jr
Mendiang Jesse Jackson.(Dok. Rainbow PUSH Coalition)

SOSOK pejuang hak sipil Amerika Serikat (AS), Rev. Jesse Jackson, dikabarkan meninggal dunia pada Selasa, 17 Februari 2026 pagi waktu setempat. Berita meninggalnya Jesse Jackson tersebut menjadi duka tersendiri bagi warga AS.

Dalam narasi besar perjuangan hak sipil di AS, nama Jesse Jackson berdiri tegak sebagai sosok yang berhasil mengubah energi protes jalanan menjadi kekuatan politik formal. Jika Martin Luther King Jr adalah nabi bagi gerakan ini, maka Jesse Jackson adalah teknokrat dan orator yang memastikan api perjuangan tersebut masuk ke dalam surat suara dan ruang dewan direksi perusahaan global.

Jejak Awal: Dari Memphis Hingga Operation Breadbasket

Lahir dengan nama Jesse Louis Burns di Greenville, South Carolina, Jackson tumbuh di bawah bayang-bayang hukum Jim Crow yang diskriminatif. Titik balik hidupnya terjadi ketika ia bergabung dengan Southern Christian Leadership Conference (SCLC) dan menjadi orang kepercayaan Dr. Martin Luther King Jr.

Kehadiran Jackson di balkon Lorraine Motel saat King dibunuh pada tahun 1968 menjadi momen simbolis. Ia mewarisi tongkat estafet perjuangan, yang kemudian ia manifestasikan melalui Operation Breadbasket. Program ini unik karena tidak hanya menuntut hak politik, tetapi juga menekan perusahaan-perusahaan besar untuk mempekerjakan warga kulit hitam dan menggunakan jasa pemasok dari komunitas minoritas.

Kapan Jesse Jackson Mencalonkan Diri Sebagai Presiden?

Salah satu kontribusi paling revolusioner Jackson adalah pencalonannya sebagai Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat pada tahun 1984 dan 1988. Meskipun tidak menang, kampanye ini memecahkan plafon kaca politik bagi warga Afrika-Amerika.

Melalui konsep Koalisi Pelangi (Rainbow Coalition), Jackson berhasil menyatukan berbagai kelompok marginal: warga kulit hitam, pekerja kulit putih yang terpinggirkan, komunitas Latino, hingga aktivis lingkungan. Ia membuktikan bahwa suara minoritas jika disatukan dapat menjadi kekuatan penentu dalam politik nasional, sebuah fondasi yang puluhan tahun kemudian memuluskan jalan bagi kemenangan Barack Obama.

Diplomasi Internasional: Negosiator Tanpa Portofolio

Sisi lain Jesse Jackson yang sering terlupakan adalah kemampuannya dalam diplomasi global. Tanpa jabatan resmi di pemerintahan, ia sering kali berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh Departemen Luar Negeri AS.

Pada tahun 1983, ia mengamankan pembebasan Letnan Angkatan Laut AS Robert Goodman yang ditawan di Suriah. Ia juga melakukan perjalanan ke Kuba untuk merundingkan pembebasan tahanan politik dan ke Irak pada tahun 1990 untuk membebaskan warga asing yang dijadikan perisai manusia oleh Saddam Hussein. Jackson menunjukkan bahwa kekuatan moral dan dialog kemanusiaan sering kali lebih efektif daripada sanksi ekonomi.

Warisan dan Pencapaian Jesse Jackson

  • Mendirikan Operation PUSH (People United to Serve Humanity) pada 1971.
  • Membentuk National Rainbow Coalition pada 1984.
  • Memperoleh Presidential Medal of Freedom pada tahun 2000.
  • Pionir pendaftaran pemilih massal bagi komunitas minoritas di AS.
  • Menjadi jembatan diplomasi kemanusiaan di Suriah, Irak, dan Yugoslavia.

Transformasi ke Keadilan Ekonomi: Wall Street Project

Memasuki era 1990-an dan 2000-an, Jackson menyadari bahwa hak sipil tanpa kekuatan ekonomi adalah semu. Melalui Wall Street Project, ia mendesak sektor keuangan Amerika untuk lebih inklusif. Ia menantang perusahaan-perusahaan di bursa saham New York untuk membuka akses modal bagi pengusaha minoritas dan mendiversifikasi jajaran direksi mereka. Ini adalah perluasan dari perjuangan hak sipil ke dalam jantung kapitalisme global.

Kesimpulan: Warisan yang Tetap Relevan

Jesse Jackson bukan sekadar saksi sejarah; ia adalah pembentuk sejarah. Dari jalanan Memphis hingga panggung konvensi nasional, ia konsisten menyuarakan bahwa inklusi adalah kekuatan, bukan kelemahan. Warisannya tetap hidup dalam setiap gerakan sosial modern yang menuntut kesetaraan akses, baik di bilik suara maupun di pasar kerja. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik