Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Ini Sederet Penyebab Macet hingga 36 Kilometer di Pelabuhan Gilimanuk

Media Indonesia
17/3/2026 15:34
Ini Sederet Penyebab Macet hingga 36 Kilometer di Pelabuhan Gilimanuk
Kendaraan roda empat berbagai jenis sedang antre di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Sabtu (14/3/2026)(ANTARA/HO-Humas Polda Bali.)

ANTREAN kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, sempat mengular hingga 36 kilometer pada H-5 Lebaran 2026. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengungkapkan bahwa kemacetan ekstrem ini disebabkan oleh akumulasi faktor mobilitas masyarakat secara bersamaan.

Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menjelaskan penyebab utama adalah pengguna jasa yang berupaya menyeberang ke Pulau Jawa sebelum penutupan sementara pelabuhan dalam rangka Hari Raya Nyepi pada 18-20 Maret 2026.

"Kepadatan dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat yang berupaya menyeberang lebih awal sebelum penutupan sementara lintasan Gilimanuk-Ketapang," kata Yossianis dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Selain fenomena masyarakat yang mengejar waktu sebelum Nyepi, ASDP mengidentifikasi beberapa faktor teknis lain yang memperparah kondisi di lapangan:

  1. Volume Kendaraan Melampaui Kapasitas: Tercatat sebanyak 23.025 unit kendaraan menyeberang dalam sehari pada H-5, atau meningkat dibanding periode tahun lalu.
  2. Hambatan Jalur Menuju Pelabuhan: Dinamika lalu lintas di sepanjang jalur utama menuju Gilimanuk turut berkontribusi, mulai dari aktivitas masyarakat di area pengisian bahan bakar (SPBU) hingga fasilitas pendukung perjalanan lainnya yang memicu ketersendatan.
  3. Penyempitan Arus: Penumpukan tidak hanya terjadi di area pelabuhan, tetapi juga karena hambatan di sejumlah titik layanan umum di sepanjang jalur menuju kawasan Gilimanuk.

Menyikapi penyebab kemacetan yang kompleks tersebut, ASDP memberlakukan pola operasi "Sangat Padat". General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arif Eko, menyebut pihaknya mengerahkan 34 unit kapal dengan skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB).

"Sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk melayani skema TBB, di mana kapal yang tiba langsung melakukan proses bongkar muatan dan segera kembali berlayar tanpa melakukan pemuatan kendaraan baru, sehingga perputaran kapal menjadi lebih cepat," jelas Arif.

Melalui langkah percepatan ini, antrean yang sebelumnya sempat mencapai 36 kilometer kini mulai berangsur terurai menjadi sekitar 20 kilometer, dengan arus yang dipastikan tetap bergerak meskipun padat.
(Ant/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya