Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Sabalenka vs Kyrgios: Sensasi 'Battle of the Sexes' yang Berakhir Antiklimaks

Thalatie K Yani
29/12/2025 06:57
Sabalenka vs Kyrgios: Sensasi 'Battle of the Sexes' yang Berakhir Antiklimaks
Aryna Sabalenka menghadapi Nick Kyrgios dalam laga ekshibisi di Dubai. Meski penuh gimik seperti tarian Macarena, laga ini dinilai gagal memenuhi ekspektasi.(AFP)

GELARAN ekshibisi tenis bertajuk "Battle of the Sexes" yang mempertemukan petenis putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, dengan petenis putra Australia, Nick Kyrgios, resmi berakhir. Bertempat di Coca-Cola Arena, Dubai, Kyrgios menyudahi perlawanan Sabalenka dengan skor kembar 6-3, 6-3.

Meski dipromosikan sebagai duel bersejarah, pertandingan ini justru meninggalkan banyak pertanyaan. Banyak pihak menilai laga ini gagal menyajikan intensitas dan hiburan yang dijanjikan, serta cenderung terlihat sebagai ajang "sport-ertainment" semata.

Gimik di Tengah Lapangan

Sepanjang pertandingan, atmosfer kompetitif terasa sangat tipis. Di set kedua, Sabalenka bahkan sempat meminta timeout di tengah gim kelima bukan untuk instruksi taktis, melainkan untuk berjoget Macarena saat musik diputar di stadion.

Sabalenka, yang baru saja menutup tahun 2024 sebagai petenis putri terbaik dunia setelah memenangi AS Terbuka, menepis kritik bahwa laga ini merusak citra tenis putri. "Saya merasa kami baru saja membawa lebih banyak perhatian pada olahraga kami dan saya tidak melihat bagaimana hal itu bisa berdampak buruk," ujarnya usai laga.

Petenis Belarusia berusia 27 tahun ini juga mengaku menikmati jalannya pertandingan. "Saya merasa luar biasa. Saya pikir saya memberikan perlawanan yang hebat. Saya melakukan banyak pukulan bagus dan sangat menikmati pertunjukannya," tambah Sabalenka.

Misi Kembali Nick Kyrgios 

Bagi Nick Kyrgios, laga ini lebih terasa sebagai latihan publik untuk mempersiapkan comeback resminya ke ATP Tour pada 2026. Kyrgios, yang kini terlempar ke peringkat 671 dunia akibat cedera pergelangan tangan, tampil santai dan cenderung membatasi pergerakannya di lapangan.

"Jujur saja, ini pertandingan yang sangat sulit, dia adalah pemain hebat dan juara yang luar biasa," puji Kyrgios. Ia bersikeras laga ini adalah langkah maju bagi dunia tenis. "Dia baru saja membuktikan bahwa dia bisa turun dan bersaing dengan seseorang yang pernah mengalahkan pemain terbaik sepanjang masa. Hanya hal positif yang bisa diambil dari sini."

Kritik dan Realitas Lapangan 

Meskipun menggunakan label "Battle of the Sexes", laga ini jauh berbeda dengan momen legendaris Billie Jean King melawan Bobby Riggs pada 1973 yang memperjuangkan kesetaraan gender. Pengamat tenis BBC, Russell Fuller, menyamakan ajang ini dengan tren tinju antara YouTuber Jake Paul melawan petenis kawakan. Sebuah acara yang dirancang untuk menarik penonton kasual dan mengaburkan batas antara olahraga serius dan hiburan ringan.

Kritik juga datang dari mantan petenis nomor satu Inggris, Annabel Croft. Menurutnya, laga ini tidak menampilkan level terbaik Sabalenka meski lapangan telah dimodifikasi (dimensi penerima bola dikurangi 9%) untuk memberi keuntungan bagi petenis putri. "Saya merasa ini tidak cukup memamerkan kemampuannya yang kita ketahui. Namun, dia tentu tidak mempermalukan dirinya sendiri dengan cara apa pun," kata Croft.

Meski dihadiri legenda sepak bola Brasil seperti Ronaldo dan Kaka, suasana di arena berkapasitas 17.000 penonton tersebut seringkali terasa hambar. Dengan berakhirnya laga ini, perdebatan mengenai apakah tenis membutuhkan lebih banyak format ekshibisi serupa di masa depan dipastikan akan terus berlanjut. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya