Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kepengurusan Baru PB PSTI Ditetapkan, Dualisme di Sepak Takraw Berakhir

Basuki Eka Purnama
10/12/2025 09:54
Kepengurusan Baru PB PSTI Ditetapkan, Dualisme di Sepak Takraw Berakhir
Ilustrasi--esepak takraw putra Indonesia Rusdi (kiri) menahan tendangan dari pesepak takraw Myanmar Thu Aung Khant (kanan) dalam final quadrant Asian Games 2022.(ANTARA/M Risyal Hidayat)

KOMITE Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) akhirnya berhasil menuntaskan persoalan dualisme kepengurusan cabang olahraga sepak takraw yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi upaya pemulihan prestasi olahraga nasional.

Sekretaris Jenderal KONI, Lukman Djajadikusuma, Selasa (9/12), menjelaskan bahwa kepengurusan baru sepak takraw telah ditetapkan dan dikukuhkan.

“Saat ini, pengurus sepak takraw sudah ditetapkan, yaitu Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PB PSTI) periode 2025-2029 yang dipimpin Ketua Umum Surianto,” jelas Lukman.

Menurut Lukman, kepengurusan PB PSTI yang baru ini telah diakui secara resmi, tidak hanya oleh KONI, tetapi juga oleh KOI dan Federasi Sepak Takraw Internasional (ISTAF). 

Sebagai tindak lanjut pengukuhan tersebut, KONI juga telah mengirimkan surat keputusan personalia PB PSTI periode 2025-2029 kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).

Prioritas Demi Atlet

Lukman menegaskan, sejak awal, KONI menempatkan penyelesaian persoalan dualisme ini sebagai prioritas utama. Langkah tersebut diambil menyusul arahan dari Menpora.

“Kami terus berupaya menyelesaikan sengketa di cabor lainnya di waktu yang tersisa sampai akhir Desember ini,” kata Lukman. 

Ia menambahkan bahwa KONI pada prinsipnya tidak ingin perpecahan terus berlarut karena pada akhirnya akan merugikan dan mengorbankan atlet.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal KOI, Wijaya Noeradi, turut membenarkan keberhasilan penyelesaian dualisme tersebut. Ia mengaku telah melaporkan kepada Menpora mengenai tugas yang telah dilakukan untuk menyelesaikan sengketa kepengurusan sepak takraw, termasuk mengirimkan surat pengakuan KOI terhadap kepengurusan PB PSTI periode 2025-2029.

“Kami juga melaporkan dukungan kepengurusan ini kepada ISTAF,” ujar Wijaya.

Wijaya mengungkapkan bahwa KOI dan KONI mendapat arahan langsung dari Menpora untuk duduk bersama dengan cabang-cabang olahraga guna menuntaskan sengketa kepengurusan.

KOI, lanjutnya, sangat memahami bahwa perpecahan membawa dampak buruk bagi atlet dan menjadi penghalang utama bagi kemajuan prestasi olahraga Indonesia. 

Oleh karena itu, masalah ini harus segera diselesaikan. Wijaya berharap, dengan lahirnya kepengurusan baru, sepak takraw Indonesia dapat membuka lembaran baru yang lebih baik demi torehan prestasi.

Tugas belum Usai

Meskipun telah berhasil menyelesaikan sengketa sepak takraw, Wijaya mengakui bahwa pekerjaan KOI bersama KONI belum sepenuhnya usai. Masih ada tiga cabang olahraga lain yang saat ini dilanda dualisme kepengurusan.

“Tentu tidak berhenti di sini, kami punya tugas di tiga cabang lainnya, yaitu tenis meja, anggar, dan tinju,” ungkap Wijaya. “Sehingga saat ini kami terus menjalankan proses musyawarah untuk menyelesaikan masalah.”

Upaya bersama antara KONI dan KOI ini menjadi indikator positif bagi tata kelola olahraga nasional, menunjukkan komitmen kuat untuk mengutamakan kepentingan atlet dan prestasi Indonesia di kancah internasional. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik