Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah pandemi covid-19, media sosial menjadi pertunjukan orang-orang 'cerdas', yang mungkin kita menjadi salah satunya.
Setiap orang bisa menjadi 'pakar' hanya dengan membagikan artikel, ditambah dukungan beberapa teman di kolom komentar. Padahal orang itu tidak benar-benar 'membacanya'. Kita menggunakan keberlimpahan informasi agar tidak terlihat bodoh dan setara dengan yang lainnya, padahal sebaliknya.
Jurnalis sekaligus penulis novel, Karl Taro Greenfeld (2014), menyebut kondisi ini sebagai pertunjukan 'pengetahuan palsu' yang dibungkus dengan 'kecerdasan palsu. Saat ada artikel pembanding yang menerpanya, orang cenderung bertahan dan tetap meyakini artikel yang dibagikannya itu.
Psikolog sosial Universitas New York, AS, Jonathan Haidt (2014) mengatakan bahwa ketika fakta bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut, hampir semua orang akan bertahan dengan nilai yang dianut dan menolak bukti-bukti yang ada.
Inilah kenapa media sosial hanya membawa kita bergema di ruang kita sendiri alias echo chamber. Sesungguhnya kita 'berteriak-teriak' dan menjadi 'pakar' hanya di lingkungan yang sepaham dengan kita saja. Dukungan teman di kolom komentar bukan karena pengetahuan mereka yang mumpuni, tetapi karena sama-sama tidak tahu dasar informasi itu dihasilkan dan siapa pakar yang sesungguhnya.
Keberlimpahan informasi membawa bias informasi. Bias informasi menghasilkan bias kognitif (bias pengetahuan) dalam diri kita. Bias kognitif membuat kita menilai kemampuan pengetahuan kita lebih besar dari informasi itu.
Semakin mengonsumsi (atau setidak-tidaknya membiarkan diterpa) bias informasi, semakin kita yakin kita cerdas, (celakanya) makin kita tidak menyadari bahwa kita salah. Dari sinilah pintu masuk hoaks bermula dan bisa berkembang.
David Dunning dan Justin Krueger (1999) psikolog di Cornell University, AS, pernah meneliti bagaimana orang yang tak berkeahlian alias tak berkompeten bisa menyita perhatian dengan analisisnya.
Penelitian yang disebut sebagai efek Dunning Krueger itu menyimpulkan, inkompetensi seseorang bisa merampas kemampuannya dalam menyadari kesalahan tersebut. Dunning menyebutnya confident idiots.
Sedikit menyortir
Saat work from home menjenuhkan bagi sebagian dari kita, berselancar di internet dan media sosial bisa menjadi hiburan. Semakin banyak klik yang dilakukan, semakin deras informasi yang kita terima, makin sedikit waktu kita menyortir gempuran informasi tersebut, dan semakin bias informasi menerpa. Bisa jadi efek Dunning Krueger sedang bekerja di otak kita. Tahu-tahu kita merasa tahu banyak dari yang kita ketahui sebelumnya.
Tom Nichols (2017) dalam Matinya Kepakaran menyebut mereka yang menjadi 'pakar dadakan', karena tidak memiliki keahlian dalam 'metakognisi', sebuah kemampuan untuk menyadari kesalahan, dengan mengambil jarak, melihat apa yang sedang anda lakukan, lalu menyadari bahwa Anda salah melakukannya. Kita tenggelam dengan banyak data yang sesungguhnya tidak kita pahami.
Banjir informasi lebih cepat datang menghantam dibandingkan kecepatan kita menyaring, mencerna, menelusuri informasi tersebut. Kondisi ini setidaknya melahirkan dua hal, kabar buruknya, setiap orang bisa menjadi pakar di media sosial. kabar lebih buruknya, setiap pakar bisa 'terbunuh' di media sosial. Harap waspada, virus confident idiots bisa menyerang kita.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Matcha memang kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG) yang bersifat antioksidan.
Cara seseorang mengekspresikan kesedihannya berkaitan erat dengan apa yang dirasa paling menguatkan bagi dirinya sendiri.
Narasi-narasi menyesatkan di media sosial menjadi salah satu pemicu utama keengganan orangtua untuk memberikan vaksinasi kepada anak mereka.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved