Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Gentengisasi tidak Cocok di Tanah Rawa Kalimantan Selatan

Denny Susanto
05/2/2026 20:05
Gentengisasi tidak Cocok di Tanah Rawa Kalimantan Selatan
Ilustrasi(Antara)

GAGASAN gentengisasi yang dilontarkan Presiden RI Prabowo mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan. Gentengisasi dinilai tidak cocok diterapkan di Kalimantan Selatan yang didominasi lahan rawa atau lahan basah.

Hal ini dikemukakan Pengamat Tata Kota dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Akbar Rahman, Kamis (5/2). 

"Tiga isu yang disampaikan Presiden soal kebersihan, ketertiban visual kota, dan kualitas bangunan, sebenarnya satu benang merah tentang kota yang layak dihuni akan selalu lebih menarik untuk dikunjungi. Pariwisata, investasi, dan kebanggaan warga tumbuh bukan dari gemerlap slogan, tetapi dari lingkungan yang bersih, tertata, dan beradab," tutur Akbar.

Isu ketiga yang paling banyak diperdebatkan adalah soal atap seng dan gagasan gentengnisasi. Secara teknis, atap seng memang menyimpan banyak persoalan seperti panas, bising, dan rentan korosi. Namun, seng juga bertahan karena ia murah dan terjangkau. 

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, seng bukan pilihan estetika, tetapi pilihan ekonomi. Karena itu, revolusi visual bangunan tidak boleh bersifat seragam dan memaksa. Apalagi Indonesia memiliki keragaman kondisi tanah dan budaya bangunan. Di wilayah gambut dan rawa, atap berat seperti genteng tanah liat justru bisa menimbulkan masalah struktural. 

"Contoh bangunan tradisional di berbagai daerah menunjukkan bahwa material lokal yang tepat guna sering kali lebih bijak daripada solusi tunggal yang dipaksakan. Genteng tanah liat tidak selalu cocok diterapkan di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarmasin dan wilayah rawa. Banyak bangunan di kawasan ini berdiri di atas tanah rawa dan gambut yang memiliki daya dukung rendah, sehingga secara teknis membutuhkan material bangunan yang ringan," tambah Akbar.

Sedangkan genteng tanah relatif berat dan berpotensi menambah beban struktur, yang dalam jangka panjang dapat mempercepat penurunan bangunan. 

Lebih Baik Perbaiki Kualitas Bangunan

Oleh karenanya, kebijakan gentengisasi sebaiknya dipahami bukan sebagai kewajiban mengganti semua atap dengan genteng tanah, melainkan sebagai dorongan memperbaiki kualitas bangunan agar lebih sehat, nyaman, dan tertata secara visual. 

"Untuk Kalsel, solusi yang lebih tepat adalah penggunaan material atap ringan namun lebih baik secara termal dan tahan lingkungan lembap, disesuaikan dengan kondisi tanah rawa dan kemampuan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Tantangan Gentengisasi

Di sisi lain, gagasan penggunaan genteng tanah memiliki nilai positif yang tidak kecil. Genteng tanah merupakan produk berbasis sumber daya lokal dan berpotensi dikembangkan sebagai industri rakyat yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, khususnya di daerah yang memiliki bahan baku tanah liat dan tradisi produksi genteng.

Karena itu, gentengisasi dapat dilihat sebagai kebijakan ekonomi dan industri lokal, bukan semata kebijakan teknis bangunan. Tantangannya adalah bagaimana kebijakan ini diterapkan secara selektif dan kontekstual, disesuaikan dengan kondisi tanah, struktur bangunan, dan karakter wilayah. 

Dengan pendekatan yang tepat, tujuan memperbaiki kualitas bangunan dan mendorong ekonomi lokal dapat berjalan beriringan tanpa menimbulkan risiko teknis bagi masyarakat. (DY/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik