Selasa 20 Oktober 2020, 23:00 WIB

Tatap Muka Di Era Kenormalan Baru

Jefrianus Kolimo, Guru di Pelosok Sabu Raijua, NTT | Opini
Tatap Muka Di Era Kenormalan Baru

Dok.pribadi
Jefrianus Kolimo

SUDAH lebih dari enam bulan masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan virus korona. Segala lini kehidupan dipaksa untuk terus beradaptasi dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Memakai masker dan pelindung wajah, membiasakan diri mencuci tangan, mengukur suhu tubuh serta menjaga jarak fisik adalah beberapa aktivitas baru yang akan menjadi kebiasaan baru dalam keseharian manusia. Bidang usaha dan perkantoran yang selama ini mati suri, mulai kembali beroperasi dan bersolek sesuai standar operasional protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Fenomena ini dinamakan sebagai kenormalan baru. . 
              
Dunia pendidikan pun tidak lepas dari tatanan kenormalan baru. Sejak awal pandemi ini merebak dan melumpuhkan pembelajaran tatap muka di ruang-ruang kelas, model belajar dari rumah (BDR) juga menjadi kenormalan baru dalam dunia pendidikan. Namun harus diakui bahwa BDR di daerah dengan fasilitas infrastruktur pendidikan seadanya sangatlah tidak efektif. Tidak adanya waktu transisi menyebabkan tak ada institusi manapun yang siap dengan model BDR yang 100% baru dalam dunia pendidikan kita. Ada yang cepat beradaptasi sehingga melangsungkan model BDR pada kadarnya masing-masing. Namun secara umum, banyak yang kesulitan bahkan proses belajar ada yang lumpuh total. Tentu ini menghambat hak-hak anak dalam mendapatkan pendidikan yang secara yuridis sudah diatur oleh undang-undang. 

Kajian Bank Dunia menyebutkan lima bulan penutupan sekolah karena covid-19 akan mengakibatkan hilangnya 0,6 tahun sekolah yang disesuaikan dengan kualitas. Siswa-siswa yang berada di daerah terluar dan tertinggalah tentu yang paling dikhawatirkan serta paling dekat dengan risiko ini. Pengalaman penulis yang juga seorang guru di daerah tertinggal pun melihat kekhawatiran yang sama. Kekhawatiran ini terlihat dari respons orang tua siswa yang berbeda-beda saat berdialog dengan pihak sekolah terkait proses belajar selama pandemi. 

Secara umum, respons orang tua siswa pada saat awal virus korona terdeteksi masuk di Indonesia adalah mendukung penutupan sekolah sebagai upaya pencegahan penularan. Pada periode ini kesehatan anak-anak menjadi prioritas yang harus diutamakan. Orang tua berpendapat, toh belajar masih bisa dilakukan dari rumah masing-masing. Namun seiring berjalannya waktu dan pandemi yang belum juga usai, respons orang tua yang awalnya mendukung BDR berbalik menyarankan agar kembali dilangsungkan pembelajaran tatap muka. Respons ini sebagai akibat dari sangat tidak efektifnya metode BDR. 

Di daerah dengan jaringan listrik dan internet yang belum terjangkau, esensi dari proses belajar dengan model BDR sesungguhnya hilang. Selama masa pandemi, banyak guru yang memberikan tugas ke anak hanya berupa kegiatan meringkas dan menjawab pertanyaan tetapi jawaban dapat diperoleh dengan cara googling. Model BDR seperti ini sangatlah mereduksi peran guru sebagai sumber informasi. Kalau pun ada, peran dari guru dirasakan sangat terbatas. Sehingga usulan untuk dibuka kembali ruang-ruang kelas agar kembali dilangsungkan belajar tatap muka kembali mengemuka.
 
Itu sebabnya pemerintah melalui surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri, mengeluarkan panduan penyelenggaraan pembelajaran muka pada zona-zona khusus (hijau dan kuning) dengan tetap mengikuti protokol kesehatan secara ketat. Maka dari itu, sekolah mulai berbenah dengan menerapkan protokol kesehatan. Menyediakan tempat cuci tangan di ruang-ruang kelas, pemberlakuan shift bagi siswa (18 siswa per shift), wajib menggunakan masker di lingkungan sekolah dan lainnya adalah bagian dari protokol kesehatan dan akan menjadi kenormalan baru dalam aktivitas guru dan siswa di sekolah. 

Kenormalan baru dalam proses tatap muka seharusnya tetap memerhatikan mekanisme utama penularan virus korona, yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Satgas Percepatan Penanganan covid-19 sebagai berikut; pertama, percikan air ludah (droplets) dari mulut-mulut atau hidung (saat bersin batuk dan berbicara) dari seorang yang terinfeksi virus korona kepada orang lain. Kedua, partikel kecil di udara (airborne) di lingkungan padat, tertutup dan berventilasi buruk memicu transmisi aerosol yang dihirup seseorang. Ketiga, benda yang terkontaminasi patogen dapat berfungsi sebagai kendaraan dalam menularkan penyakit. Ini karena cairan yang keluar dari bersin, batuk, air liur orang yang terinfeksi virus korona kemudian menimpa benda atau permukaan tersebut tersentuh oleh orang lain sehingga tertular. Virus pada benda atau permukaan dapat bertahan sekitar 3 jam. 

Esensi belajar tatap muka
    
Memang idealnya proses belajar yang baik dilangsungkan dengan tatap muka. Sebab proses pembelajaran dengan tatap muka sangat memungkinkan untuk terjadi interaksi langsung di ruang-ruang kelas. Guru sebagai sumber informasi dapat mengikuti perkembangan anak dalam penyerapan materi hingga sampai melakukan evaluasi akhir. Tatap muka juga dapat memungkinkan penggunaan model-model pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi dan keadaan siswa sehingga penyampaian informasi dapat dilakukan dengan banyak cara yang kreatif. 

Interaksi langsung dan penggunaan model pembelajaran berkelompok di ruang-ruang kelas dapat menimbulkan risiko penularan virus korona apabila tidak ada upaya pencegahan. Sebab interaksi di dalam lingkungan sekolah dapat terjadi baik antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, maupun guru dengan sesama rekan guru.

Berdasarkan persoalan di atas dan melihat mekanisme penularan virus korona, pendapat berikut kiranya dapat diterapkan pada proses tatap muka di era kenormalan baru sebagai upaya pencegahan penularan selama pandemi; pertama, penggunaan masker atau face shield merupakan syarat utama untuk siswa dan guru boleh diizinkan masuk ke lingkungan sekolah. 

Perlu dukungan dari orang tua dan ketegasan dari guru dalam menertibkan penggunaan masker. Yang menjadi persolaan pada daerah-daerah zona hijau dan kuning dengan jumlah kasus yang masih minim adalah penggunaaan masker yang masih belum merupakan suatu ketaatan. Pada zona kuning dan hijau, ketidakpedulian dan kurangnya simpati yang berakibat pada ketidaktaatan masih dilakukan karena seorang masih belum mengalami secara langsung kejadian yang sama atau hampir sama. 

Sekalipun pernah mengalami kejadian yang sama, jika pengalaman tersebut tidak digunakan untuk antisipasi, ketidaktaatan akan sering dilakukan. Oleh karena itu, peran orang tua di rumah sangat dibutuhkan dalam membangun kesadaran siswa dalam penggunaan masker saat ke sekolah. Tugas guru di sekolah pun sama yaitu memastikan masker harus selalu dipakai baik saat proses belajar mengajar, maupun saat siswa berasa di luar kelas atau dalam perjalanan pulang ke rumah. Kelengahan yang terjadi sedikit saja akan sangat berdampak dalam penularan virus yang tidak kasat mata ini. 

Kedua, pemberlakuan shift harus benar-benar diberlakukan untuk mengurangi kepadatan siswa di sekolah. Shift dengan jumlah maksimal siswa sebanyak 18 orang akan menjadi sebuah kenormalan baru dalam proses tatap muka. Sebagai seorang guru, penulis merasakan pembagian shift membuat pembelajaran menjadi lebih mudah terkontrol. Semakin sedikit siswa yang diawasi oleh guru dalam suatu ruang kelas maka kualitas aktivitas belajar mengajar akan semakin baik. 

Jika semua ruang kelas hanya diisi 18 siswa dan seterusnya menjadi sebuah kenormalan baru, masalah ketimpangan akan kualitas pendidikan di Indonesia akan mudah diatasi. Tugas pemerintah nantinya hanya perlu memperbanyak ruang-ruang kelas dan tenaga pengajar. 

Ketiga, penggunaaan model pembelajaran yang memungkinkan terjadinya diskusi berkelompok untuk sementara waktu harus dihindari. Idealnya model-model pembelajaran berkelompok dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar di ruang kelas tetapi di sisi lain dapat menjadi klaster-klaster kecil penyebaran virus korona. Oleh karena itu, model-model pembelajaran yang tidak melibatkan kelompok-kelompok siswa yang perlu digunakan dalam tatap muka di era pandemi ini. Guru di masa pandemi harus mampu berakrobatik mencari caranya masing-masing agar pembelajaran yang efektif dapat terwujud, sekaligus dapat mencegah terjadinya penularan virus korona di ruang kelas.

Keempat, penggunaan buku-buku pelajaran seperti buku siswa di perpustakaan sekolah juga perlu mendapat perhatian. Banyak sekolah yang jumlah buku paket pelajarannya masih sangat terbatas sehingga sering digunakan secara bergilir oleh siswa. Ini perlu dihindari atau diantisipasi. Sebab bisa saja buku-buku pelajaran tersebut yang menjadi media atau sarana pembawa virus saat berlangsungnya tatap muka di sekolah. 

Tatap muka di era kenormalan baru memang sudah menjadi keharusan demi terpenuhnya hak-hak anak dalam mendapat pendidikan. Tetapi di sisi lain kegagalan mencegah penularan virus korona saat berlangsungnya tatap muka akan menimbulkan dua akibat sekaligus. Kesehatan anak dan terabainya pendidikan anak. Karena itu semua elemen pendidikan, khususnya guru dan orang tua siswa, harus terlibat aktif dalam mengawasi dan menjaga anak dalam setiap aktivitas belajarnya. Semoga dengan tatap muka di era kenormalan baru dapat membawa sedikit harapan bagi pendidikan Indonesia di masa pandemi ini. Semoga. 

Baca Juga

DOK PRIBADI

Kepemimpinan Transformasional dan Kecerdasan Emosi

👤Dr. Lisa GraciaKailola, S.Sos., M.Pd, Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia, lisa.gracia@uki.ac.id 🕔Kamis 03 Desember 2020, 10:02 WIB
Riset dan kajian ilmiah yang berkembang dua dekade belakangan ini menunjukkan beberapa fakta bahwa kesuksesan seseorang tidak sepenuhnya...
MI/ 	ROMMY PUJIANTO

Perempuan dan Keadilan Elektoral

👤Titi Anggraini Dewan Pakar Kaukus Perempuan Politik Indonesia, Pembina Perludem 🕔Kamis 03 Desember 2020, 04:50 WIB
DEMOKRASI telah menjadi pilihan yang terinternalisasi dalam berbagai sendi tata kelola pemerintahan...
ANTARA News/HO Tokopedia)

Investasi Asing, Antara Mitos dan Solusi Resesi

👤Leontinus Alpha Edison Co-Founder & Vice Chairman Tokopedia 🕔Kamis 03 Desember 2020, 03:40 WIB
BERBAGAI negara di dunia, termasuk Indonesia, saat ini tengah dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah, yakni melawan pandemi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya