Rabu 03 November 2021, 05:00 WIB

Peduli Lindungi dari Penyakit Ginjal Kronis

Djoko Santoso Guru Besar FK Unair, Spesialis Ginjal, Ketua Majelis Kesehatan MUI Jatim | Opini
Peduli Lindungi dari Penyakit Ginjal Kronis

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

‘PEDULI lindungi’ menjadi dua kata yang sangat populer saat ini karena merepresentasikan keberhasilan yang sangat efektif dalam mengerem laju serangan covid-19. Pedulilindungi, website dan aplikasi pemerintah sangat bermanfaat dalam merespons perkembangan covid-19, termasuk melihat informasi vaksinasi covid-19, data swab terakhir, dan pendaftaran vaksinasi tiap-tiap individu.

Dua kata tersebut bermakna agar kita saling peduli dan melindungi diri, termasuk melakukan pelacakan orang yang terinfeksi di kerumunan. Harapannya, kita bisa waspada dan saling melindungi dari paparan covid-19 lebih lanjut.

Semestinya, substansi ‘peduli dan lindungi’ perlu dikembangkan tak hanya untuk penyakit covid-19. Pemerintah dan kita semua perlu memberi perhatian pada semua lini kesehatan terhadap penyakit akut dan kronis, termasuk penyakit ginjal kronis (PGK). Mengingat banyaknya yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam hal sektor yang memengaruhi kesehatan, maka ada baiknya kalau pemerintah bisa menengok pendekatan sektor prioritas yang direkomedasikan oleh komite multidisiplin di Inggris (Smith & Jacobson 1988).

Komite tersebut merekomendasikan sektor prioritas, seperti sektor kebiasaan hidup dan sektor pelayanan kesehatan. Untuk sektor kebiasaan hidup, yang sangat dominan berpengaruh pada kesehatan saat ini poin utamanya ialah rokok, diet, aktivitas fisik, alkohol. Adapun di sektor layanan pencegahan, yang dominan menentukan saat ini poin utamanya ialah layanan ibu hamil, kesehatan gigi, imunisasi, deteksi dini kanker (utamanya payudara dan leher rahim), dan deteksi tekanan darah tinggi.

Mengingat DM dan hipertensi adalah penyebab utama kontribusi pada peningkatan prevalensi PGK, maka sebagian besar dari ini (kecuali soal layanan ibu hamil dan deteksi dini kanker) sangat cocok untuk bisa dijadikan dasar dalam memformulasikan program peduli lindungi PGK.

Bentuk utama dari peduli lindungi, sebelum ada website atau aplikasi khusus PGK, adalah selalu saling mengingatkan merawat ginjal dengan benar, dan memberi sosialisasi apabila seseorang sudah kena gangguan ginjal agar tidak makin berat.

Belajar dari Pedulilindungi, pemerintah atau masyarakat ilmiah wajib terus mengembangkan dan mengintegrasikan layanan website/aplikasi khusus yang lebih luas, termasuk untuk penyakit-penyakit kronis. Seperti Kemenkes dengan mitra organisasi yang baru meluncurkan percontohan program rujukan batuk dengan aplikasi SwipeRX pada Juni 2021. Seperti juga temuan aplikasi ALISA (Automatic Alarm Fluid Control Hemodialysis) yang diciptakan Inda Rian Fatma Putri dari Unair pada 2019.

Begitu pula temuan-temuan aplikasi untuk penyakit kronis lain yang perlu disinergikan agar sikap ‘peduli-lindungi’ makin komprehensif. Kalau mau dikaitkan dengan covid-19, penyakit-penyakit kronis itu adalah komorbid yang perlu dipantau sebagai bagian dari ‘peduli lindungi’ dari fatalitas. Lebih baik saja website/aplikasi yang sudah ada diberi fitur-fitur untuk penyakit-penyakit kronis, termasuk PGK. Dengan begitu, ketika kelak covid-19 mereda, situs itu masih terus memberi manfaat secara lebih luas.

 

Keajaiban ginjal

Kita memang wajib ‘peduli lindungi’ pada ginjal. Kita semua harus selalu sadar sesadar-sadarnya bahwa ginjal itu menakjubkan. Organ sebesar hanya sekepal tangan tersebut tetap jauh lebih ajaib dan unggul ketimbang tiruannya, yakni mesin cuci darah yang sebesar kulkas kecil itu.

Ginjal mampu melakukan banyak tugas penting untuk membuat kita tetap sehat dengan cara bekerja sama di antara berbagai organ tubuh lainnya. Di antaranya, menyeimbangkan air tubuh, menyingkirkan limbah tubuh, menghasilkan hormon, mengatur tekanan darah, berfungsi dalam pembuatan sel darah merah, dan menjaga kesehatan tulang.

Sepintas, hal tersebut enak dimengerti. Namun, kenyataannya ada serentetan permasalahan besar dari proses kehidupan yang begitu kompleks sebagaimana proses biologis lainnya di tubuh.

Hebatnya lagi, dari 1.000 liter darah yang disaring sehari, dihasilkan 100 liter cairan yang semuanya dikembalikan ke tubuh. Dan, akhirnya hanya sisa 1,5 liter akan dibuang menjadi air seni beracun setiap hari! Jumlah ini ada pada mereka yang minum air putih 1,5-2 liter per hari dengan asumsi semua organ tubuh bekerja baik. Dan ketika minumnya di tambah 1 liter lagi, maka urine yang keluar menyesuaikan input airnya hingga menjadi 2,5 liter air seni.

Hal hampir sama secara prinsip ketika yang bersangkutan makan yang terasa sangat asin, maka air seni juga ikut menyesuaikan asupan garam hingga air seni menjadi lebih banyak karena pengeluaran garam butuh pelarut air. Proses yang ajaib yang memungkinkan tubuh senantiasa sehat ini akan menjadi berubah menjadi malapetaka ketika organ ginjal rusak atau organ jantung tak bekerja normal. Malapetakanya berupa sesak hebat yang mengancam nyawa. Bentuk lebih lunak berupa bengkak seluruh tubuh.

Pada Riskesdas 2018, data menunjukkan bahwa prevalensi gagal ginjal kronis pada penduduk usia lebih dari 15 tahun di Indonesia 0,38% atau sekitar 739.208 jiwa. Menurut data BPJS Kesehatan, gagal ginjal menempati urutan keempat setelah penyakit jantung, kanker, dan stroke dengan biaya sebesar Rp2,3 triliun (jantung Rp10,3 triliun, kanker Rp3,5 triliun, dan strok Rp2,5 triliun).

Salah satu penanganan penyakit ginjal yang menelan biaya mahal ialah transplantasi atau cangkok ginjal dan cuci darah atau hemodialisis. Melihat besarnya biaya yang ditanggung pemerintah untuk mengobati permasalahan PGK, perlu dipahami betapa mendesaknya permasalahan penyakit ginjal di negara kita.

Demikianlah sepintas keterangan tentang kerusakan organ yang berpasangan ini hingga berdampak besar di hidup kita. Selanjutnya, perlahan tapi pasti, kerusakan ginjal secara diam-diam akan menggerogoti berbagai sistem di tubuh kita. Kalau di otak bisa jadi strok. Di jantung jadi payah jantung, atau serangan jantung mematikan. Di pembuluh darah kaki, retina mata jadi buta karena retina berdarah dan masih banyak lainnya.

Di balik itu semua, secara segi mental, kesimpulan diagnosis dokter yang menyatakan kerusakan ginjal sangat menghunjam hati para pasien, bak disambar petir di siang benderang.

Singkat kata, jauh lebih banyak pengidap PGK yang menderita, termasuk menderita dalam kesendirian, yang jauh dari sorotan atau pertolongan. Akhirnya, mereka akan mengatasi PGK dengan pilihan mereka sendiri, sesuai dengan kemampuan yang ada. Kalaupun sekarang ada BPJS Kesehatan, selain belum bisa meng-cover semua pasien PGK sesuai harapan, problem ginjal itu bisa membuat jebol pendanaan BPJS.

 

 

Stop menyiksa ginjal

Akan tetapi, bukan berarti jalan sudah buntu. Saatnya kita lebih serius menyambut panggilan nurani untuk mengurangi beban tumbuhnya PGK. Langkah termurah tetaplah menelusuri ‘peta jalan rasional’ via pencegahan (preventif). Itu dibarengi deteksi dini dan pengobatan serta tindak lanjut yang memadai agar tak sampai jadi PGK. Kata kuncinya tetap ‘peduli lindungi’ pada ginjal kita masing-masing.

Minum air yang cukup adalah yang utama dan pasti, hindari rokok, minuman beralkohol, jamu-jamuan yang berlebihan, serta minuman bersoda yang bisa perlahan merusak ginjal. Cermati pula diabetes dan tekanan darah tinggi karena keduanya menjadi faktor risiko utama terjadinya PGK. Hindari faktor-faktor gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko pengembangan penyakit ginjal kronis.

Di luar soal itu, masih ada sisi pencegahan lain yang perlu diperhatikan, yakni perlu mendidik semua kalangan profesional medis tentang peran utama mereka dalam mendeteksi dan mengurangi risiko PGK, terutama pada sasaran orang yang berisiko tinggi. Maka jangka awal, perlunya mendorong program skrining sistematis akan ancaman PGK pada semua pasien dengan diabetes dan hipertensi. Adapun jangka berikutnya ialah mendorong keterlibatan masyarakat untuk sayang ginjal secara lebih aktif. Salah satunya mengaktifkan sistem peduli lindungi dari PGK.

Dalam konteks lebih makro, PGK perlu dipandang sebagai kegagalan terhadap penanganan masalah sosioekonomi. Ini diartikan bahwa PGK tidak dipandang sebagai suatu penyakit yang ditimbulkan hanya oleh penyebab tunggal dan bersifat individual. Meskipun melibatkan agen penyebab (misalnya diabetes dan hipertensi) dan proses biologis, penyakit ginjal kronis itu secara makro tidak bisa dipisahkan dari setting sosialnya.

Alhasil dalam konteks lebih besar, PGK adalah bagian dari ekses masalah sosial. Semakin parah kondisi sosial ekonominya, prevalensinya semakin besar dan bentuk komplikasinya juga semakin berat. Dan ketika ini diperhatikan saat pembuatan kebijakan pencegahan yang lebih makro sifatnya, maka hal tersebut tampak sangat manusiawi dan terdengar enak dalam menurunkan kejadian PGK.

Sekarang ini, masyarakat makin gemar melahap makanan asin. Padahal, seseorang hanya butuh 3-4 gram garam sehari kalau ingin sehat. Lebih dari itu, garam natrium akan membuat ginjal kewalahan merespons dan berakibat naiknya tekanan darah. Jika kondisi ini berjalan terus tanpa berhenti, efeknya akan mempercepat ke gagal ginjal kronis dan berujung pada cuci darah (dialisis), atau cangkok ginjal yang menakutkan.

Saat ini, jaringan restoran cepat saji (yang umumnya rendah serat, suatu kondisi yang jauh dari nilai standarnya sebesar 20-30 gram per orang per hari) dengan cepat merambah di lokasi strategis di tiap kota sebagai konsekuensi perkembangan industri. Begitu juga serbuan minuman energi, tinggi kalori, dan berkarbonasi.

Semua boleh dikatakan ‘menyiksa’ ginjal. Perubahan gaya hidup ini menumbuhkan budaya baru, yaitu kebiasaan dan kesenangan mengonsumsi makanan-minuman dengan kandungan zat-zat yang potensial memicu kerusakan ginjal. Terlalu memanjakan lidah, yang hanya seluas tiga jari, sangat berisiko membuat nestapa ginjal dan hidup kita.

 

 

Peduli lindungi via regulasi

Untuk menekan ekses yang kontraproduktif dari era industri, maka harus ada langkah ‘peduli lindungi’ dari pemerintah. Yakni, pemerintah membuat regulasi agar perusahaan makanan kemasan menakar jumlah kalori yang sesuai dan serat yang cukup.

Kandungan gizi di dalam tiap makanan dan minuman kemasan sangat penting agar tidak mudah berisiko tinggi terjadinya diabetes dan penyakit metabolik lain, serta hipertensi. Jumlah essence atau pewarna kimia yang digunakan juga dibatasi dengan jumlah minimal yang ditoleransi tubuh.

Regulasi bagi perusahaan mengenai kesehatan pegawainya jugalah penting. Bentuk implementasi hidup sehat lain adalah dengan mewajibkan perusahaan melakukan olahraga atau senam bersama satu kali pada jam kerja, juga mewajibkan naik tangga tanpa lift bagi pekerja usia muda bila jaraknya beberapa lantai. Kebijakan-kebijakan seperti itu akan membantu kebugaran para pekerja dalam kegiatan sehari-hari.

Maka, mengenali dan mengaitkan lingkungan sosioekonomi yang berpotensi memicu jumlah penderita gagal ginjal, dan kemudian mereformasinya dengan ketegasan kebijakan negara, merupakan strategi yang realistis, dan itu tidak sulit dilakukan serta rendah biayanya.

Para pihak, seperti otoritas kesehatan, para profesional kesehatan, ulama, pastor, hingga aktivis sosial, dll harus terlibat aktif dalam program itu. Khususnya, otoritas pemerintah kita dorong untuk mengambil tindakan dan berinvestasi dalam skrining ginjal lebih lanjut untuk mengendalikan epidemi PGK. Sistem yang sudah ada perlu diremajakan dengan cara yang lebih inovatif.

Adapun pesan sentralnya ialah gagal ginjal kronis memang penyakit umum dan berbahaya, tapi dapat dicegah dan diobati. Caranya, kita selalu ‘peduli dan lindungi’ ginjal kita dengan hidup yang sehat dan sewajarnya. Utamanya, jangan berlebihan memanjakan lidah untuk menikmati kelezatan. Di balik rasa manis, asin, sedap, dan gurih ada ‘ranjau’ penyakit, dengan maksud agar kita menelannya berlebihan.

Ingatlah, bahwa kita harus merawat anugerah Tuhan di dalam pinggang kita itu. Marilah kita ‘hijrah’ dan canangkan paradigma baru: Menuju kesehatan berbasis pencegahan yang ada dalam ‘peduli lindungi dari PGK!’.

Baca Juga

MI/Duta

Rusuh dan Kisruh di Kazakhstan

👤Guntur Soekarno Pemerhati sosial 🕔Jumat 28 Januari 2022, 05:10 WIB
KAZAKHSTAN belakangan ini diributkan oleh demonstrasi-demonstrasi...
MI/Seno

Menakar Spin-off sebagai Penggerak Industri Asuransi Syariah

👤Bambang Brodjonegoro Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam 2015-2019, Guru Besar FEB UI 🕔Jumat 28 Januari 2022, 05:00 WIB
INDUSTRI keuangan syariah nasional, telah diwarnai sejumlah peristiwa yang bisa dipandang sebagai momentum meningkatnya peran sistem...
Dok. Youtube

Kekerasan dan Pemekaran di Tanah Papua

👤Methodius Kossay Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Trisakti 🕔Kamis 27 Januari 2022, 05:05 WIB
Godaan genit politik memperebutkan kursi empuk kekuasaan baik gubernur, wakil gubernur, bupati, maupun wali kota di tanah Papua ialah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya