Rabu 03 November 2021, 05:05 WIB

Menakrifkan Gaya Kepemimpinan Pendidikan pada Program Sekolah Penggerak

Katman Mahasiswa Program S-3 Universitas Pelita Harapan, Jakarta | Opini
Menakrifkan Gaya Kepemimpinan Pendidikan pada Program Sekolah Penggerak

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

JALAN panjang kondisi pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh persoalan aksesibilitas, hasil belajar murid, dan pemerataan kualitas layanan. Kesenjangan ketiga isu tersebut semakin lebar pada dua tahun terakhir ketika dunia dalam cengkeraman pandemi covid-19.

Becermin dari realitas tanggapan dunia pendidikan terhadap problematik terkait dampak pandemi covid 19, perubahan dunia global dan perkembangan teknologi digital layak menjadi momentum untuk akselerasi dan adaptasi kepemimpinan pendidikan. Pembiasaan cara belajar baru berkembang dengan cepat, dan pada saatnya akan menjadi budaya masyarakat. Kecepatan dan ketepatan respons terhadap dinamika tersebut sangat ditentukan oleh sosok pemimpin. Kepemimpinan pendidikan merupakan salah satu faktor kunci gemilangnya pencapaian hasil belajar murid.

Kinerja suatu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari kepemimpinan dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan memengaruhi suatu situasi tertentu. Menurut Fiedler (Fiedler:1967), kepemimpinan yang efektif akan terjadi jika seorang pemimpin mau belajar menjadi pemimpin yang baik dan peka dalam mengadaptasi perubahan yang terjadi.

Sebelum kondisi pandemi melanda, pemerintah telah mengidentifikasi beberapa konsep untuk mengatasi persoalan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pertama, capaian belajar diarahkan untuk membentuk kemandirian murid dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kedua, memperkecil kesenjangan layanan pendidikan antarstatus sosial ekonomi, kondisi geografis, dan gender. Ketiga, peningkatan kompetensi dan peran guru dalam pengembangan pembelajaran serta pendampingan. Keempat, proses pembelajaran berorientasi pada minat, bakat, dan tingkat capaian belajar murid. Kelima, digitalisasi pengelolaan sumber daya sekolah. Konsep perubahan tersebut dibangun melalui Program Sekolah Penggerak.

Program Sekolah Penggerak, yang mencakup satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, dan SLB, bertujuan menjadi katalisator transformasi pendidikan sehingga dalam jangka waktu tertentu kinerjanya akan meningkat satu level lebih tinggi. Sebagai program yang dijalankan secara kolaboratif, intervensi program tersebut juga ditujukan kepada pemangku kepentingan di daerah melalui pengembangan program kemitraan dan pendampingan.

Sebagaimana tertuang di dalam naskah akademik yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Roger mengungkapkan bahwa Program Sekolah Penggerak dijalankan dalam bentuk intervensi kebijakan dan program peningkatan mutu pendidikan. Menurutnya, sebuah perubahan terdiri atas tiga fase kegiatan, yaitu scale out, scale up, dan scale deep. Lebih lanjut, teori tersebut dijabarkan sebagai strategi replikasi program, sebagaimana dikemukakan oleh Riddell dan Moore (2015). Upaya peningkatan mutu pendidikan sebagai proses panjang telah dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk dan mekanisme yang berbeda-beda.

Pengembangan Program Sekolah Penggerak merujuk pada pengalaman penyelenggaraan program sekolah sebelumnya, yaitu sekolah standar nasional, sekolah berstandar internasional, rintisan sekolah berstandar internasional, sekolah rujukan, dan sekolah model. Pemerintah mengklaim bahwa Program Sekolah Penggerak merupakan transformasi dari program sebelumnya.

Sebagai bentuk transformasi, Program Sekolah Penggerak memiliki beberapa perbedaan dari progran sebelumnya, yaitu pada aspek proses pemilihan dan intervensi yang diberikan. Kelayakannya ditentukan oleh kompetensi kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi dan komitmen kepala daerah. Dengan demikian, baik kepala sekolah maupun pemimpin daerah perlu menguasai kompetensi kepemimpinan yang kreatif, kolaboratif, komunikatif, berpikir kritis, berpikir komputasional, dan pengalaman batin (Nadim Makarim, 2019).

Menurut hasil kajian akademik Kemendikbudristek, salah satu kunci keberhasilan perubahan pengelolaan pendidikan ialah kepemimpinan kepala sekolah. Melalui program tersebut, kesenjangan kualitas belajar murid Indonesia di antara negara-negara di dunia dan kesenjangan antarkelompok diharapkan dapat diperkecil. Dengan asumsi bahwa faktor penentu keberhasilan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia ialah figur kepala sekolah sebagai seorang manajer dan sekaligus leader.

Aspek kompetensi pemimpin yang berpikiran maju, kreatif, dan inovatif harus dapat ditunjukkan oleh para calon manajer, yang diharapkan dapat membawa perubahan fundamental dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan. Dengan demikian, model pemimpin yang diperlukan ialah pemimpin yang mampu membangun paradigma pembelajaran masa depan dan mampu melakukan pembelajaran yang berorientasi pada kepentingan murid. Selain itu, mampu menciptakan lingkungan yang kondusif, melakukan refleksi kepemimpinan, meraih kesuksesan dalam pengembangan pembelajaran di kelas, dan meningkatkan kapasitas secara kolaboratif.

Mengutip pendapat Henry Fayol, salah satu prinsip dalam manajemen ialah adanya division of labour. Hal ini juga sangat dekat dengan pendapat Weber tentang karakteristik birokrasi. Dalam konteks Program Sekolah Penggerak, karakteristik birokrasi tersebut adalah adanya bentuk pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sekolah. Pemerintah pusat sebagai perumus kebijakan meluncurkan sebuah konsep perubahan kepemimpinan pembelajaran dari ketuntasan kurikulum menjadi intructional leadership dengan keberpihakan kepada murid dan mengedepankan kolaborasi.

Selanjutnya, menurut Schoemaker, Krupp, dan Howland (2013), keterampilan esensial yang harus dimiliki oleh pemimpin ialah antisipatif, suka tantangan, interpretatif, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, dan pembelajar. Keterampilan tersebut merupakan modal bagi pemimpin untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap perubahan kepemimpinan yang akan dilakukan. Menurut David Acher dan Alex Cameron, level kolaboratif dapat dikategorikan menjadi tiga spektrum, yaitu low, mutual, high (Acher, Cameron: 2009). Supaya terjadi simbiosis antarpemangku kepentingan, collaborative leadership pada Program Sekolah Penggerak harus mampu menunjukkan level kolaboratif yang tinggi.

Menarik untuk melihat bagaimana gaya kepemimpinan tersebut akan dibentuk dari perspektif paradigma hermeneutika Dilthey, yaitu erlebnis, ausdruck, dan verstehen. Erlebnis adalah sebuah pengalaman yang merupakan alur historis manusia yang terus mengalir tanpa putus sehingga membentuk suatu pengetahuan yang mendalam tapi belum terobjektifikasi. Ausdruck adalah ekspresi hidup yang menghasilkan sesuatu produk. Verstehen adalah proses pemahaman yang bukan sekedar kognitif, tapi menyangkut kompleksitas manusia. Dalam framework paradigma hermeneutika Dilthey, sebuah alur pemikiran merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak pernah terputus.

Secara historis, kepemimpinan pendidikan mengalir secara dinamis dari waktu ke waktu. Pengalaman tersebut akan membentuk pemahaman baru ketika terinteraksikan dengan kompleksitas dan diinterpretasikan terhadap pengalaman diri dan orang lain. Dengan demikian, ketiganya akan menunjukkan keterkaitan kausalitas yang menyebabkan kondisi perubahan dapat terjadi. Para pemimpin Program Sekolah Penggerak akan terlibat dalam sebuah kumparan interpretasi terhadap konsep perubahan kepemimpinan pendidikan yang sedang dibangun.

Tindakan perubahan merupakan ungkapan yang dipengaruhi oleh bagaimana pemimpin memahami kompleksitas pengalaman dan kompleksitas kontekstual sehingga hasil tindakan mampu membawa kepada peningkatan kualitas pendidikan yang dinamis. Pengalaman pelaku perubahan dan kompleksitas berpikir turut menentukan interpretasi terhadap konsep perubahan yang sedang dijalankan.

Hermeneutika Dilthey sebagai sebuah pendekatan historis dapat menunjukkan bahwa perubahan kepemimpinan pada Program Sekolah Penggerak pada akhirnya akan mampu melahirkan pemimpin gaya baru, walaupun tidak menutup kemungkinan sebagian tetap akan mempertahankan model kepemimpinannya. Dengan Program Sekolah Penggerak, kita memiliki asa untuk munculnya model kepemimpinan baru dengan paradigma baru, baik dari pemimpin yang ditempa pada ruang kepemimpinan gaya lama maupun dari bakal pemimpin yang terlahirkan pada ruang kepemimpinan berparadigma baru.

Baca Juga

MI/Ebet

Kebiasaan Makan

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 23 Januari 2022, 05:00 WIB
MARI kita bertamasya ke masa lalu. Masa ketika manusia belum menemukan...
Dok. Pribadi

NU, Demokrasi dan Agenda Peradaban

👤Ahmad Suaedy Dekan Fakultas Islam Nusantara UNUSIA, Jakarta 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 05:00 WIB
PASCAMUKTAMAR ke-34 di Lampung, Nahdlatul Ulama memasuki era...
Dok. Istimewa

NU, Muhammadiyah, dan Tanggung Jawab Sosial

👤Fathorrahman Ghufron Dosen sosiologi hukum Islam pada FSH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 🕔Jumat 21 Januari 2022, 05:35 WIB
PADA akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, terjadi perdebatan metodologi (methodenstrait) di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya