Senin 11 April 2022, 05:05 WIB

Puasa dan Pendidikan Karakter

Fuad Fachruddin Dewan Pengawas Yayasan Sukma | Opini
Puasa dan Pendidikan Karakter

Dok. Pribadi

 

HARI ini kaum muslimin sudah menjalani puasa lebih dari sepekan dalam keadaaan yang masih harus berjaga-jaga terhadap bahaya pandemi covid-19 meski tidak seperti yang dialami dalam dua Ramadan lalu. Bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan merupakan modal dasar untuk melahirkan dan mempertahankan daya tahan dalam kehidupan. Ada banyak iktibar yang dapat digali dan ditarik dari pelaksanaan ibadah puasa dalam konteks pendidikan. Namun, pada kesempatan ini pembahasan akan kita fokuskan pada dua hal, yaitu tujuan atau hasil akhir dan nilai utama dari ibadah puasa untuk membangun pribadi dan bangsa, kini dan ke depan.

 

Takwa dan mutakin 

Menjadi insan bertakwa (muttaqi) ialah hasil akhir yang hendak dicapai melalui puasa. Para ahli tafsir, seperti Abu Su’ud, Al-Baidhawi, Al-Khaazin, Assa’aadi, dan Arrazy, menyebutkan puasa ialah wasilah untuk mencapai ketakwaan, yaitu derajat tertinggi manusia. Takwa berasal dari asal kata Arab taqwa, dengan akar kata waqa yang secara harfiah berarti menjaga, melindungi, dan membersihkan diri. Takwa berarti melindungi diri dari kehancuran moral dan menjaga diri dari tindakan yang melanggar ketentuan Allah. Takut kepada Allah (ittaqallah bukan dalam pengertian takut akan sesuatu yang membahayakan atau menakutkan seperti binatang buas. Namun, ia merupakan kesadaran diri akan kehadiran Pencipta (Al-Khalik) dan komitmen untuk menjalankan ketentuan-Nya, yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan ikhlas (Arrazi; Leaman, 2006: 643; Berjak, 2006: 324).

Mutaki ialah seseorang yang takut kepada Pencipta dalam pengertian saleh, yakni menjaga dirinya dari dosa dan yang membahayakan, dan menjadikan Al-Khalik sebagai pelindung (Berjak, 2006: 324), serta meyakini bahwa segala perbuatan seorang tidak akan lepas dari pantauan-Nya dan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat (Arraazi, 1981). Mutakin (muttaqin, jamak dari muttaqi) selalu berusaha menghilangkan hadirnya selain Allah dalam hati, sikap, berpikir dan bertindak atau bermuamalah. Oleh karenanya, takwa merupakan posisi tertinggi (Arrazi, 1981; Aththanthawy). Takwa menjadi satu-satunya parameter yang digunakan Islam untuk menilai derajat seseorang, bukan kekayaan, pangkat, nasab, etnik, dan sejenisnya sebagaimana tercantum dalam surah Al-Hujurat: 13 dan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, “Sesungguhnya Allah tidak melihat atau menilai rupamu, hartamu, dan jabatanmu, tetapi Allah akan menilai hati dan perbuatanmu.”

 

Akhlak mulia 

Puasa, menurut beberapa mufasir, merupakan proses pendidikan (tahdziib, tarbiyatur ruhaniayah) atau pembersihan jiwa, yakni membentuk diri menjadi seorang yang berakhlak terpuji, bersikap sabar dan mujahadah (usaha sungguh-sungguh), serta tangguh menghadapi kesulitan dalam kehidupan, juga menjauhkan diri dari sikap tercela seperti sombong, takabur, ria, serakah, khianat, dan zalim (Ibnu Katsir, Al-Humaad, Sayyid Thanthawi).

Nilai utama puasa ialah praktik (cermin) dari ketauhidan dan peran puasa ialah memperbaiki akhlak seseorang dalam relasi dengan Tuhan (hablum min Allah) dan hubungan dengan manusia keseluruhan (hablum min al-naas) termasuk dengan makhluk lain dan alam raya (Leaman, 2006: 530). Dalam relasi pertama, puasa melatih perilaku manusia untuk takut kepada Allah dalam pengertian komitmen menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dengan kata lain, melalui puasa seseorang meyakini dan merasakan bahwa Khalik memantau seluruh apa yang dilakukan seseorang seperti puasa (Asaud, Alquthan). Keyakinan dan sikap semacam itu merupakan konsep pewujudan dari ihsan. Dengan keyakinan yang kuat bahwa Khalik memantau dan tidak ada yang dapat menghalangi-Nya.

Tauhid menjauhkan diri dari hadirnya selain Allah dalam diri atau hati seseorang secara ikhlas dan munculnya sikap as if he is God seperti takabur, adigung adiguna yang merupakan penyakit hati (lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang surah Al-Kahfi, 18: 110). Keyakinan seperti ini memberikan efek terhadap sikap dan perilaku seseorang dalam hubungan antarindividu atau sesama makhluk, misalnya, ia tidak akan khianat terhadap orang lain, mengambil harta dengan tidak halal seperti korupsi, menyakiti orang lain atau merugikan orang lain karena semua terekam dan akan diminta pertanggungjawaban di akhirat (al-Maraaghy).

Dalam tataran relasi kedua, hablum min al-naas, nilai pokok yang ditanamkan melalui puasa, antara lain, sabar, syukur, kasih sayang (syafaqah), istikamah, ikhlas, kanaah, amanah, dan mengendali diri (temperance) dan berikut uraian dari beberapa nilai pokok. Pertama sabar. Menurut para mufasir, puasa ialah nishfush shabri atau perwujudan sabar. Islam mengajarkan umatnya berperilaku sabar, yaitu orang yang mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta tabah menghadapi musibah seperti sakit, paceklik, meninggal salah satu anggota keluarga, dan kesulitan hidup. Orang tersebut tahan banting dan tidak mengenal putus asa (istiqamah) dalam melakukan kebaikan dan mencegah keburukan (Ibnu Katsir) dan hanya mencari rida Allah (Al-Mawardi).

Kedua syukur. Melalui puasa rasa syukur ditanamkan. Syukur dapat diwujudkan dimensi akidah (keyakinan), ucapan dan amaliah (memanfaatkan nikmat). Dari sisi akidah, bersyukur berarti kita selalu memperkuat keyakinan bahwa kelebihan yang dimiliki seperti harta benda, kekuasaan atau jabatan dan lainnya merupakan anugerah Allah dan hanya titipan-Nya. Oleh karenanya, pemilik absolut kelebihan--seperti materi, kedudukan, atau ilmu--yang ada pada kita hanya Allah SWT. Rasa syukur melahirkan sikap dan perilaku amanah terhadap anugerah Allah dan sikap rendah hati. Oleh karenanya, tidak ada alasan dan kepantasan bagi mahkluk untuk berperilaku, bersikap dan bertindak sombong, pongah lantaran harta benda, kekuasaan, ilmu pengetahuan atau pengalaman. Syukur juga melahirkan kesediaan berbagi dan membantu orang lain yang mengalami kesulitan sebagai pewujudan memberi manfaat kepada orang lain (masyarakat).

Ketiga ialah syafaqah (kasih sayang, human atau manusiawi). Syafaqah dan rahmah merupakan ciri orang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam tafsir Al-Quthan tentang la'allakum tattaqun. Syafaqah dan rahmah merupakan kemampuan seseorang dalam hubungan antarpribadi atau setara dengan pengertian kecerdasan berganda, yaitu kemampuan memperlakukan orang lain dengan baik dan bersahabat, cinta kasih yang dicirikan dengan sikap dan perlakuan hangat dalam menghadapi orang lain; bersedia berbagi; pemurah, berbuat baik kepada orang lain, membantu orang lain dan penuh perhatian terhadap orang lain.

Demikianlah nilai-nilai utama puasa, semoga kita termasuk orang-orang yang berhasil menggapai tujuan akhir dari puasa. Walallahu ‘alam.

 

Baca Juga

MI/RM Zen

Menanti Langkah Lanjutan Luhut Pandjaitan Bereskan Sengkarut Minyak Goreng

👤Soelistijono, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 16:37 WIB
Ayo wani ngalah, luhur wekasane.  Kita berani mengalah demi kepentingan bersama adalah sikap yang luhur....
MI/SUMARYANTO BRONTO

Cinta Buya Syafii kepada Bangsa

👤Hajriyanto Y Thohari Ketua PP Muhammadiyah 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:10 WIB
BUYA Syafii, panggilan akrab Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif, adalah pengagum berat Mohammad Hatta, wakil presiden pertama kita. Keduanya...
MI/Duta

Thinking of no Box Mengenang Kesederhanaan Buya Syafii Maarif

👤Ahmad Baidhowi AR Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:05 WIB
JUMAT (27/5), di hari yang penuh berkah, Buya Syafii Maarif mengembuskan napas terakhir dan menghadap Allah dengan penuh...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya