Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
KELLY Catlin, juara dunia balap sepeda tiga kali dan peraih medali perak Olimpiade 2016 asal Amerika Serikat (AS) yang meninggal pada usia 23 tahun, diketahui pernah mengalami gegar otak sebelum mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada 8 Maret lalu.
Christine Catlin, saudara Kelly, kepada Washington Post, Senin (11/3), mengungkapkan serangkaian kecelakaan yang menyebabkan patah tangan dan geger otak, membawa perubahan besar terhadap perilaku Kelly.
"Ia tidak bisa berlatih dengan baik seperti biasa. Ia mengalami sakit kepala berat dan sensitif terhadap cahaya," kata Christine.
"Ia kemudian mencoba bunuh diri pada Januari lalu. Ia menulis surat elektronik panjang kepada keluarga, mengatakan bahwa pikirannya selalu pada lomba. Kami menelpon polisi begitu menerima surat itu dan mereka datang pada waktunya untuk menyelamatkan dia ketika itu," imbuhnya.
Baca juga: Juara Dunia Balap Sepeda Asal AS Tewas Bunuh Diri
Mark, ayah Kelly, pekan lalu, menyatakan putrinya meninggal akibat bunuh diri.
"Satu menit pun tidak pernah kali lewatkan untuk memikirkan tentang dia dan bagaimana menyenangkan kehidupan yang dijalaninya," kata Mark tentang putrinya seperti yang dikutip Velo News.
Gegar otak berhubungan dengan trauma akut yang hanya dapat didiagnosa setelah kematian dan kebanyakan ditemukan pada ratusan mantan pemain American Football.
Gejala tersebut juga kebanyakan ditemukan pada atlet veteran, bukan atlet muda seperti Kelly.
Sebelum nekad mengakhiri hidupnya, Kelly berjasa mengantar AS merebut gelar juara dunia nomor tim pursuit sebanyak tiga kali secara beruntun dari 2016 sampai 2018.
Kelly tidak hanya atlet berprestasi dunia, dia juga sedang mendalami ilmu komputer dan matematika di Universitas Stanford, setelah mendapatkan gelar sarjana di bidang matematika dan Bahasa Tiongkok. Ia juga pemain biola berbakat dan seorang seniman. (OL-2)
Unpad masih menunggu hasil visum setelah seorang mayat pria ditemukan tewas gantung diri di dahan pohon di kawasan kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Kamis (19/2)
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
WHO menekankan mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved