Senin 12 September 2022, 05:10 WIB

Sekolah Alam dan Pendidikan Lingkungan

Syamsir Alam Dewan Pengawas Yayasan Sukma | Opini
Sekolah Alam dan Pendidikan Lingkungan

Dok. Pribadi

 

IBU Jenni, guru di sekolah alam yang terletak di pinggir Kota Tampere, Finlandia, memberi pengarahan singkat kepada siswa kelas 7 SMP yang berkunjung untuk belajar tentang lingkungan dan pelestarian alam. Kepada siswa dijelaskan tentang kegiatan pembelajaran yang mereka akan peroleh pada hari itu. Semua siswa kelas 7 termasuk guru yang mendampangi dibekali berbagai informasi terkait pembelajaran dan medan lingkungan yang mereka akan jelajahi selama beberapa jam ke depan.

Selain itu, Ibu Jenni juga memeriksa kesiapan siswa sebelum berangkat memasuki hutan produktif yang terletak tepat di samping kompleks bangunan sekolah alam. Sebelum bergerak memasuki wilayah perhutanan, siswa diberi tugas awal untuk mengidentifikasi, memilih, dan memetik beberapa dedaunan yang layak dan aman untuk dikonsumsi (diminum) sebagai pengganti daun teh. Dedaunan itu kelak (di akhir kegiatan pembelajaran) akan dinikmati seluruh rombongan yang berpartisipasi dalam pembelajaran melalui penjelajahan hutan (produktif) pada hari itu.

Dalam proses identifikasi tanaman dedaunan itu sudah terjadi diskusi dan perdebatan di kalangan siswa dan juga dengan guru pembimbing tentang dedaunan yang dipilih/dipetik. Apakah memang benar layak dan aman untuk dikonsumsi sesuai konsep ilmu pengetahuan yang mereka sudah miliki/pelajari sebelumnya. Metode yang digunakan ibu Jenni dalam membangun diskusi dan perdebatan itu sangat baik dan inspiratif.

 

Belajar dari Finlandia

Sekolah alam di Finlandia menawarkan layanan pendidikan lingkungan dan perubahan iklim secara eksklusif diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja. Pengunjung yang belajar ke sekolah alam umumnya adalah siswa SD dan SMP. Metode pendidikan yang paling banyak digunakan ialah metode wisata alam dan pembelajaran inkuiri. Adapun pendekatan yang paling umum ialah aktivitas fisik dan belajar sambil menanamkan kesadaran dan sikap positif terhadap alam (Jeronen, E. at al:2008).

Sekolah alam pertama kali didirikan di Siuntio pada 1986. Setelah itu, sekolah sejenis terus berkembang dan bertambah di seluruh Finlandia. Aksi sekolah alam dapat menjadi bagian dari pendidikan formal pada semua tingkatan pendidikan, mulai dari TK sampai SMA, atau bisa juga berupa kegiatan sepulang sekolah. Tindakan tersebut menggambarkan bahwa sekolah alam tidak selalu terikat dengan tempat. Selain itu, penyelenggaraan pendidikan lingkungan dapat diatur oleh masyarakat, pemerintah kota, atau sektor swasta yang beroperasi di wilayah sekolah alam atau sekolah lingkungan.

Guru sekolah alam diberi tanggung jawab untuk mengajar tentang lingkungan dan perubahan iklim. Di samping itu, mereka pun bertindak sebagai guru kelas atau mata pelajaran di sekolah induk. Sekolah alam tidak memiliki siswa sendiri. Mereka mendapatkan dana operasional pendidikan dari pemerintah lokal/kota, seperti semua sekolah dasar dan menengah di Finlandia.

 

Pendidikan lingkungan di Indonesia 

Dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim di negara kita sudah sangat terasa, terutama dalam aspek ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan. Suhu ekstrem yang menyebabkan kekeringan, kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor telah menjadi pemandangan umum dan bahkan sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat. Positifnya, perubahan iklim itu secara evolutif juga telah menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat peduli lingkungan dan sejumlah pakar pendidikan akan pentingnya pendidikan lingkungan dan perubahan iklim diperkenalkan kepada pelajar (siswa) sejak usia dini.

Saat ini, sejumlah sekolah yang terdapat di beberapa kepulauan, antara lain Sumatra, Jawa, Bali, dan Sulawesi sudah mulai memperkenalkan konsep sekolah hijau yang dibangun dan dikembangkan--sebagian itu atas inisiatif yayasan/sekolah sendiri--seperti Sekolah Sukma Bangsa (SSB) di Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, dan Kota Lhokseumawe Aceh, serta Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, atau melalui kemitraan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang disebut Sekolah Adiwiyata.

Sekolah Adiwiyata itu merupakan sekolah-sekolah swasta dan negeri yang memperoleh pendampingan dari KLHK dalam memperkaya pengetahuan, keterampilan, dan membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan (hijau) dan pelestarian lingkungan. Namun, kampanye hijau yang digaungkan sejauh ini belum menjadi bagian kurikulum pembelajaran di sekolah yang bermitra sehingga masih sulit untuk menjaga keberlangsungan program, apalagi jika targetnya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku siswa dan guru terhadap pentingnya merawat dan menjaga kelestarian lingkungan.

 

Tujuan pendidikan lingkungan

Deklarasi Tbilisi (UNESCO-UNEP, 1978), sebagaimana dikemukakan (Eila Jeronen, dkk, 2008) menyarankan bahwa tujuan pendidikan lingkungan ialah untuk 'membantu individu dan masyarakat memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan keterampilan praktis untuk berpartisipasi secara bertanggung jawab dan efektif dalam mengantisipasi dan pemecahan masalah lingkungan, serta dalam pengelolaan kualitas lingkungan'.

Palmer dan Neal (1994) mendefinisikan pendidikan lingkungan sebagai, pertama, pendidikan yang membangun kesadaran, pemahaman, dan keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh pemahaman. Kedua, pendidikan di (atau dari) lingkungan, dengan pembelajaran terjadi di luar kelas, seperti di alam. Ketiga, pendidikan lingkungan hidup yang bertujuan untuk pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan.

Salah satu strategi yang perlu ditempuh untuk mewujudkan tujuan di atas ialah dengan mengintegrasikan isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan dan perubahan iklim ke dalam kurikulum sekolah. Untuk itu, menurut Satia Zen (2022), guru perlu memiliki kesadaran dan kemampuan dalam merancang kurikulum (lokal) agar mereka mampu merespons dampak kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan pemanasan global sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sekolah masing-masing.

Melalui Kurikulum Merdeka, guru seharusnya sudah akan semakin otonom dalam mengelola pembelajaran dan penilaian. Apalagi dengan Kurikulum Merdeka ini pembelajaran berbasis proyek dan portofolio sepertinya sudah menjadi kebutuhan dan keniscayaan, khususnya dalam mengembangkan keterampilan berpikir abad ke-21. Pembelajaran berbasis fenomena yang dikembangkan di Finlandia atau model pembelajaran yang dikembangkan Grant Wiggins dan McTighe, pembelajaran transformasi (pembelajaran bermakna), dapat membantu guru dalam upaya mengintegrasikan topik/tema pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum dengan isu-isu yang terkait lingkungan, perubahan iklim, dan pemanasan global.

Upaya-upaya di atas perlu dipikirkan, didiskusikan, dan dilaksanakan sehingga isu lingkungan dan perubahan iklim serta pemanasan global menjadi bagian dari kesadaran generasi muda masa kini dan masa depan. Selanjutnya, kesadaran yang sudah terbangun akan mengubah sikap, perilaku, dan gaya hidup yang nyata dan relevan dengan kondisi mereka sehari-hari. Wallahu 'alam bishawab.

Baca Juga

dok.pribadi

Jika Anies Dipenjarakan

👤Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle. 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 10:00 WIB
ISU memenjarakan Anies Baswedan sangat kencang setelah berbagai media massa memberitakan video Andi Arief, tokoh Partai Demokrat, yang...
MI/Ebet

Kopi, Batik, dan Nasionalisme

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 05:00 WIB
Telah berabad-abad lamanya kopi dan batik mengisi dapur dan almari masyarakat...
MI/RM Zen

Terima Kasih, Anies Baswedan

👤Akhmad Mustain, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 13:41 WIB
Masyarakat Jakarta tetap patut berterima kasih kepada Anies karena sudah memimpin Ibu Kota...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya